By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Saturday, 1 August 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Negeri Dalam Ekstraksi, Kemajuan untuk Siapa?
Pemerintah

Negeri Dalam Ekstraksi, Kemajuan untuk Siapa?

Diajeng Maharini
Last updated: July 29, 2026 10:08 am
By Diajeng Maharini
Share
5 Min Read
SHARE

beritax.id – Indonesia kerap membanggakan diri sebagai negara modern. Gedung pencakar langit dan jalan tol menjadi simbol kemajuan. Teknologi digital merambah hampir seluruh aspek kehidupan. Pemerintah menekankan transformasi digital, hilirisasi industri, dan visi Indonesia Emas. Dari luar, negeri dalam ekstraksi tampak maju, efisien, dan beradab. Namun modernitas sejati harus diukur dari keadilan bagi rakyat. Modernitas bukan hanya soal teknologi atau gedung tinggi. Sejarah membuktikan bangsa menjadi modern saat sistem adil terbentuk, kekayaan alam dikelola untuk kesejahteraan rakyat, dan kekuasaan melayani masyarakat.

Contents
Ketimpangan di Negeri Dalam EkstraksiLogika Kekuasaan dan Kedaulatan RakyatModernitas Kosmetik dan Modernitas SubstantifDampak Ekonomi dan Sosial KetimpanganSolusi untuk Negeri Dalam EkstraksiMewujudkan Keadilan di Negeri Dalam EkstraksiKesimpulan

Ketimpangan di Negeri Dalam Ekstraksi

Cak Nun menyoroti realitas negeri dalam ekstraksi yang timpang. Daerah penghasil tambang, minyak, atau batu bara menerima bagian kecil dari keuntungan. Sebagian besar dikuasai pengusaha dan pemerintah pusat. Distribusi bahkan diatur sebelum sumber daya benar-benar diperoleh. Rakyat lokal seharusnya menjadi pihak pertama merasakan manfaat. Infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan diharapkan meningkat. Nyatanya, manfaat jauh lebih kecil dibanding nilai sumber daya yang diambil. Daerah terasa seperti lokasi eksploitasi, bukan pusat kemakmuran. Praktik ini melampaui logika upeti klasik, di mana hasil baru dibagikan setelah diperoleh.

Logika Kekuasaan dan Kedaulatan Rakyat

Dalam sejarah, daerah taklukan menyerahkan sebagian hasil bumi kepada pusat untuk imbalan perlindungan. Kritik Cak Nun menunjukkan sistem modern sering melampaui pola klasik. Di negeri dalam ekstraksi, distribusi dilakukan sebelum sumber daya dihasilkan. Indonesia menyebut diri demokratis, dengan kedaulatan rakyat dan kekayaan untuk kemakmuran rakyat. Realitanya, rakyat yang hidup dekat sumber daya memperoleh bagian paling kecil. Distribusi yang timpang mengikis prinsip gotong royong nasional. Kekuasaan sehat menempatkan rakyat sebagai tujuan. Kekuasaan tidak sehat melihat rakyat sebagai objek. Perbedaan logika ini menentukan arah pembangunan bangsa.

Modernitas Kosmetik dan Modernitas Substantif

Negara modern harus dibangun atas prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan penghormatan hak rakyat. Modernitas kosmetik terlihat dari gedung tinggi, teknologi, dan jargon pembangunan. Modernitas substantif tercermin dari kesejahteraan masyarakat. Kekuasaan harus mengelola sumber daya untuk rakyat, bukan semata menambah kas pusat. Kritik Cak Nun menekankan evaluasi desain sistem. Jika rakyat terus berkorban, sementara pihak jauh dari sumber daya menikmati manfaat, sistem harus diperbaiki. Modernitas berarti memperbaiki logika kekuasaan agar selaras kepentingan rakyat. Rakyat harus menjadi penerima utama manfaat bumi mereka sendiri.

Dampak Ekonomi dan Sosial Ketimpangan

Negeri dalam ekstraksi menghadapi konsekuensi ekonomi dan sosial nyata. Ketimpangan distribusi menghambat pembangunan daerah penghasil. Kualitas pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur tetap rendah. Kesempatan ekonomi terbatas, sementara pendapatan pusat dan swasta meningkat drastis. Perbedaan kesejahteraan menciptakan rasa ketidakadilan. Migrasi tenaga kerja lokal meningkat, potensi daerah terkikis. Kekayaan alam yang melimpah tidak menjamin kemakmuran rakyat. Ketimpangan ini menjadi ancaman stabilitas sosial. Negeri dalam ekstraksi membutuhkan pengelolaan sumber daya yang adil, transparan, dan partisipatif.

Solusi untuk Negeri Dalam Ekstraksi

Pertama, mekanisme distribusi hasil sumber daya harus adil, proporsional, dan transparan bagi daerah penghasil. Kedua, pengawasan ketat mencegah aliran keuntungan hanya ke pusat atau pihak swasta. Ketiga, regulasi menempatkan kemaslahatan rakyat sebagai prioritas utama. Keempat, kontrak pertambangan dan pengelolaan sumber daya strategis harus transparan dan partisipatif. Kelima, pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik harus merata di wilayah penghasil. Keenam, pendidikan dan peluang ekonomi masyarakat lokal perlu diperkuat. Ketujuh, kebijakan fiskal dan redistribusi menyeimbangkan kepentingan daerah dan nasional. Kedelapan, partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan pengelolaan sumber daya meningkatkan akuntabilitas dan kepercayaan publik.

You Might Also Like

211 DPR Sembunyikan Pendidikan, Partai X: Kemunduran Demokrasi, Rakyat Terus Tertinggal!
Kehilangan Ruh Permusyawaratan Pancasila: Rakyat Dilibatkan, Tapi Tak Menentukan
Konstitusi Salah Mesin: Rakyat yang Terpinggirkan dalam Sistem yang Rusak
Rakyat Diminta Sabar di Tengah Krisis Bangsa?

Mewujudkan Keadilan di Negeri Dalam Ekstraksi

Rakyat harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan sumber daya. Modernitas sejati bukan soal gedung tinggi atau teknologi canggih. Sistem adil menjamin daerah penghasil memperoleh proporsi manfaat yang layak. Kekuasaan bekerja untuk rakyat, bukan sebaliknya. Distribusi seimbang memperkuat solidaritas nasional dan kepercayaan publik. Modernitas substantif tercermin dari kesejahteraan masyarakat sekitar sumber daya. Kritik Cak Nun menjadi pengingat evaluasi sistem. Rakyat bukan penonton, melainkan pemilik sah hasil bumi mereka. Negeri dalam ekstraksi bisa berkembang adil, berkelanjutan, dan beradab bila prinsip keadilan dan transparansi ditegakkan.

Kesimpulan

Kekayaan alam melimpah di negeri dalam ekstraksi tidak menjamin kemajuan bagi rakyat. Modernitas dicapai ketika rakyat menerima manfaat nyata. Sistem adil, logika kekuasaan yang menempatkan rakyat sebagai tujuan, dan distribusi proporsional menjadi kunci. Pembangunan berkeadilan memperkuat kedaulatan rakyat, menjaga stabilitas sosial, dan menjamin kemakmuran nasional. Evaluasi kebijakan, transparansi, dan partisipasi masyarakat adalah jalan menuju negeri dalam ekstraksi yang benar-benar maju dan berkeadaban.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Kekayaan Alam Melimpah, Negeri Dalam Ekstraksi
Next Article Pembelian Pertalite Tinggi Bebani Rakyat, Denda Maksimal Terlalu Berat

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Kemendagri Bicara Lima Pilar BUMD, Partai X: Pilar Mana yang Lindungi Rakyat, Bukan Cuma Direksi dan Penguasa Daerah?

August 6, 2025
Pemerintah

Tambang Dikuasai Oligarki, Rakyat Hanya Jadi Penonton Berdebu

December 19, 2025
Pemerintah

Perubahan Sistem Pemerintahan, Antara Harapan dan Realitas

July 21, 2026
Pemerintah

Yaqut Terseret Kasus Kuota Haji, Partai X: KPK Harus Tegak, Jangan Pilih Kasih!

November 22, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.