By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Saturday, 25 July 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Ketika Sejarah Indonesia Mengaburkan Kebesaran Bangsa
Pemerintah

Ketika Sejarah Indonesia Mengaburkan Kebesaran Bangsa

Diajeng Maharini
Last updated: June 8, 2026 2:54 pm
By Diajeng Maharini
Share
4 Min Read
SHARE

Oleh: Adv. Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

beritax.id – Indonesia sering membanggakan diri sebagai bangsa besar. Namun, kebanggaan tersebut seringkali sulit terlihat dalam cara masyarakat memahami sejarahnya sendiri. Bangsa yang besar bukan hanya diukur dari jumlah penduduk atau luas wilayah, tetapi juga dari kemampuan mengenali akar peradabannya, menghormati leluhur, dan menempatkan masa lalu sebagai fondasi untuk masa depan.

Contents
Sejarah yang Mengikis Kepercayaan DiriNusantara Sebagai Subjek, Bukan Objek SejarahMengembalikan Keseimbangan melalui Sejarah

Sayangnya, banyak generasi muda Indonesia lebih mengenal sejarah bangsa lain daripada sejarah bangsanya sendiri. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa kebanggaan terhadap peradaban Nusantara sering dianggap romantisme, sedangkan kekaguman terhadap peradaban asing dipandang sebagai kemajuan?

Sejarah yang Mengikis Kepercayaan Diri

Dalam forum Maiyah, Cak Nun menekankan bahwa sejarah yang diajarkan selama ini tidak selalu bebas dari kejahatan politik dan kolonialisme. Ia menyebutkan:
“Sejarah versi Belanda sengaja dirancang agar generasi penerus kehilangan kepercayaan terhadap kehebatan leluhur sendiri.”

Pernyataan ini mengingatkan bahwa penjajahan tidak hanya dilakukan melalui senjata, tetapi juga melalui cara berpikir. Ketika suatu bangsa diyakinkan bahwa leluhurnya tidak hebat, bangsa itu kehilangan kebanggaan dan kepercayaan diri. Selanjutnya, ketergantungan terhadap pihak lain menjadi pola yang sulit diubah.

Cak Nun juga menyoroti dampak penjajahan terhadap jiwa masyarakat Nusantara. Nilai-nilai Brahmana dan Satria manusia yang berpikir luas, mengutamakan kemaslahatan, dan menjunjung etika semakin terkikis. Yang tersisa adalah manusia modern yang sibuk mengejar materi, jabatan, dan kepentingan pribadi. Kehidupan modern, yang sering mengukur keberhasilan dengan kekayaan dan popularitas, semakin menjauhkan bangsa Indonesia dari nilai-nilai luhur yang dahulu dijunjung tinggi oleh peradaban Nusantara.

Nusantara Sebagai Subjek, Bukan Objek Sejarah

Sejarah Nusantara sering disederhanakan dalam narasi yang menempatkan wilayah ini sebagai objek, bukan subjek peradaban. Nusantara bukan wilayah kosong yang baru penting setelah kedatangan bangsa Eropa. Nusantara selama berabad-abad merupakan pusat perdagangan, jalur pelayaran, pertukaran budaya, dan pertemuan berbagai peradaban dunia. Akibatnya, generasi muda tumbuh dengan kesadaran yang timpang. Kebanggaan terhadap masa lalu bangsa sendiri perlahan memudar, sementara kekaguman terhadap peradaban asing semakin dominan.

You Might Also Like

Persenjataan Diuji Kemenhan, Partai X: Alutsista Layak, Tapi Rakyat Miskin Tetap Tak Terlindungi!
Ketua RW Gen Z Bertemu Gibran, Partai X: Ini Apresiasi atau Akting Demokrasi Palsu?
Pengamat Sebut Sektor Riset Penting, Partai X: Riset Canggih, Rakyat Tetap Tertinggal!
Stabilitas Harga Pangan, Partai X: Kebijakan Nyata Bukan Slogan Murah

Cak Nun menyoroti bahwa banyak gambaran tokoh dan peristiwa sejarah yang diterima masyarakat hanyalah interpretasi atau imajinasi tertentu. Hal ini membuat sejarah lebih mudah diterima tanpa kritis. Sejarah yang diterima secara pasif membuat bangsa Indonesia kehilangan kemampuan menilai, mempertanyakan, dan mempelajari masa lalunya dengan objektif.

Mengembalikan Keseimbangan melalui Sejarah

Sejarah seharusnya membangun kesadaran kolektif, membantu bangsa memahami siapa dirinya, dari mana asalnya, dan ke mana arah perjalanannya. Sejarah bukan sekadar hafalan tanggal, nama, dan peristiwa untuk ujian. Adapun sejarah adalah sarana untuk mengenal diri sendiri.

Cak Nun menekankan kebesaran Nusantara melalui contoh:
“Kediri sebenarnya merupakan representasi Kerajaan Amarta.”

Pandangan ini mengajak masyarakat melihat Nusantara sebagai pusat peradaban dengan kebesaran tersendiri, bukan hanya sebagai wilayah yang pernah dijajah. Masalah terbesar bangsa Indonesia hari ini bukan kekurangan sumber daya atau jumlah penduduk. Masalah terbesar adalah hilangnya rasa percaya diri sebagai bangsa. Bangsa yang tidak percaya pada sejarah dan kebesaran leluhurnya akan terus mencari validasi dari luar dan kesulitan membangun cita-cita besar.

Tugas generasi sekarang bukan hanya membaca sejarah yang ada, tetapi mempelajari sejarah dengan jujur, kritis, dan mendalam. Setiap sumber perlu diuji, setiap narasi diteliti, dan setiap klaim diperiksa. Tujuannya adalah mengembalikan keseimbangan: membangun bangsa yang sehat, yang mengenali kelebihan dan kekurangannya secara proporsional, tanpa rasa rendah diri maupun kesombongan.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Kekuasaan yang Tidak Mengenal Malu: Paradoks Kemerdekaan Indonesia
Next Article Korupsi dan Krisis Identitas Bangsa

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Bank Negara Menjadi Bank Pemerintah, Publik Kehilangan Kendali

June 29, 2026
Ekonomi

Setiap Kenaikan Harga, Alasan Pemerintah Tetap Sama

December 22, 2025
Pemerintah

Musyawarah Diganti Transaksi: Saat Suara Publik Dikalahkan Lobi

May 21, 2026
Ekonomi

Bagi-Bagi Uang ala Gubernur Konten, Partai X: Kalau Serius, Perbaiki Sistem!

May 22, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.