TEHERAN — Pertemuan Mustafa Debu dengan Menteri Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araghchi pada 28 Agustus 2026 memperlihatkan sisi lain dari hubungan Indonesia dan Iran yang berlangsung di sela-sela Konferensi Persatuan Islam. Pertemuan yang berlangsung di Restoran Parmin, Azadi Persian Hotel, Teheran tersebut ternyata diprakarsai dan diatur oleh Tim Sekolah Negarawan. Momen tersebut menjadi contoh bagaimana komunikasi antarbangsa dapat tumbuh melalui jalur kebudayaan dan hubungan antarmanusia.
Mustafa Debu merupakan salah satu musisi Muslim yang hadir di Iran setelah memperoleh undangan dalam rangkaian Konferensi Persatuan Islam. Di sisi lain, Tim Sekolah Negarawan tengah berada di Iran untuk menjalankan berbagai agenda kunjungan, pendidikan, dan jejaring internasional selama kurang lebih dua pekan. Kedua agenda tersebut kemudian bertemu dalam sebuah pertemuan informal bersama Araghchi.
Pertemuan Mustafa dan Araghchi berlangsung dalam suasana santai. Keduanya berbincang mengenai berbagai hal dalam sebuah ruang yang lebih cair dibandingkan forum resmi. Momen tersebut kemudian terekam dan beredar di media sosial sehingga menarik perhatian publik terhadap pertemuan antara musisi Indonesia dan pejabat tinggi Iran tersebut.
Pertanyaan mengenai pihak yang mempertemukan Mustafa dengan Araghchi akhirnya mendapatkan jawaban bahwa Tim Sekolah Negarawan menjadi pihak yang mengatur pertemuan tersebut. Tim yang dipimpin Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, memang aktif membangun komunikasi dengan berbagai kalangan selama berada di Iran. Prayogi didampingi Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs Abdullah Assegaf dalam berbagai agenda pertemuan serta kegiatan kebudayaan dan pendidikan.
Pertemuan Mustafa dan Araghchi menjadi salah satu contoh bagaimana jejaring yang dibangun selama kunjungan dapat membuka ruang komunikasi baru. Bagi Sekolah Negarawan, hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun melalui forum resmi, tetapi juga melalui pertemuan yang melibatkan seniman, akademisi, tokoh agama, dan berbagai unsur masyarakat. Ruang-ruang informal tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkuat pemahaman dan membangun hubungan yang lebih dekat.
Musik menjadi salah satu bahasa yang mampu mempertemukan manusia dari berbagai latar belakang. Sebuah karya seni dapat membuka percakapan sebelum manusia membahas berbagai persoalan yang lebih luas. Dalam konteks inilah kebudayaan memiliki peran penting sebagai jembatan komunikasi antarbangsa.
Pertemuan tersebut juga memiliki makna tersendiri dalam rangkaian Konferensi Persatuan Islam. Mustafa hadir sebagai musisi Muslim dari Indonesia, sementara Araghchi hadir sebagai pejabat tinggi Iran yang memiliki tanggung jawab dalam hubungan luar negeri negaranya. Pertemuan keduanya mempertemukan dua ruang sekaligus, yaitu komunikasi resmi dan pendekatan kebudayaan.
Bagi Tim Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses membangun jejaring internasional melalui pendekatan yang lebih luas. Pertemuan sederhana di sebuah restoran di Teheran menunjukkan bahwa hubungan antarbangsa dapat tumbuh dari percakapan yang hangat dan penuh keterbukaan. Sebuah pertemuan kecil dapat menjadi awal bagi terbangunnya hubungan yang lebih besar di masa depan.



