Teheran — Apa yang terjadi ketika media tidak hanya bertugas menyampaikan peristiwa, tetapi juga ikut memikirkan bagaimana masyarakat memahami realitas? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam kunjungan Tim Sekolah Negarawan ke Fakultas Agama dan Media IRIB di Iran. Pertemuan tersebut membuka ruang diskusi mengenai peran media yang lebih luas, bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembentukan pemahaman dan kesadaran masyarakat.
Kunjungan tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman antara Sekolah Negarawan dan Fakultas Agama dan Media IRIB mengenai posisi strategis media dalam kehidupan publik. Tim Sekolah Negarawan disambut oleh pimpinan fakultas beserta jajaran akademisi dan pengelola lembaga dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan terbuka. Diskusi yang berlangsung membahas berbagai tantangan media modern serta bagaimana media dapat menjalankan peran sosialnya secara lebih bermakna.

Di tengah perkembangan industri media yang semakin kompetitif, perhatian publik sering kali menjadi ukuran utama keberhasilan sebuah pemberitaan. Berbagai berita mengenai konflik, skandal, tragedi, kontroversi, dan persoalan negatif lainnya cenderung lebih cepat menarik perhatian masyarakat. Fenomena tersebut kemudian melahirkan pandangan yang cukup dikenal dalam dunia media, yaitu bad news is good news.
Namun, diskusi antara Sekolah Negarawan dan Fakultas Agama dan Media IRIB mencoba melihat persoalan tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana jika media juga memberikan ruang yang lebih besar bagi pemberitaan mengenai hal-hal baik. Pendekatan tersebut bukan berarti mengabaikan persoalan atau menghilangkan fungsi pengawasan media, melainkan menjadikan media sebagai ruang untuk memperkenalkan gagasan, memberikan edukasi, mengangkat praktik baik, serta menghadirkan berbagai kemungkinan solusi atas persoalan masyarakat.
Pendekatan semacam itu menjadi salah satu perhatian Sekolah Negarawan dalam mengembangkan ekosistem medianya. Media yang berafiliasi dengan Sekolah Negarawan diarahkan untuk tidak hanya mengejar perhatian publik melalui pemberitaan yang sensasional, tetapi juga menghadirkan konten yang memiliki nilai pendidikan dan manfaat sosial. Media diharapkan mampu menjadi sarana yang membantu masyarakat memahami persoalan sekaligus melihat berbagai peluang perbaikan.
Narasi mengenai pendidikan, kepemimpinan, inovasi, pembangunan, pengalaman masyarakat, serta berbagai praktik baik dapat menjadi bagian penting dalam pemberitaan. Berbagai kisah tersebut memiliki nilai yang sama pentingnya dengan berita mengenai konflik dan kontroversi karena dapat memberikan inspirasi serta memperluas cara pandang masyarakat terhadap berbagai persoalan. Media memiliki ruang besar untuk menghadirkan informasi yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga membangun optimisme.
Dalam diskusi tersebut, Tim Sekolah Negarawan berbagi pengalaman mengenai bagaimana pendekatan edukasi publik dapat menjadi bagian dari strategi media. Media dipandang bukan hanya sebagai cermin masyarakat, tetapi juga sebagai salah satu kekuatan yang ikut membentuk cara masyarakat memahami lingkungan, melihat tantangan, dan membangun harapan terhadap masa depan. Karena itu, kualitas sebuah pemberitaan tidak hanya dapat diukur dari seberapa besar perhatian yang diperoleh, tetapi juga dari dampak yang ditinggalkan.
Persoalan utama dalam pemberitaan bukan semata-mata mengenai apakah sebuah berita bersifat positif atau negatif. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pengaruh berita tersebut terhadap cara masyarakat berpikir dan bertindak. Sebuah berita dapat memunculkan ketakutan, kemarahan, dan pesimisme, tetapi sebuah berita juga dapat membantu masyarakat memahami persoalan, menemukan inspirasi, mengenali solusi, dan terdorong untuk mengambil peran.
Di sinilah tanggung jawab sosial media menjadi semakin penting. Media memiliki peran dalam menjaga keseimbangan antara fungsi penyampaian informasi, pengawasan sosial, dan pendidikan masyarakat. Ketika media mampu menjalankan ketiga fungsi tersebut secara seimbang, keberadaannya dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kehidupan bersama.
Pimpinan Fakultas Agama dan Media IRIB beserta jajaran akademisi turut menyampaikan pandangan mengenai hubungan antara media, agama, pendidikan, dan pembentukan kesadaran masyarakat. Pertukaran gagasan berlangsung dinamis dengan kedua pihak saling berbagi pengalaman mengenai tantangan media dalam menghadapi perubahan teknologi, perkembangan platform digital, dan perubahan perilaku audiens.
Perkembangan media digital membuat masyarakat tidak lagi hanya menjadi penerima informasi. Masyarakat kini juga menjadi pembuat sekaligus penyebar informasi melalui berbagai platform. Kondisi tersebut menjadikan kemampuan media untuk menghadirkan informasi yang kredibel, bertanggung jawab, dan memiliki nilai edukatif semakin penting.
Kunjungan Sekolah Negarawan ke Fakultas Agama dan Media IRIB akhirnya tidak berhenti pada pembahasan mengenai teknis jurnalistik. Pertemuan tersebut berkembang menjadi diskusi yang lebih mendasar mengenai tujuan keberadaan media di tengah masyarakat. Media tidak hanya berperan dalam menjawab apa yang terjadi, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membantu masyarakat memahami makna dari setiap peristiwa.
Jika media hanya mengejar hal-hal yang paling ramai diperbincangkan, maka perhatian publik akan menjadi tujuan akhir. Namun, jika media menempatkan edukasi publik sebagai bagian dari misinya, perhatian publik dapat menjadi pintu menuju peningkatan pemahaman dan perubahan yang lebih baik. Media dapat tetap kritis terhadap berbagai persoalan sekaligus menghadirkan narasi yang membantu masyarakat menemukan jalan keluar.
Dari ruang pertemuan antara Sekolah Negarawan dan Fakultas Agama dan Media IRIB tersebut muncul sebuah gagasan penting bahwa media tidak harus memilih antara bersikap kritis atau menghadirkan pemberitaan positif. Keduanya dapat berjalan bersama selama media tetap berpegang pada prinsip kebenaran, tanggung jawab, dan kepentingan masyarakat. Pada akhirnya, media bukan hanya tentang apa yang diberitakan, tetapi juga tentang masyarakat seperti apa yang ingin dibentuk melalui setiap pemberitaan.



