By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Wednesday, 9 September 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Perebutan Kursi Kekuasaan Berakhir, tetapi Masyarakat Terpecah Belah oleh Pilpres
Pemerintah

Perebutan Kursi Kekuasaan Berakhir, tetapi Masyarakat Terpecah Belah oleh Pilpres

Diajeng Maharini
Last updated: September 8, 2026 1:39 pm
By Diajeng Maharini
Share
14 Min Read
SHARE

beritax.id — Perebutan kursi kekuasaan dalam pemilihan presiden pada akhirnya akan berakhir ketika hasil pemilihan telah ditetapkan dan pemerintahan mulai berjalan. Namun, persoalan yang lebih panjang dapat muncul ketika perbedaan pilihan meninggalkan jarak di antara warga, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres menjadi sebuah alarm sosial ketika pilihan yang semestinya bersifat sementara justru berubah menjadi kecurigaan, permusuhan, dan renggangnya hubungan antarsesama. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa berakhirnya proses pemilihan belum tentu berarti berakhir pula dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Perebutan kursi dapat selesai dalam hitungan waktu, tetapi luka sosial yang muncul akibat perpecahan membutuhkan proses panjang untuk dipulihkan.

Contents
Kursi Kekuasaan Berakhir, Luka Sosial Belum Tentu SelesaiKomunitas Langgar yang Pernah Menjadi Sekolah KehidupanPrime-Time Menggantikan Ruang PerjumpaanKetika Dunia Luar Dipenuhi KecurigaanKonsumtivisme dan Hedonisme Mengisi Ruang yang KosongPerebutan Kursi Jangan Mengorbankan Hubungan SosialMenghidupkan Kembali Komunitas LanggarKeluarga Menjadi Benteng PertamaMenyembuhkan Luka dengan PerjumpaanKursi Boleh Berganti, Persaudaraan Harus Tetap Ada

Kursi Kekuasaan Berakhir, Luka Sosial Belum Tentu Selesai

Masyarakat terpecah belah oleh pilpres perlu dilihat sebagai persoalan yang lebih luas daripada sekadar perbedaan pilihan dalam sebuah pemilihan. Ketika warga mulai menilai tetangga berdasarkan pilihan yang pernah diberikan, hubungan sosial dapat berubah menjadi hubungan yang penuh kecurigaan. Perbedaan yang seharusnya berlangsung secara wajar dapat berkembang menjadi pelabelan terhadap kelompok tertentu. Bahkan hubungan keluarga dan persahabatan dapat ikut terganggu apabila pilihan dalam pemilihan dijadikan ukuran untuk menentukan siapa yang layak dipercaya. Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa masyarakat membutuhkan fondasi persaudaraan yang lebih kuat agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

Masyarakat terpecah belah oleh pilpres juga menunjukkan adanya persoalan dalam cara masyarakat mengelola perbedaan. Setiap warga memiliki pengalaman, pertimbangan, dan pandangan yang tidak selalu sama dengan warga lainnya. Perbedaan semacam itu seharusnya tidak menghilangkan kewajiban untuk saling menghormati dan saling membantu. Kehidupan masyarakat tidak berhenti ketika pemungutan suara selesai karena warga tetap tinggal di lingkungan yang sama dan menghadapi persoalan sehari-hari secara bersama. Karena itu, hasil pemilihan seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghentikan hubungan sosial yang telah dibangun jauh sebelum masa pemilihan berlangsung.

Komunitas Langgar yang Pernah Menjadi Sekolah Kehidupan

Beberapa puluh tahun terakhir membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk berkurangnya ruang perjumpaan yang dahulu menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Komunitas Langgar pada masa lalu tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang pendidikan bagi anak-anak dan masyarakat. Di lingkungan tersebut, anak-anak belajar mengenal kehidupan melalui hubungan langsung dengan orang tua, tetangga, tokoh masyarakat, dan lingkungan sosialnya. Mereka belajar saling menolong, mendidik, menjaga, dan menyelamatkan melalui pengalaman nyata. Masyarakat dengan demikian berfungsi sebagai keluarga besar yang ikut bertanggung jawab terhadap pertumbuhan generasi berikutnya.

Masyarakat terpecah belah oleh pilpres menjadi persoalan yang perlu direnungkan ketika ruang sosial semacam Komunitas Langgar semakin kehilangan perannya. Dahulu, perbedaan antarwarga dapat dikelola melalui perjumpaan yang berlangsung setiap hari. Warga saling mengenal bukan hanya berdasarkan pendapat atau pilihan, tetapi berdasarkan pengalaman hidup bersama. Ketika seseorang sakit, tetangga datang membantu, ketika ada pekerjaan bersama, warga bergotong royong, dan ketika terjadi persoalan, masyarakat mencari jalan keluar melalui pertemuan. Pola kehidupan semacam itu menciptakan modal sosial yang membuat perbedaan tidak mudah berubah menjadi permusuhan.

Prime-Time Menggantikan Ruang Perjumpaan

Perubahan kehidupan keluarga juga ditandai dengan semakin kuatnya kehadiran tayangan prime-time televisi yang mengambil ruang perhatian masyarakat. Waktu yang dahulu dapat digunakan untuk bercengkerama dengan tetangga, bermain bersama, belajar di lingkungan, atau mengikuti kegiatan masyarakat kemudian banyak dihabiskan di depan layar. Perkembangan teknologi digital memperluas perubahan tersebut melalui telepon pintar, media sosial, dan berbagai bentuk hiburan yang dapat diakses kapan saja. Teknologi tentu memiliki manfaat besar bagi kehidupan manusia, tetapi persoalan muncul ketika teknologi menggantikan hubungan sosial secara berlebihan. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres dapat menjadi salah satu gambaran dari dampak ketika ruang perjumpaan langsung semakin lemah sementara ruang informasi yang penuh pertentangan semakin kuat.

You Might Also Like

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi
Purbaya Janji Tak Ada Kebijakan Aneh, Partai X: Kebijakan Nyata Untuk Rakyat!
Pasar Saham Terjun Bebas! Partai X Soroti Ada Kepentingan di Balik Krisis?
Biaya Politik Tinggi: Ketika Uang Rakyat Diputar untuk Menguatkan Oligarki Pemerintah!

Anak-anak juga menghadapi lingkungan informasi yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka dapat menerima berbagai macam pesan, gambar, video, pendapat, dan gaya hidup dalam waktu yang sangat cepat. Tanpa pendampingan keluarga dan lingkungan sosial, arus tersebut dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri, orang lain, dan dunia di sekitarnya. Kekhawatiran terhadap narkoba, penculikan, kekerasan, dan pergaulan buruk memang harus dihadapi dengan kewaspadaan. Namun, perlindungan tidak seharusnya membuat anak kehilangan kesempatan untuk belajar hidup bersama masyarakat yang sehat dan saling menjaga.

Ketika Dunia Luar Dipenuhi Kecurigaan

Ketika semua yang berada di luar rumah dipandang sebagai ancaman, hubungan antara keluarga dan masyarakat dapat semakin renggang. Anak-anak akhirnya lebih banyak berada dalam ruang yang dianggap aman, tetapi kehilangan pengalaman sosial yang penting bagi pembentukan karakter. Mereka tidak cukup hanya dilindungi dari berbagai risiko, tetapi juga perlu dibekali kemampuan untuk menghadapi kehidupan dengan akal sehat dan tanggung jawab. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres menunjukkan bahwa rasa aman tidak hanya dibangun dengan menjauhkan manusia dari lingkungan, tetapi juga dengan menciptakan lingkungan yang aman untuk perjumpaan. Masyarakat yang saling mengenal dan saling menjaga akan lebih kuat menghadapi berbagai ancaman dibandingkan masyarakat yang hidup dalam kecurigaan.

Karena itu, membangun kembali kepercayaan sosial menjadi kebutuhan penting setelah proses pemilihan berakhir. Warga perlu memiliki kesempatan untuk kembali bertemu dalam kegiatan yang tidak berkaitan dengan pilihan masing-masing. Kegiatan sosial, kerja bakti, pendidikan anak, kegiatan keagamaan, olahraga, kebudayaan, dan bantuan kepada warga yang membutuhkan dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kembali masyarakat. Dalam kegiatan semacam itu, warga menemukan bahwa mereka memiliki banyak kepentingan bersama yang jauh lebih besar daripada perbedaan pilihan. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres dapat perlahan dipulihkan ketika hubungan sosial kembali dibangun melalui pengalaman bersama.

Konsumtivisme dan Hedonisme Mengisi Ruang yang Kosong

Persoalan masyarakat tidak berhenti pada perbedaan pilihan, karena terdapat perubahan nilai yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Konsumtivisme dapat membuat manusia semakin menempatkan kepemilikan barang sebagai ukuran keberhasilan, sementara hedonisme dapat mendorong pencarian kesenangan sebagai tujuan utama. Ketika pendidikan sosial dan budaya semakin lemah, anak-anak dapat lebih mudah menerima ukuran keberhasilan yang datang dari tayangan dan lingkungan informasi. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres harus ditempatkan dalam konteks tersebut karena masyarakat yang kehilangan orientasi kebersamaan akan lebih mudah terseret ke dalam kepentingan pribadi. Jika kepedulian sosial melemah, perbedaan kecil pun dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Dalam pandangan yang menggunakan istilah “Agama Globalisasi”, perubahan tersebut dipahami sebagai kecenderungan peradaban yang semakin menempatkan teknologi, konsumsi, kesenangan, dan pencapaian material sebagai pusat kehidupan. Istilah tersebut merupakan sebuah kritik terhadap arah perubahan nilai, bukan penolakan terhadap ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi. Persoalan utama muncul ketika kemajuan tidak diimbangi dengan akhlak, tanggung jawab, pengendalian diri, dan kepedulian terhadap sesama. Anak-anak membutuhkan pendidikan yang membuat mereka mampu menggunakan kemajuan tanpa kehilangan martabat kemanusiaannya. Peringatan mengenai manusia yang semakin kehilangan kendali moral perlu dipahami sebagai seruan untuk memperkuat karakter, bukan sebagai penilaian bahwa anak-anak secara harfiah kehilangan kemanusiaannya.

Perebutan Kursi Jangan Mengorbankan Hubungan Sosial

Masyarakat terpecah belah oleh pilpres menjadi sebuah peringatan ketika perebutan kursi kekuasaan membuat masyarakat lupa bahwa kehidupan mereka jauh lebih panjang daripada masa pemilihan. Para pihak yang berkontestasi dapat berganti, jabatan dapat berpindah, dan proses pemilihan dapat berakhir. Namun, warga tetap menjadi tetangga, saudara, teman, dan bagian dari komunitas yang sama. Karena itu, persaudaraan tidak boleh dikorbankan demi pilihan yang sifatnya sementara. Perbedaan pilihan harus ditempatkan secara proporsional agar tidak menjadi alasan untuk merusak hubungan sosial.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa menerima perbedaan tidak berarti kehilangan prinsip. Seseorang tetap dapat memiliki keyakinan dan pilihan sendiri sambil menghormati hak orang lain untuk mengambil pilihan berbeda. Perdebatan mengenai gagasan dapat dilakukan tanpa merendahkan pribadi. Kritik dapat disampaikan tanpa menyebarkan kebencian. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres hanya akan semakin sulit dipulihkan apabila perbedaan terus dipelihara sebagai identitas permusuhan.

Menghidupkan Kembali Komunitas Langgar

Salah satu solusi yang dapat ditempuh adalah menghidupkan kembali Komunitas Langgar sebagai ruang perjumpaan masyarakat. Komunitas Langgar dapat dikembangkan menjadi tempat pendidikan sosial, budaya, keagamaan, dan pembentukan karakter generasi muda. Kegiatan dapat berupa pengajian, belajar bersama, diskusi keluarga, kegiatan kebudayaan, kerja bakti, pendampingan anak, pelayanan sosial, dan berbagai kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres membutuhkan ruang semacam itu agar warga dapat kembali bertemu sebagai sesama manusia tanpa membawa sekat pilihan. Perjumpaan yang dilakukan secara rutin dapat membangun kembali rasa saling mengenal, saling percaya, dan saling membutuhkan.

Generasi muda harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses tersebut. Anak-anak dan remaja tidak cukup hanya menerima nasihat mengenai persaudaraan, tetapi perlu mengalami sendiri bagaimana kehidupan bersama dijalankan. Mereka dapat dilibatkan dalam kegiatan sosial, membantu warga lanjut usia, menjaga lingkungan, mengadakan kegiatan belajar, serta bekerja bersama dalam berbagai kegiatan masyarakat. Pengalaman tersebut akan memberikan pendidikan karakter yang konkret. Dengan demikian, masyarakat terpecah belah oleh pilpres dapat dijawab melalui pendidikan yang menghubungkan kembali anak dengan keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Keluarga Menjadi Benteng Pertama

Keluarga juga perlu mengambil kembali peran utamanya sebagai tempat pembentukan karakter. Orang tua dapat mengajarkan kepada anak bahwa perbedaan pilihan tidak boleh menentukan nilai seseorang sebagai manusia. Anak perlu melihat contoh nyata dari orang dewasa yang tetap menghormati tetangga meskipun memiliki pilihan berbeda. Keluarga juga perlu menciptakan ruang dialog agar anak dapat menyampaikan pertanyaan dan kegelisahannya mengenai berbagai informasi yang mereka terima. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres akan lebih mudah dicegah apabila sejak dari rumah anak dibiasakan untuk menghormati perbedaan dan mengutamakan hubungan baik.

Penggunaan televisi dan media digital juga perlu disertai pendampingan yang sehat. Orang tua dapat mengatur waktu layar, mengajak anak berdiskusi mengenai isi tayangan, dan mengajarkan kemampuan memeriksa informasi. Anak perlu memahami bahwa tidak semua informasi yang menarik berarti benar dan tidak semua perbedaan pendapat harus dibalas dengan kemarahan. Waktu keluarga juga perlu diisi dengan kegiatan nyata yang memperkuat hubungan antaranggotanya. Dengan keseimbangan tersebut, teknologi tetap dapat digunakan untuk memperoleh pengetahuan tanpa mengambil seluruh ruang yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya hubungan manusia.

Menyembuhkan Luka dengan Perjumpaan

Luka sosial yang muncul setelah pemilihan membutuhkan penyembuhan melalui tindakan nyata. Masyarakat tidak cukup hanya diminta melupakan perbedaan, tetapi perlu diberikan kesempatan untuk membangun pengalaman baru yang positif bersama. Warga yang berbeda pilihan dapat dipertemukan dalam kegiatan sosial yang berorientasi pada kebutuhan lingkungan. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres dapat mulai dipulihkan ketika warga menyadari bahwa persoalan kehidupan sehari-hari membutuhkan kerja sama semua pihak. Kebersihan lingkungan, pendidikan anak, kepedulian terhadap warga yang membutuhkan, dan berbagai persoalan sosial lainnya tidak mengenal perbedaan pilihan.

Tokoh masyarakat juga memiliki peran penting dalam proses pemulihan tersebut. Mereka dapat mengajak warga menggunakan bahasa yang menenangkan, menghindari penghinaan, dan membuka ruang dialog setelah masa pemilihan selesai. Informasi yang berpotensi memperbesar permusuhan perlu diperiksa sebelum disebarkan. Perbedaan pandangan harus diarahkan menjadi pembelajaran, bukan menjadi alasan untuk mempermalukan pihak lain. Dengan demikian, masyarakat terpecah belah oleh pilpres dapat berubah menjadi masyarakat yang semakin matang dalam mengelola perbedaan.

Kursi Boleh Berganti, Persaudaraan Harus Tetap Ada

Pada akhirnya, perebutan kursi kekuasaan memiliki batas waktu, sedangkan kehidupan masyarakat terus berjalan. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres menjadi pengingat bahwa tidak ada jabatan yang seharusnya lebih berharga daripada hubungan antarmanusia. Pilihan dapat berubah, pemimpin dapat berganti, dan proses pemilihan dapat berulang, tetapi keluarga serta masyarakat harus tetap menjadi tempat manusia saling menjaga. Karena itu, pekerjaan besar setelah pemilihan bukan hanya menjalankan pemerintahan, tetapi juga memulihkan hubungan sosial yang mungkin terluka. Persaudaraan harus ditempatkan sebagai kekuatan utama yang menjaga masyarakat tetap utuh.

Solusi tersebut harus dimulai dari hal yang paling dekat dengan kehidupan warga. Keluarga perlu menjadi benteng pendidikan karakter, Komunitas Langgar perlu kembali menjadi ruang belajar sosial, dan masyarakat perlu memperbanyak kegiatan yang mempertemukan warga dalam suasana saling menolong. Anak-anak juga perlu dikembalikan kepada kehidupan sosial yang sehat agar mereka tidak sepenuhnya dibentuk oleh tayangan, konsumsi, dan arus informasi yang tidak terarah. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres harus menjadi alarm untuk membangun kembali masyarakat yang saling mengenal, saling menghormati, saling mendidik, dan saling menjaga. Ketika kursi kekuasaan berganti tetapi persaudaraan tetap hidup, masyarakat telah menunjukkan bahwa kehidupan bersama jauh lebih besar nilainya daripada perebutan kekuasaan yang hanya berlangsung sementara.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Memahami Sistem Bangsa: Menguak Akar Negara dalam Buku Free Indonesia Save Nusantara Jilid 1
Next Article Masyarakat Terpecah Belah oleh Pilpres dan Ancaman Retaknya Persatuan Indonesia

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Saat Anak Muda Belajar Menjadi Pahlawan di Era Informasi

November 14, 2025
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris meminta Badan Gizi Nasional (BGN) segera mencabut izin Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
Pemerintah

SPPG Lalai, Komisi IX Minta Cabut Izin, Partai X: Desak Jangan Lunak pada Perusahaan Abai Nyawa!

July 29, 2025
Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Indramayu berkolaborasi dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jawa Barat
Pemerintah

Disnaker Gandeng BPSDM Jabar, Partai X Soroti Penguatan Budaya Kerja ASN

December 2, 2025
Pemerintah

Ketika Kritik Dibatasi, Praktik Pemerintahan di Indonesia Dipertanyakan

May 6, 2026
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.