beritax.id – Coba pikirkan satu pertanyaan sederhana. Jika besok terjadi krisis pangan besar di desa-desa Jawa, siapa yang pertama kali dicari masyarakat? Apakah bupati, anggota DPR, atau kementerian? Ataukah justru kiai kampung yang bahkan tidak memiliki jabatan formal apa pun?
Jawabannya mungkin tidak nyaman bagi negara modern. Namun, sejarah Indonesia menunjukkan bahwa rakyat tidak selalu mencari siapa yang paling berkuasa. Mereka mencari siapa yang paling mungkin menyelamatkan mereka. Dan dalam sejarah Indonesia, sosok itu sering kali bukan negara.
Ini bukan soal agama melawan negara. Ini juga bukan karena masyarakat desa anti terhadap pemerintah. Ini adalah soal memori kolektif yang dibentuk oleh pengalaman sejarah selama ratusan tahun.
Sejak Awal Negara Tidak Ada
Mari kita kembali ke tahun 1843 di Cirebon. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda memaksa petani menanam tebu, kopi, dan nila melalui sistem tanam paksa. Lahan pangan berkurang drastis, sementara kebutuhan ekspor tetap diprioritaskan.
Ketika produksi pangan runtuh, negara tidak datang untuk menyelamatkan rakyat. Yang dijaga justru target produksi dan pemasukan kolonial. Akibatnya, puluhan ribu orang meninggal akibat kelaparan, busung lapar, dan wabah penyakit. Bagi masyarakat, negara bukan lagi pelindung, melainkan sumber penderitaan.
Belum genap satu dekade kemudian, tragedi serupa terjadi di Demak dan Grobogan pada 1849 hingga 1850. Kombinasi banjir, gagal panen, dan eksploitasi kolonial menyebabkan lebih dari 83.000 orang mengalami kelaparan berat. Beberapa wilayah bahkan kehilangan hampir 9 persen penduduknya hanya dalam waktu satu tahun.
Bayangkan situasinya. Orang-orang memakan dedaunan dan akar-akaran untuk bertahan hidup. Sementara itu, birokrasi kolonial tetap sibuk mengejar target produksi dan menjaga stabilitas administrasi.
Dari sinilah masyarakat desa belajar satu hal penting. Ketika negara gagal menjalankan fungsi paling dasarnya, masyarakat akan mencari perlindungan di tempat lain.
Lupakan Detik-Detik Kemerdekaan
Pola yang sama kembali terjadi pada masa pendudukan Jepang antara 1943 hingga 1945. Beras disita untuk kepentingan perang, jutaan orang dipaksa menjadi romusha, dan ekonomi desa runtuh. Diperkirakan antara 2,4 hingga 4 juta penduduk Indonesia meninggal akibat kelaparan, kerja paksa, dan penyakit.
Ketika negara berubah menjadi alat pemaksa, masyarakat hanya memiliki satu hal yang tersisa, yaitu komunitas. Dalam masyarakat Jawa, komunitas itu hampir selalu memiliki seorang pemimpin moral. Sosok tersebut adalah kiai.
Bahkan setelah Indonesia merdeka, pola itu tidak banyak berubah. Pada tahun 1977, Karawang yang dikenal sebagai lumbung padi nasional justru mengalami krisis kelaparan besar. Lebih dari 50.000 penduduk mengalami kekurangan pangan, dan ribuan lainnya mengalami gizi buruk.
Yang paling ironis bukanlah kelaparannya. Yang paling ironis adalah respons pemerintah. Alih-alih mengakui krisis, pemerintah daerah justru berusaha menutupi fakta yang terjadi.
Kiai Jadi Tempat Cari Solusi
Waktu itu Kiai menjadi tempat teraman bagi masyarakat Indonesia Mengapa kiai bisa tetap dipercaya? Jawabannya dijelaskan oleh James C. Scott melalui konsep moral economy of the peasant. Menurut Scott, masyarakat pedesaan tidak mencari pemimpin yang paling kuat. Mereka mencari pemimpin yang paling mungkin membantu mereka bertahan hidup.
Seorang bupati memiliki kantor, anggaran, dan kewenangan. Namun, seorang kiai memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga. Ia memiliki kepercayaan masyarakat.
Ketika ada warga meninggal, kiai hadir. Ketika ada warga sakit, kiai datang menjenguk. Ketika ada keluarga yang kelaparan, kiai menggerakkan sedekah dan gotong royong.
Pada akhirnya, rakyat tidak selalu mengingat siapa yang memimpin negara saat krisis terjadi. Namun, mereka selalu mengingat siapa yang datang ketika mereka lapar. Dan dalam sejarah panjang Indonesia, sosok itu sering kali adalah kiai.
Di Mana Kiai Hari Ini?
Jika dalam sejarah Indonesia kiai selalu menjadi tempat rakyat berlindung ketika negara gagal hadir, ada satu pertanyaan yang mungkin lebih tidak nyaman untuk dijawab.
Di mana kiai hari ini?
Ketika masyarakat mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang semakin mahal, lapangan pekerjaan yang semakin sulit, dan kehidupan yang terasa semakin berat, mengapa suara kiai tidak lagi terdengar sekeras dulu? Mengapa kita jarang melihat kiai berdiri di garis depan sebagai pembela rakyat kecil, seperti yang pernah dilakukan para pendahulunya?
Mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang masyarakat desa di Indonesia, rakyat akan menghadapi sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kelaparan. Mereka tidak lagi tahu kepada siapa harus percaya.



