TEHERAN — Ada satu pertanyaan sederhana yang dapat membuat manusia berhenti sejenak dan merenung: siapakah kita di antara miliaran manusia yang hidup di muka bumi? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu refleksi filosofis yang muncul dalam rangkaian Konferensi Internasional Persatuan Islam di Teheran. Bagi Sekolah Negarawan, pertanyaan tersebut memiliki hubungan erat dengan bagaimana manusia memahami makna kehidupan, pengabdian, dan jejak yang ditinggalkan.
Delegasi Sekolah Negarawan yang mengikuti rangkaian forum tersebut terdiri atas Direktur Prayogi R. Saputra, PhD, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta Direktur International Affairs untuk Urusan Iran Abdullah Assegaf. Kehadiran delegasi menjadi bagian dari proses pembelajaran mengenai nilai kehidupan, kepemimpinan, dan peran manusia dalam masyarakat. Berbagai gagasan yang muncul dalam konferensi menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana sebuah kehidupan dapat memiliki arti yang melampaui batas waktu.
Manusia dapat memulai pertanyaan tersebut dari lingkaran paling dekat. Siapa saya di antara orang-orang yang berada di sekitar saya? Kemudian pertanyaan itu berkembang menjadi lebih luas, siapa saya di antara jutaan penduduk sebuah kota, puluhan juta penduduk sebuah negara, hingga miliaran manusia yang hidup di bumi.
Pertanyaan tersebut kemudian bergerak ke dimensi waktu. Berapa lama manusia hidup? Berapa banyak manusia yang telah lahir sebelum kita? Berapa banyak manusia yang telah meninggalkan dunia ini? Dalam perjalanan sejarah Islam selama lebih dari seribu tahun, jutaan manusia telah hadir dengan cerita masing-masing, memiliki keluarga, pekerjaan, cita-cita, ketakutan, dan harapan.
Namun, sebagian besar nama manusia pada akhirnya hilang dari ingatan generasi berikutnya. Kenyataan tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih mendalam: jika sebagian besar manusia akhirnya dilupakan, apa yang membuat sebagian orang tetap dikenang selama berabad-abad? Jawabannya berkaitan dengan nilai, pengaruh, dan manfaat yang ditinggalkan selama seseorang menjalani kehidupan.
Sejarah memberikan banyak contoh mengenai hal tersebut. Ada manusia yang menjalani kehidupan biasa dan kemudian hilang dari catatan sejarah. Namun, ada pula manusia yang meninggalkan gagasan, keteladanan, dan nilai yang terus bergerak melewati berbagai generasi.
Dalam perspektif Islam, Nabi Muhammad ﷺ menjadi salah satu contoh paling kuat mengenai kehidupan yang meninggalkan pengaruh besar. Kehidupan beliau tidak berhenti ketika masa hidupnya berakhir, tetapi nilai dan ajaran yang dibawanya terus menjadi pedoman bagi banyak manusia hingga saat ini. Demikian pula tokoh-tokoh sejarah lainnya yang menjadikan kehidupannya sebagai bentuk pengabdian terhadap nilai yang lebih besar.
Dari sinilah muncul pemahaman bahwa umur biologis bukan satu-satunya ukuran keberadaan manusia. Seseorang dapat hidup dalam waktu yang panjang, tetapi meninggalkan pengaruh yang terbatas. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki usia yang lebih singkat, namun meninggalkan gagasan dan keteladanan yang terus hidup setelah kepergiannya.
Bagi Sekolah Negarawan, perspektif tersebut memiliki hubungan erat dengan pendidikan kepemimpinan. Kepemimpinan bukan hanya berbicara tentang berapa lama seseorang menjalankan sebuah amanah. Kepemimpinan juga berkaitan dengan apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya dan manfaat apa yang diberikan kepada masyarakat.
Jabatan pada akhirnya akan berakhir. Peran seseorang dapat berganti. Generasi akan terus berubah. Namun, nilai, gagasan, dan keteladanan yang dibangun dengan kesungguhan dapat bertahan lebih lama daripada keberadaan seseorang secara fisik.
Karena itu, pertanyaan “siapakah saya?” pada akhirnya berkembang menjadi pertanyaan yang lebih penting: “Apa arti keberadaan saya bagi orang lain?” Pertanyaan tersebut mengajak manusia untuk melihat kehidupan bukan hanya dari apa yang diperoleh, tetapi juga dari apa yang mampu diberikan.
Refleksi dari Teheran tersebut membawa pesan bahwa kehidupan manusia memperoleh kedalaman ketika tidak hanya berpusat pada dirinya sendiri. Ketika kehidupan diarahkan kepada sesuatu yang lebih besar seperti pengabdian, kebenaran, kemanusiaan, ilmu, dan nilai-nilai Ilahi, keberadaan manusia dapat meninggalkan jejak yang melampaui batas usia.
Manusia mungkin tidak dapat menghindari akhir kehidupan. Namun, manusia memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana kehidupannya dikenang. Apakah ia berlalu tanpa meninggalkan makna, atau mampu menghadirkan cahaya dan manfaat bagi mereka yang datang setelahnya.



