TEHERAN — Apa yang membuat seseorang tetap dikenang ketika generasi telah berganti? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu refleksi penting yang muncul dalam rangkaian Konferensi Internasional Persatuan Islam di Teheran. Bagi Sekolah Negarawan, pertanyaan tersebut memiliki hubungan erat dengan hakikat kepemimpinan dan nilai pengabdian seorang manusia.
Delegasi Sekolah Negarawan yang hadir terdiri atas Direktur Prayogi R. Saputra, PhD, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta Direktur International Affairs untuk Urusan Iran Abdullah Assegaf. Kehadiran delegasi dalam forum tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran mengenai nilai kepemimpinan, kehidupan bersama, dan warisan yang ditinggalkan seorang tokoh. Berbagai gagasan yang muncul selama konferensi menjadi bahan refleksi mengenai bagaimana seorang pemimpin dapat memberikan manfaat yang melampaui masa hidupnya.
Dalam forum tersebut, pembahasan mengenai ungkapan Sayyidah Zainab al-Kubra, “Mā ra’aytu illā jamīlā”, berkembang menjadi renungan mengenai kehidupan, kematian, pengabdian, dan warisan seorang manusia. Ungkapan tersebut mengajak manusia melihat kehidupan bukan hanya dari peristiwa yang tampak di permukaan, tetapi juga dari nilai yang terkandung di balik setiap perjalanan. Refleksi tersebut kemudian dikaitkan dengan bagaimana seorang pemimpin meninggalkan jejak bagi masyarakat.
Salah satu persoalan yang diangkat adalah kenyataan bahwa sebagian besar manusia pada akhirnya tidak lagi dikenal oleh generasi setelahnya. Seseorang mungkin memiliki anak dan cucu, tetapi setelah beberapa generasi berlalu, namanya dapat hilang dari ingatan keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Kenyataan tersebut memberikan pemahaman bahwa keberadaan manusia tidak hanya dinilai dari seberapa lama ia hidup, tetapi dari nilai yang ia tinggalkan.
Perspektif tersebut memberikan pelajaran penting mengenai kepemimpinan. Seorang pemimpin mungkin memegang jabatan dalam waktu yang panjang, tetapi jabatan pada akhirnya akan berakhir. Gedung pemerintahan dapat berganti penghuni, kebijakan dapat berubah, dan nama seorang pemimpin dapat terlupakan apabila tidak meninggalkan manfaat yang berarti.
Hal yang dapat bertahan lebih lama adalah pengaruh dan nilai yang diwariskan. Karena itu, kepemimpinan yang memiliki makna tidak hanya berbicara mengenai pencapaian selama seseorang menjalankan tugasnya, tetapi juga mengenai dampak yang diberikan bagi generasi berikutnya. Seorang pemimpin perlu bertanya apakah masyarakat menjadi lebih baik, apakah nilai kebaikan terus hidup, dan apakah ada manusia lain yang terinspirasi untuk melanjutkan perjuangan tersebut.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat refleksi dari Teheran memiliki relevansi dengan pendidikan negarawan. Seorang negarawan tidak seharusnya hanya mengejar kedudukan, tetapi harus memiliki orientasi pengabdian kepada kepentingan yang lebih luas. Kepemimpinan bukan sekadar tentang apa yang diperoleh seseorang, melainkan tentang apa yang mampu diberikan kepada masyarakat.
Dalam perspektif tersebut, kekuasaan bukan tujuan akhir, tetapi sarana untuk menghadirkan manfaat yang lebih besar. Kehidupan seorang pemimpin menjadi bermakna ketika ia mampu melampaui kepentingan pribadi dan mengabdikan dirinya kepada nilai yang diyakini membawa kebaikan bersama. Pemimpin yang demikian tidak bekerja hanya agar namanya dikenang, tetapi karena memiliki tanggung jawab terhadap manusia lain.
Menariknya, seseorang yang tidak menjadikan penghargaan sebagai tujuan utama justru sering meninggalkan jejak yang lebih panjang. Ketika seseorang mengabdikan hidupnya kepada nilai yang lebih besar daripada dirinya sendiri, pengaruhnya dapat terus dirasakan meskipun masa hidupnya telah berakhir. Inilah salah satu pelajaran yang dapat dibaca dari refleksi mengenai “Mā ra’aytu illā jamīlā”.
Keindahan sebuah kehidupan tidak hanya terletak pada keberhasilan menikmati perjalanan hidup. Keindahan juga hadir ketika kehidupan digunakan untuk memberikan manfaat dan menghadirkan perubahan positif bagi orang lain. Nilai inilah yang menjadikan sebuah pengabdian memiliki makna yang lebih panjang daripada usia manusia itu sendiri.
Bagi Sekolah Negarawan, inti penting pendidikan kepemimpinan adalah membentuk manusia yang tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan?” tetapi juga mampu bertanya, “Apa yang bisa saya tinggalkan?” Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir dan usia akan berhenti. Namun, nilai, keteladanan, serta manfaat yang diwariskan dapat terus hidup melewati batas waktu.



