beritax.id – Qom, Iran — Bagi sebuah bangsa, kehidupan masyarakat tidak hanya dapat dibaca melalui gedung pemerintahan, institusi pendidikan, atau pusat-pusat kekuasaan. Kehidupan sebuah masyarakat juga dapat terlihat dari jalan-jalan kotanya ketika masyarakat berkumpul, berjalan bersama, membawa simbol-simbol kebudayaan, dan mengekspresikan nilai yang mereka yakini. Pengalaman tersebut menjadi salah satu hal yang menarik perhatian tim Sekolah Negarawan ketika menyaksikan parade rakyat di Kota Qom, Iran.
Bagi tim Sekolah Negarawan, parade tersebut bukan sekadar kerumunan masyarakat atau kegiatan berjalan bersama. Di dalamnya terdapat fenomena sosial yang menarik untuk diamati: bagaimana ruang publik menjadi tempat bertemunya identitas keagamaan, kebudayaan, solidaritas sosial, dan partisipasi masyarakat.
Qom sendiri merupakan salah satu kota penting dalam kehidupan keagamaan dan intelektual Iran. Kota ini menjadi salah satu pusat pendidikan keagamaan Syiah dan memiliki sejumlah situs keagamaan penting, termasuk Masjid Jamkaran dan kompleks makam Sayyidah Fatimah Ma’sumah.
Dalam berbagai kegiatan keagamaan di Qom, partisipasi masyarakat dalam jumlah besar juga menjadi fenomena yang menonjol. Pada kegiatan jalan kaki menuju Jamkaran pada Agustus 2026, misalnya, masyarakat Qom mengikuti rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan Arbain, sementara ratusan mowkeb turut memberikan pelayanan kepada peserta. (vista.ir)

Jalan Raya sebagai Ruang Sosial
Yang menarik bagi Sekolah Negarawan bukan semata-mata jumlah orang yang hadir, tetapi bagaimana jalan raya berubah menjadi ruang sosial. Ruang yang pada hari-hari biasa digunakan untuk aktivitas transportasi berubah menjadi tempat masyarakat berkumpul dan melakukan aktivitas bersama. Orang-orang dari berbagai kelompok usia hadir dalam satu ruang, berjalan dalam arah yang sama, dan mengikuti rangkaian kegiatan yang memiliki makna bagi mereka.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa ruang publik tidak hanya memiliki fungsi administratif dan ekonomi. Ruang publik juga dapat menjadi tempat sebuah masyarakat memperlihatkan identitasnya. Dalam konteks Qom, identitas tersebut sangat erat dengan sejarah keagamaan dan kehidupan sosial masyarakatnya. Namun, yang terlihat bukan hanya ekspresi individual. Ada dimensi kolektif yang muncul ketika ribuan orang mengambil bagian dalam sebuah kegiatan bersama.
Bagi tim Sekolah Negarawan, fenomena tersebut menjadi pengalaman langsung yang berbeda dengan sekadar membaca tentang masyarakat Iran melalui buku atau laporan.
Memahami Masyarakat dari Dekat
Salah satu tujuan perjalanan Sekolah Negarawan ke Iran adalah memahami berbagai aspek kehidupan masyarakat dan institusi di negara tersebut secara langsung. Karena itu, mengamati kegiatan masyarakat di ruang publik menjadi bagian yang tidak kalah penting dibandingkan mengunjungi lembaga pemerintahan, pusat pendidikan, maupun institusi riset.
Dari parade rakyat, dapat dilihat bagaimana nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat memperoleh bentuk nyata. Ada orang yang berjalan bersama keluarga, ada kelompok masyarakat yang memberikan pelayanan, ada peserta yang membawa simbol-simbol tertentu, dan ada pula masyarakat yang datang sebagai bagian dari solidaritas kolektif.
Keseluruhan aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki mekanisme sendiri untuk menciptakan kebersamaan. Dalam perspektif Sekolah Negarawan, hal ini menarik karena negara yang kuat tidak hanya ditentukan oleh kapasitas institusinya, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat membangun kohesi sosial.
Partisipasi Masyarakat yang Terlihat
Parade rakyat juga memperlihatkan dimensi lain yang penting: partisipasi. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton. Mereka menjadi bagian dari kegiatan. Sebagian berjalan dalam rombongan, sebagian menyediakan makanan dan minuman, sebagian memberikan pelayanan, sementara yang lain berpartisipasi dalam berbagai bentuk sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Dalam kegiatan jalan kaki menuju Jamkaran yang berlangsung pada rangkaian Arbain, misalnya, laporan lokal menyebut adanya sekitar 250 mowkeb yang memberikan pelayanan kepada masyarakat dan peserta. Sekitar 3.000 personel layanan kota juga dilaporkan terlibat dalam mendukung kegiatan tersebut. (RS International Blog)
Fenomena tersebut memberikan gambaran bahwa kegiatan masyarakat dalam skala besar membutuhkan bukan hanya kehadiran peserta, tetapi juga jaringan solidaritas dan kerja kolektif.
Bagi Sekolah Negarawan, aspek tersebut menjadi pelajaran menarik mengenai bagaimana sebuah masyarakat mengorganisasikan dirinya untuk sebuah kegiatan bersama.
Bukan Sekadar Kerumunan
Melihat parade rakyat hanya sebagai kerumunan besar tentu tidak cukup. Di balik kerumunan terdapat narasi, simbol, memori kolektif, keyakinan, dan hubungan sosial yang membuat masyarakat bersedia hadir.
Karena itu, bagi seorang calon negarawan, memahami masyarakat tidak cukup hanya dengan memahami struktur politik dan pemerintahan. Seorang negarawan juga perlu memahami apa yang membuat masyarakat bergerak.
Apa yang membuat seseorang bersedia berjalan bersama orang lain? Apa yang membuat masyarakat bersedia menyediakan makanan secara sukarela? Lalu apa yang membuat sebuah kegiatan mampu menghadirkan partisipasi dalam skala besar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena berkaitan dengan modal sosial dan kohesi masyarakat. Dalam konteks inilah parade rakyat Qom menjadi sebuah ruang pembelajaran bagi Sekolah Negarawan.
Membaca Iran dari Kehidupan Rakyat
Perjalanan ke Iran memberikan kesempatan kepada tim Sekolah Negarawan untuk melihat negara tersebut dari berbagai perspektif.
- Ada Iran sebagai negara dengan institusi pemerintahan.
- Ada Iran sebagai pusat pendidikan dan penelitian.
- Ada Iran sebagai negara dengan perkembangan teknologi dan industri.
Namun, ada pula Iran sebagai sebuah masyarakat yang menjalani kehidupan sehari-hari dengan tradisi, keyakinan, kebudayaan, dan solidaritas sosialnya. Parade rakyat memberikan akses untuk melihat dimensi terakhir tersebut.
Di tengah keramaian jalanan Qom, Sekolah Negarawan menemukan bahwa memahami sebuah negara berarti juga memahami masyarakat yang hidup di dalamnya. Sebab, kebijakan negara pada akhirnya selalu berhubungan dengan manusia dengan cara mereka berpikir, berorganisasi, membangun solidaritas, dan memaknai kehidupan bersama.
Dari Qom, Belajar tentang Masyarakat
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman menyaksikan parade rakyat Qom menjadi bagian dari pembelajaran yang lebih luas selama kunjungan ke Iran. Perjalanan tersebut bukan hanya tentang melihat institusi, tetapi juga tentang mengamati bagaimana institusi dan masyarakat saling berhubungan. Parade rakyat menunjukkan sisi masyarakat yang sering kali tidak terlihat dalam pertemuan formal.
Di sana, masyarakat tampil bukan sebagai objek yang diamati, tetapi sebagai aktor yang menciptakan dan menjalankan kehidupan sosialnya sendiri. Dari pengalaman tersebut, Sekolah Negarawan mendapatkan satu pelajaran penting: untuk memahami sebuah negara, kita harus bersedia keluar dari ruang-ruang formal dan melihat langsung kehidupan rakyatnya. Dan di jalan-jalan Kota Qom, melalui sebuah parade rakyat, pelajaran itu hadir dalam bentuk yang sangat nyata.



