beritax.id — Masyarakat terpecah belah oleh pilpres menjadi salah satu gambaran tentang persoalan sosial yang muncul ketika perbedaan pilihan. Adapun dalam menentukan kepemimpinan berkembang menjadi jarak antarsesama warga. Perbedaan pilihan yang semestinya berlangsung sebagai bagian dari kehidupan bersama dapat berubah menjadi kecurigaan, permusuhan, saling menjauh, bahkan memutus hubungan persaudaraan. Dalam kondisi seperti itu, persoalan yang dihadapi masyarakat tidak lagi berhenti pada perbedaan pilihan. Tetapi merambah pada retaknya ikatan sosial yang selama ini menjadi kekuatan kehidupan bersama. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres. Ketika pilihan yang bersifat sementara diperlakukan seolah-olah menjadi identitas permanen yang menentukan siapa yang harus dihormati dan siapa yang harus dijauhi. Karena itu, menjaga persatuan Indonesia membutuhkan upaya untuk mengembalikan kesadaran bahwa hubungan antarmanusia jauh lebih panjang daripada masa pemilihan.
Ketika Perbedaan Pilihan Menjadi Perpecahan
Masyarakat terpecah belah tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dapat tumbuh dari perubahan cara masyarakat berinteraksi dan membangun kepercayaan. Perbedaan pilihan menjadi semakin tajam ketika ruang perjumpaan warga berkurang dan komunikasi lebih banyak berlangsung melalui informasi yang belum tentu mempertemukan manusia secara langsung. Masyarakat terpecah belah juga dapat terjadi ketika keluarga, tetangga, dan kelompok sosial kehilangan kebiasaan berdialog secara terbuka dan saling mendengarkan. Ketika setiap perbedaan segera dianggap sebagai ancaman, hubungan sosial yang semula dibangun atas dasar saling mengenal dapat berubah menjadi hubungan yang penuh kecurigaan. Dalam jangka panjang, keadaan tersebut berpotensi melemahkan rasa memiliki terhadap kehidupan bersama sebagai satu bangsa.
Komunitas Langgar yang Pernah Menjadi Sekolah Kehidupan
Masyarakat terpecah belah perlu dilihat pula dalam konteks perubahan lingkungan sosial yang membentuk karakter generasi. Dalam kehidupan masyarakat pedusunan pada masa lalu, Komunitas Langgar bukan hanya tempat menjalankan kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang pendidikan sosial, budaya, dan pembentukan akhlak. Anak-anak tumbuh dengan melihat secara langsung bagaimana orang dewasa saling membantu, saling mendidik, saling menjaga, dan saling menyelamatkan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres menjadi lebih mudah terjadi. Ketika ruang sosial semacam itu semakin melemah dan anak-anak tidak lagi memiliki pengalaman yang cukup tentang bagaimana perbedaan diselesaikan melalui perjumpaan. Hilangnya ruang bersama membuat pendidikan tentang persaudaraan. Adapun semakin banyak diserahkan kepada lingkungan yang belum tentu memiliki orientasi yang sama terhadap pembentukan karakter.
Prime-Time Menggantikan Ruang Perjumpaan
Masyarakat terpecah belah oleh pilpres juga perlu dibaca melalui perubahan kebiasaan keluarga dalam beberapa puluh tahun terakhir. Ruang perjumpaan yang dahulu diisi percakapan keluarga dan kegiatan masyarakat perlahan. Adapun dapat tergantikan oleh tayangan prime-time televisi serta berbagai bentuk hiburan dari perangkat digital. Perubahan tersebut bukan berarti teknologi harus ditolak. Tetapi perlu disadari bahwa teknologi dapat mengambil ruang yang sebelumnya digunakan untuk bercakap, belajar, bermain, dan membangun hubungan sosial. Masyarakat terpecah belah menjadi semakin sulit dipulihkan apabila anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang minim interaksi langsung dengan tetangga dan komunitasnya. Karena itu, teknologi harus ditempatkan sebagai alat yang membantu kehidupan manusia, bukan sebagai pengganti seluruh ruang sosial tempat manusia belajar menjadi manusia.
Ketakutan terhadap Dunia Luar
Masyarakat terpecah belah oleh pilpres dapat semakin kuat. Ketika masyarakat hidup dalam suasana saling curiga dan melihat dunia luar hanya sebagai sumber ancaman. Kekhawatiran terhadap narkoba, penculikan, kekerasan, pergaulan buruk, dan berbagai bentuk bahaya terhadap anak memang merupakan persoalan yang harus diperhatikan secara serius. Namun, kekhawatiran tersebut tidak semestinya membuat anak sepenuhnya kehilangan kesempatan untuk belajar hidup bersama masyarakat. Masyarakat terpecah belah menunjukkan pentingnya membangun lingkungan yang aman. Sekaligus terbuka agar anak dapat mengenal tetangga, memahami perbedaan, dan belajar bertanggung jawab. Keamanan seharusnya dibangun melalui pengawasan bersama, hubungan sosial yang kuat, serta pendidikan karakter, bukan dengan menutup seluruh pintu interaksi sosial.
Ketika Konsumtivisme Mengisi Ruang Pendidikan
Masyarakat terpecah belah juga berhubungan dengan perubahan orientasi kehidupan yang semakin kuat dipengaruhi oleh konsumtivisme dan hedonisme. Anak-anak menghadapi arus informasi yang terus menerus menawarkan ukuran keberhasilan berdasarkan kepemilikan barang, popularitas, penampilan, kesenangan, dan pengakuan dari orang lain. Dalam pandangan ini, apa yang disebut sebagai “Agama Globalisasi” dapat dipahami sebagai metafora. Adapun untuk menggambarkan sebuah sistem nilai yang menjadikan konsumsi, kecepatan, kemudahan, dan kenikmatan sebagai ukuran utama kehidupan. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres menjadi semakin mudah terjadi. Ketika manusia dibiasakan mengejar kepentingan diri sendiri dan kehilangan pengalaman tentang berbagi serta hidup untuk kepentingan bersama. Karena itu, pendidikan anak tidak cukup hanya memberikan kemampuan akademik dan teknologi. Tetapi juga harus menanamkan kesederhanaan, kepedulian, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama.
Menjaga Anak dari Krisis Karakter
Masyarakat terpecah belah pada akhirnya tidak hanya menyangkut hubungan antarkelompok orang dewasa. Tetapi juga menyangkut warisan nilai yang diterima generasi berikutnya. Anak-anak dapat menyerap pertengkaran orang dewasa, bahasa permusuhan, kebiasaan mencela, dan cara memandang orang lain berdasarkan perbedaan pilihan. Jika pola tersebut terus berlangsung, anak berisiko kehilangan kesempatan. Adapun untuk memahami bahwa manusia memiliki martabat yang harus dihormati meskipun memiliki pandangan yang berbeda. Masyarakat terpecah belah karena itu harus dihentikan dari lingkungan keluarga agar kebencian tidak diwariskan sebagai kebiasaan antargenerasi. Peringatan tentang manusia yang dapat “melorot ke level kebinatangan” lebih tepat dipahami sebagai peringatan keras mengenai hilangnya kendali moral, empati, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Menghidupkan Kembali Komunitas Langgar
Masyarakat terpecah belah membutuhkan jawaban yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menyentuh kembali akar kehidupan sosial masyarakat. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menghidupkan kembali Komunitas Langgar sebagai ruang perjumpaan lintas generasi yang menggabungkan pendidikan keagamaan, pendidikan sosial, pendidikan budaya, dan pembentukan karakter. Komunitas Langgar dapat menjadi tempat anak-anak belajar mengaji, berdiskusi, bekerja bersama, membantu warga yang membutuhkan, serta mengenal kembali tradisi saling menjaga. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres dapat dipulihkan apabila warga memiliki ruang untuk kembali bertemu tanpa harus membawa label pilihan masing-masing. Dengan demikian, Komunitas Langgar bukan sekadar menghidupkan kembali bentuk masa lalu. Melainkan membangun kembali fungsi sosial yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Keluarga Harus Mengambil Kembali Peran Pendidikan
Masyarakat terpecah belah oleh pilpres juga menuntut keluarga untuk memperkuat kembali perannya sebagai tempat pertama pembentukan karakter. Orang tua perlu memberikan contoh bahwa perbedaan pilihan tidak boleh menjadi alasan. Adapun untuk menghina, memutus silaturahmi, atau memperlakukan orang lain sebagai musuh. Percakapan keluarga mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di masyarakat perlu diarahkan pada pembelajaran tentang tanggung jawab, keadilan, kesopanan, dan penghormatan terhadap perbedaan. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres dapat dicegah apabila anak melihat langsung bahwa orang tuanya tetap menghormati saudara, tetangga, dan teman meskipun tidak memiliki pilihan yang sama. Pendidikan semacam ini jauh lebih kuat karena anak tidak hanya mendengar nasihat, tetapi menyaksikan praktik persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari.
Membangun Literasi Digital dan Budaya Dialog
Masyarakat terpecah belah oleh pilpres pada era digital juga membutuhkan kemampuan untuk menyaring informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Anak-anak dan orang dewasa perlu dibiasakan memeriksa sumber informasi, membedakan fakta dari opini, mengenali provokasi. Serta tidak mudah menyebarkan materi yang merendahkan kelompok lain. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres akan semakin sulit dipulihkan jika ruang digital terus dipenuhi informasi yang mendorong kemarahan dan permusuhan. Karena itu, keluarga, sekolah, komunitas, dan lembaga pendidikan perlu mengajarkan etika komunikasi digital sebagai bagian dari pendidikan kewargaan dan pembentukan karakter. Teknologi dapat menjadi kekuatan yang mempertemukan manusia apabila digunakan untuk berbagi pengetahuan, membangun kerja sama, dan memperluas kepedulian sosial.
Mengembalikan Tradisi Saling Menolong
Masyarakat terpecah belah oleh pilpres tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta masyarakat agar kembali rukun melalui seruan moral. Persatuan harus dibangun melalui pengalaman nyata bahwa setiap orang membutuhkan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan gotong royong, membantu warga yang mengalami kesulitan, kerja bakti, kegiatan anak muda, pengajian, forum keluarga, dan aktivitas kebudayaan dapat menjadi sarana untuk mempertemukan kembali masyarakat. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres akan kehilangan daya rusaknya apabila warga memiliki begitu banyak hubungan sosial yang dibangun melalui kerja bersama dan kepedulian nyata. Dari pengalaman tersebut, masyarakat dapat memahami bahwa perbedaan pilihan hanyalah salah satu bagian kecil dari kehidupan yang jauh lebih luas.
Persatuan Indonesia Harus Menjadi Tujuan Bersama
Masyarakat terpecah belah oleh pilpres menjadi peringatan bahwa persatuan tidak boleh hanya dipahami sebagai slogan, tetapi harus hadir dalam hubungan sosial sehari-hari. Persatuan Indonesia akan memiliki kekuatan apabila masyarakat memiliki fondasi keluarga yang sehat, lingkungan sosial yang saling menjaga, pendidikan karakter yang kuat, serta ruang perjumpaan yang terbuka bagi semua warga. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres tidak boleh dibiarkan menjadi keadaan permanen yang membuat seseorang memandang tetangganya berdasarkan pilihan yang pernah dibuat dalam satu momentum. Setelah proses pemilihan selesai, masyarakat tetap harus hidup bersama, bekerja bersama, mendidik anak bersama, menjaga lingkungan bersama, dan menghadapi persoalan kehidupan bersama. Karena itu, ukuran keberhasilan kehidupan berbangsa tidak hanya terletak pada terselenggaranya pemilihan. Tetapi juga pada kemampuan masyarakat mempertahankan persaudaraan setelah seluruh proses tersebut berakhir.
Dari Perpecahan Menuju Persaudaraan
Masyarakat terpecah belah oleh pilpres pada akhirnya harus dijawab dengan kerja panjang. Hanya untuk mengembalikan manusia kepada kehidupan sosial yang saling menghormati. Ancaman terbesar bagi persatuan bukan semata-mata adanya perbedaan, melainkan ketika perbedaan kehilangan ruang dialog dan berubah menjadi permusuhan. Komunitas Langgar, keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat menjadi benteng bersama untuk memastikan anak-anak tidak tumbuh dalam budaya saling mencurigai. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres harus diubah menjadi masyarakat yang mampu berbeda tanpa kehilangan kasih sayang, mampu berdebat tanpa saling merendahkan, dan mampu menentukan pilihan tanpa memutus persaudaraan. Dengan menghidupkan kembali tradisi saling menolong, mendidik, menjaga, dan menyelamatkan, persatuan Indonesia dapat dibangun dari lingkungan paling dekat hingga kehidupan kebangsaan yang lebih luas.



