By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Wednesday, 9 September 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Masyarakat Terpecah Belah oleh Pilkada: Rakyat Bertengkar, Siapa yang Berkuasa?
Pemerintah

Masyarakat Terpecah Belah oleh Pilkada: Rakyat Bertengkar, Siapa yang Berkuasa?

Diajeng Maharini
Last updated: September 8, 2026 1:39 pm
By Diajeng Maharini
Share
15 Min Read
SHARE

beritax.id — Fenomena masyarakat terpecah belah oleh pilkada kembali menempatkan persatuan warga sebagai persoalan penting yang perlu diperhatikan setelah proses pemungutan suara berakhir. Perbedaan pilihan yang semula berada dalam ruang penentuan kepemimpinan dapat merembet menjadi pertengkaran di tengah keluarga, lingkungan tetangga, komunitas, hingga pertemanan. Ketika warga mulai saling mencurigai hanya karena pilihan yang berbeda, hubungan sosial yang selama bertahun-tahun dibangun dapat rusak dalam waktu singkat. Pertanyaan yang kemudian muncul bukan hanya siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam pemungutan suara, tetapi juga siapa yang diuntungkan ketika rakyat justru sibuk bertengkar satu sama lain. Sebab, ketika masyarakat kehilangan persatuan, kekuatan warga untuk mengawasi, menilai, dan memperjuangkan kepentingan bersama juga dapat ikut melemah.

Contents
Ketika Rakyat Bertengkar, Persatuan Menjadi TaruhanSiapa yang Berkuasa Ketika Rakyat Terpecah?Komunitas Langgar yang Pernah Menjadi Sekolah KehidupanPrime-Time Menggantikan Ruang PerjumpaanDunia Luar Tidak Boleh Hanya Dipandang sebagai AncamanKetika Konsumtivisme Mengambil Alih PendidikanPerbedaan Pilihan Tidak Boleh Menjadi Alat PermusuhanMenghidupkan Kembali Komunitas LanggarKeluarga Harus Mengambil Kembali PerannyaRakyat Harus Berhenti Bertengkar dan Kembali BersatuDemokrasi Harus Kembali kepada Rakyat

Ketika Rakyat Bertengkar, Persatuan Menjadi Taruhan

Masyarakat terpecah belah oleh pilkada menunjukkan bahwa persoalan terbesar tidak selalu berhenti pada perbedaan pilihan, melainkan pada bagaimana perbedaan tersebut dikelola dalam kehidupan bersama. Warga yang sebelumnya saling membantu dapat mulai menjaga jarak karena perbedaan pilihan. Percakapan sehari-hari yang dahulu berlangsung sederhana dapat berubah menjadi perdebatan yang penuh emosi. Pertemuan keluarga bahkan dapat kehilangan kehangatannya ketika pilihan dalam pemungutan suara dijadikan ukuran untuk menilai seseorang. Jika keadaan tersebut terus berlangsung, masyarakat akan semakin mudah terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling berhadapan.

Padahal, kehidupan masyarakat tidak berhenti ketika pemungutan suara selesai. Orang yang berbeda pilihan tetap akan bertemu sebagai tetangga, rekan kerja, saudara, sahabat, dan sesama warga. Mereka tetap membutuhkan bantuan ketika menghadapi musibah, membutuhkan kerja sama ketika lingkungan mengalami persoalan, serta membutuhkan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, perbedaan pilihan tidak semestinya menghapus hubungan sosial yang sudah terbangun jauh sebelum pemungutan suara berlangsung. Demokrasi seharusnya menjadi cara mengelola perbedaan tanpa menghancurkan persaudaraan.

Siapa yang Berkuasa Ketika Rakyat Terpecah?

Pertanyaan mengenai siapa yang berkuasa ketika rakyat bertengkar perlu ditempatkan sebagai pertanyaan kritis tentang kekuatan masyarakat. Ketika warga sibuk mempertentangkan pilihan satu dengan pilihan lainnya, perhatian mereka dapat bergeser dari persoalan yang lebih mendasar. Kebutuhan mengenai pendidikan, kesejahteraan, keamanan, lingkungan, dan masa depan anak-anak dapat tertutup oleh pertengkaran mengenai perbedaan pilihan. Masyarakat yang seharusnya mampu bersatu untuk mengawasi jalannya pemerintahan justru dapat kehilangan energi karena konflik di antara sesama warga. Dalam keadaan seperti itu, yang melemah bukan hanya hubungan sosial, tetapi juga daya tawar masyarakat sebagai satu kesatuan.

Kekuatan rakyat pada dasarnya tidak hanya berada pada saat memberikan suara. Kekuatan tersebut juga terletak pada kemampuan untuk terus menjaga kepedulian, melakukan pengawasan, menyampaikan aspirasi, dan bekerja bersama setelah proses pemungutan suara selesai. Apabila masyarakat terus dipelihara dalam suasana saling curiga, kemampuan tersebut akan semakin sulit diwujudkan. Rakyat yang saling bermusuhan akan lebih mudah dipisahkan daripada rakyat yang memiliki kesadaran sebagai keluarga besar. Karena itu, pertanyaan mengenai siapa yang berkuasa ketika rakyat bertengkar pada akhirnya kembali kepada kesadaran masyarakat untuk tidak membiarkan persatuan mereka dirusak oleh perbedaan sesaat.

Komunitas Langgar yang Pernah Menjadi Sekolah Kehidupan

Beberapa puluh tahun terakhir membawa perubahan besar terhadap pola kehidupan masyarakat. Komunitas Langgar yang dahulu menjadi ruang perjumpaan warga perlahan kehilangan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari. Langgar bukan hanya tempat menjalankan kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi sekolah sosial dan sekolah budaya bagi anak-anak. Di ruang tersebut, anak-anak belajar mengenal orang lain, menghormati orang yang lebih tua, membantu tetangga, serta memahami bahwa kehidupan mereka merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Pendidikan semacam itu berlangsung melalui keteladanan dan pengalaman langsung, bukan hanya melalui nasihat.

You Might Also Like

BSU Dipakai Judi Online, Partai X: Kalau Pemerintah Takut Menutup Server, Siapa Sebenarnya Bandar Besarnya?
Demokrasi Tanpa Moralitas: Ketika Pemimpin Menggunakan Kekuasaan untuk Kepentingan Pribadi
KPK Luruskan Narasi, Partai X: Kerugian Negara atau Kerugian Rakyat?
Pendidikan Fondasi Keadilan Sosial, Partai X: Harus Lebih dari Sekadar Slogan!

Masyarakat pedusunan dahulu memiliki kebiasaan saling menolong, saling mendidik, saling menjaga, dan saling menyelamatkan. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang memungkinkan mereka mengenal banyak orang dan merasa menjadi bagian dari keluarga besar. Ketika seorang warga mengalami kesulitan, persoalan tersebut tidak selalu dianggap sebagai persoalan pribadi. Masyarakat memiliki mekanisme sosial untuk hadir, membantu, dan memberikan perlindungan. Fondasi seperti itu membuat anak-anak belajar bahwa kehidupan manusia memiliki tanggung jawab sosial yang lebih luas daripada kepentingan dirinya sendiri.

Prime-Time Menggantikan Ruang Perjumpaan

Perubahan kehidupan kemudian membuat ruang perjumpaan masyarakat semakin banyak digantikan oleh tayangan televisi dan hiburan berbasis layar. Waktu yang sebelumnya digunakan anak-anak untuk berinteraksi dengan tetangga, bermain bersama, belajar mengaji, atau mengikuti kegiatan masyarakat semakin banyak diisi oleh tayangan prime-time. Perkembangan teknologi digital kemudian membuat kondisi tersebut semakin luas karena anak-anak dapat mengakses berbagai informasi kapan saja. Mereka dapat melihat dunia yang sangat besar tanpa selalu memperoleh pendampingan yang cukup untuk memahami dampaknya terhadap cara berpikir dan perilaku. Akhirnya, layar dapat menjadi guru yang sangat dominan ketika keluarga dan masyarakat kehilangan kesempatan untuk menjalankan fungsi pendidikannya.

Persoalan tersebut tidak berarti bahwa televisi atau teknologi harus dianggap sebagai musuh. Teknologi dapat memberikan manfaat besar jika digunakan dengan kesadaran dan tanggung jawab. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan kebutuhan manusia untuk berinteraksi secara langsung dengan keluarga dan masyarakat. Anak-anak membutuhkan pengalaman membantu orang lain, menyelesaikan persoalan bersama, menghormati orang yang berbeda, dan belajar bertanggung jawab. Pengalaman semacam itu tidak dapat sepenuhnya diperoleh melalui layar karena karakter manusia tumbuh melalui hubungan dan kebiasaan nyata.

Dunia Luar Tidak Boleh Hanya Dipandang sebagai Ancaman

Hilangnya ruang sosial juga dapat membuat keluarga semakin takut terhadap dunia di luar rumah. Narkoba, penculikan, kekerasan, pergaulan buruk, dan berbagai informasi yang tidak sesuai dengan nilai keluarga menjadi sumber kekhawatiran. Kekhawatiran tersebut tentu perlu direspons dengan perlindungan dan pendidikan yang memadai. Namun, jika rasa takut berkembang menjadi kecurigaan terhadap seluruh lingkungan, masyarakat justru kehilangan fungsi sebagai ruang perlindungan bersama. Anak-anak akhirnya lebih banyak berada dalam ruang tertutup, sementara hubungan dengan masyarakat semakin jauh.

Solusinya bukan sekadar membiarkan anak-anak keluar rumah tanpa pengawasan. Yang dibutuhkan adalah membangun kembali lingkungan yang aman dan memiliki kepedulian bersama. Orang tua, tetangga, tokoh masyarakat, pendidik, dan generasi muda perlu membentuk ruang sosial yang dapat menjadi tempat anak-anak belajar dan berinteraksi secara sehat. Ketika masyarakat saling mengenal, potensi ancaman dapat lebih cepat dikenali dan ditangani. Rasa aman akhirnya tidak hanya berasal dari rumah, tetapi juga dari masyarakat yang saling menjaga.

Ketika Konsumtivisme Mengambil Alih Pendidikan

Di tengah melemahnya hubungan sosial, anak-anak juga menghadapi arus nilai yang sangat kuat dari lingkungan modern. Konsumtivisme dan hedonisme dapat masuk melalui tayangan, iklan, media digital, serta berbagai bentuk hiburan yang terus menawarkan gambaran tentang kesenangan dan keberhasilan. Anak-anak dapat diarahkan untuk menilai kehidupan berdasarkan apa yang dimiliki, apa yang digunakan, dan bagaimana dirinya terlihat di hadapan orang lain. Jika tidak diimbangi pendidikan karakter, orientasi tersebut dapat menggeser nilai kesederhanaan, kepedulian, pengabdian, dan tanggung jawab. Manusia kemudian berisiko menjadi semakin kuat dalam mengejar benda, tetapi semakin lemah dalam membangun hubungan.

Kritik terhadap keadaan tersebut harus diarahkan pada hilangnya keseimbangan dalam pendidikan manusia. Kemajuan teknologi tidak harus ditolak karena teknologi dapat menjadi alat yang sangat berguna bagi kehidupan. Yang harus dikembalikan adalah kemampuan keluarga dan masyarakat untuk menjadi pusat pembentukan karakter. Anak-anak perlu dibiasakan melakukan kegiatan yang menumbuhkan empati dan tanggung jawab. Mereka perlu melihat bahwa keberhasilan manusia bukan hanya tentang mendapatkan sesuatu untuk dirinya sendiri, tetapi juga tentang kemampuan memberikan manfaat kepada orang lain.

Perbedaan Pilihan Tidak Boleh Menjadi Alat Permusuhan

Masyarakat terpecah belah oleh pilkada ketika perbedaan pilihan dijadikan dasar untuk membangun permusuhan. Pilihan seseorang kemudian dianggap menentukan apakah ia layak menjadi kawan atau lawan. Sikap semacam itu sangat berbahaya karena membuat hubungan sosial bergantung pada kesamaan pilihan. Padahal, masyarakat yang sehat justru terdiri atas manusia dengan latar belakang, pengalaman, pemikiran, dan pilihan yang beragam. Perbedaan tersebut harus dikelola melalui penghormatan dan dialog, bukan melalui penghinaan dan permusuhan.

Anak-anak juga tidak boleh diwarisi permusuhan akibat perbedaan pilihan orang dewasa. Mereka perlu diajarkan bahwa seseorang dapat berbeda pandangan tetapi tetap menjadi tetangga yang baik. Mereka perlu melihat orang dewasa tetap saling membantu meskipun memiliki pilihan yang tidak sama. Keteladanan tersebut akan memberikan pemahaman bahwa persatuan tidak berarti menghilangkan perbedaan. Persatuan berarti memiliki kemampuan untuk tetap hidup bersama meskipun terdapat perbedaan.

Menghidupkan Kembali Komunitas Langgar

Salah satu solusi paling penting adalah menghidupkan kembali Komunitas Langgar sebagai ruang sosial yang dekat dengan masyarakat. Komunitas Langgar dapat dikembangkan sebagai tempat belajar anak, kegiatan keagamaan, pembinaan generasi muda, pertemuan warga, kegiatan sosial, dan pelestarian budaya. Kegiatan tersebut dapat dirancang agar anak-anak memiliki ruang aman untuk berinteraksi tanpa kehilangan pendampingan orang dewasa. Warga juga dapat menggunakan ruang tersebut untuk membangun kembali kebiasaan saling menolong. Dengan demikian, Komunitas Langgar tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi menjadi kembali sebagai sekolah kehidupan.

Kegiatan bersama juga dapat menjadi sarana untuk memulihkan hubungan setelah Pilkada. Warga dengan pilihan berbeda dapat bekerja bersama dalam kegiatan yang menyangkut kepentingan masyarakat. Kerja bakti, bantuan sosial, kegiatan pendidikan anak, pembinaan pemuda, pengajian, kunjungan kepada warga yang sakit, dan kegiatan kemanusiaan dapat menjadi ruang perjumpaan. Dari kegiatan tersebut, masyarakat kembali mengalami secara langsung bahwa mereka saling membutuhkan. Hubungan yang sempat renggang dapat dipulihkan melalui tindakan nyata, bukan hanya melalui seruan persatuan.

Keluarga Harus Mengambil Kembali Perannya

Keluarga juga perlu mengambil kembali peran sebagai tempat utama pembentukan karakter. Orang tua perlu mendampingi anak dalam menggunakan televisi, internet, dan berbagai perangkat digital. Pendampingan tidak cukup berupa larangan, tetapi harus disertai percakapan mengenai nilai, tanggung jawab, dan dampak dari setiap informasi yang diterima. Anak perlu diberi kemampuan untuk menyaring informasi sehingga tidak mudah terbawa oleh arus yang merusak. Dengan demikian, keluarga dapat menjadi benteng yang membantu anak tetap memiliki arah ketika berhadapan dengan berbagai pengaruh dari luar.

Keluarga juga perlu memperbanyak kegiatan yang tidak bergantung pada layar. Makan bersama, berbincang, membaca, berkunjung kepada tetangga, membantu keluarga yang membutuhkan, serta mengikuti kegiatan masyarakat merupakan pendidikan yang sangat berharga. Anak-anak perlu mengalami secara langsung bagaimana rasanya memberikan pertolongan kepada orang lain. Mereka juga perlu memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari barang, hiburan, atau pengakuan dari dunia maya. Melalui kebiasaan sederhana tersebut, karakter dan kepedulian dapat tumbuh secara lebih alami.

Rakyat Harus Berhenti Bertengkar dan Kembali Bersatu

Pertanyaan dalam judul, “Rakyat Bertengkar, Siapa yang Berkuasa?” pada akhirnya bukan sekadar pertanyaan mengenai siapa yang memperoleh keuntungan dari perpecahan. Pertanyaan tersebut juga menjadi refleksi tentang apa yang terjadi ketika masyarakat kehilangan kemampuan untuk menjaga persatuan. Rakyat yang saling bertengkar akan kesulitan membangun kesepakatan mengenai kebutuhan bersama. Rakyat yang saling curiga akan kesulitan membangun kepercayaan. Karena itu, menghentikan pertengkaran antarsesama warga merupakan langkah penting untuk mengembalikan kekuatan masyarakat.

Masyarakat terpecah belah oleh pilkada tidak boleh menjadi keadaan permanen yang dianggap sebagai konsekuensi biasa dari perbedaan pilihan. Setelah pemungutan suara selesai, masyarakat harus kembali kepada kehidupan yang lebih besar daripada urusan memilih. Warga harus kembali menjadi tetangga, saudara, sahabat, pendidik, pelindung, dan bagian dari keluarga besar. Perbedaan pilihan tidak boleh menghapus kebiasaan saling menolong, mendidik, menjaga, dan menyelamatkan. Persatuan harus dipulihkan dari lingkungan terkecil agar dapat berkembang menjadi kekuatan masyarakat yang lebih luas.

Demokrasi Harus Kembali kepada Rakyat

Pada akhirnya, demokrasi tidak boleh hanya diukur dari berlangsungnya pemungutan suara. Demokrasi juga perlu dilihat dari kemampuan masyarakat menjaga martabat manusia setelah perbedaan pilihan muncul. Jika setelah pemungutan suara rakyat semakin terpecah, saling membenci, dan kehilangan kemampuan bekerja sama, maka ada persoalan yang perlu dibenahi dalam kehidupan bersama. Sebaliknya, jika perbedaan pilihan justru diikuti kedewasaan, dialog, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama, maka demokrasi dapat menjadi sarana memperkuat masyarakat. Ruh persatuan menjadi penting karena tanpa persatuan, kebebasan memilih dapat kehilangan tujuan sosialnya.

Karena itu, jalan keluarnya harus dimulai dari masyarakat sendiri. Keluarga harus diperkuat, Komunitas Langgar harus dihidupkan kembali, ruang perjumpaan warga harus diperbanyak, dan penggunaan teknologi harus ditempatkan secara sehat. Pendidikan anak harus dikembalikan pada keseimbangan antara kecerdasan, akhlak, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Warga juga perlu membangun kebiasaan berdialog dan menyelesaikan perbedaan tanpa menjadikan pilihan sebagai alasan untuk bermusuhan. Jika fondasi tersebut diperkuat, masyarakat akan memiliki kemampuan lebih besar untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan persaudaraan.

Pilkada pada akhirnya hanyalah satu bagian dari perjalanan kehidupan masyarakat. Yang jauh lebih panjang adalah kehidupan setelah pemungutan suara, ketika warga kembali hidup bersama dan menghadapi persoalan yang sama. Jika rakyat terus bertengkar karena perbedaan pilihan, pertanyaan tentang siapa yang berkuasa akan selalu relevan untuk direnungkan. Namun, jika rakyat memilih untuk kembali bersatu, saling menjaga, dan membangun kehidupan bersama, maka kekuatan terbesar tetap berada pada masyarakat itu sendiri. Dengan menghidupkan kembali keluarga, Komunitas Langgar, gotong royong, pendidikan karakter, dan kepedulian sosial, demokrasi dapat menemukan kembali ruh persatuannya. Pada titik itulah masyarakat tidak lagi menjadi kumpulan orang yang mudah dipecah oleh perbedaan, melainkan keluarga besar yang mampu berdiri bersama dalam menghadapi masa depan.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Sekolah Negarawan Dorong Diplomasi Kebudayaan sebagai Jembatan Indonesia-Iran
Next Article Di Balik Pesta Demokrasi, Masyarakat Terpecah Belah oleh Pilkada

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Prabowo Anti Kritik: Pemerintah yang Tidak Bisa Menghadapi Ujian dari Kritik Publik

March 30, 2026
Pemerintah sibuk mengatur
Pemerintah

Pemerintah Sibuk Mengatur: Rakyat Diurus atau Dikendalikan?

May 15, 2026
Rekening Judi Online Diblokir, Partai X Bilang: Jangan Cuma Blokir Akun, Bongkar Juga Siapa yang Lindungi Bisnis Haram Ini!
Kriminal

Rekening Judi Online Diblokir, Partai X Bilang: Jangan Cuma Blokir Akun, Bongkar Juga Siapa yang Lindungi Bisnis Haram Ini!

August 4, 2025
Pemerintah

Revolusi Indonesia Dimulai dari Revolusi Mental

November 28, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.