By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Sunday, 7 June 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Agama > Idul Adha, Pencerahan Zaman, dan Jalan Panjang Kemanusiaan
Agama

Idul Adha, Pencerahan Zaman, dan Jalan Panjang Kemanusiaan

Diajeng Maharini
Last updated: June 6, 2026 3:45 pm
By Diajeng Maharini
Share
8 Min Read
SHARE

Oleh: Syafiih Kamil
Perwakilan Sekolah Negarawan Eropa

beritax.id – Idul Adha tahun ini terasa hadir dengan makna yang lebih dalam daripada sekadar perayaan ritual tahunan. Ia menjadi ruang perjumpaan, perenungan, sekaligus ikhtiar untuk membaca arah zaman yang sedang bergerak cepat. Di kediaman Pak Didin, silaturahmi yang terjalin bukan hanya menghadirkan suasana kekeluargaan, tetapi juga membuka ruang dialog yang hangat mengenai keadaan manusia, bangsa, dan dunia yang tengah berada di persimpangan sejarah.

Dalam kebersamaan itu, kami menyaksikan sebuah film yang memperlihatkan bagaimana kerakusan menjelma menjadi wajah peradaban modern. Papua menjadi salah satu cermin yang memantulkan kenyataan tersebut sebuah gambaran kecil tentang bagaimana manusia sering kali kehilangan keseimbangan dalam relasinya dengan alam, sesama, dan dirinya sendiri. Dan keadaan itu diperparah cipta kondisi Mantra Global Syaitonal Kabir: pertumbuhan ekonomi untuk mengejar inflasi uang kertas pengganti dinar dirham yang telah menyihir seluruh manusia di bumi.
Kapal besar dajjal, cipta kondisi vampirisme, pengganti kapal nuh.

Bersama Mas Farid Gaban, Mas Dandhy, Mas Herta, serta para sahabat yang hadir, percakapan berkembang bukan untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, melainkan untuk belajar melihat dengan lebih jernih.

Barangkali persoalan terbesar zaman ini bukanlah semata krisis ekonomi, politik, atau lingkungan, melainkan krisis kesadaran. Peradaban yang dibangun dengan capaian teknologi yang luar biasa justru sering kehilangan kemampuan untuk mengenali batas-batas dirinya sendiri. Narsisme kolektif, hasrat menguasai, dan keterikatan berlebihan terhadap materi seakan menjadi gejala yang menjangkiti hampir seluruh sendi kehidupan manusia modern. Apa yang dahulu oleh Cak Nun disebut sebagai “peradaban belatung” terasa semakin relevan: sebuah keadaan ketika manusia perlahan-lahan menggerogoti fondasi spiritual dan kemanusiaannya sendiri.

Di tengah kegelisahan tersebut, kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kembali menemukan resonansinya. Ibrahim bukan sekadar figur sejarah keagamaan, melainkan simbol perjalanan manusia dalam melepaskan berbagai bentuk kemelekatan duniawi. Ujian penyembelihan Ismail mengandung pelajaran abadi tentang keberanian untuk menempatkan cinta kepada Tuhan di atas segala sesuatu yang dicintai.

Makna kurban pada akhirnya tidak berhenti pada penyembelihan hewan. Ia adalah ajakan untuk menyembelih ego, keserakahan, ketakutan, dan berbagai hawa nafsu yang menghalangi manusia menemukan kejernihan dirinya. Ketika berbagai lapisan keterikatan itu mulai diluruhkan, maka cahaya kemanusiaan yang sejati yang oleh sebagian tradisi disebut sebagai Nur Muhammad dapat kembali memancar dalam kehidupan manusia.

You Might Also Like

UU Narkoba Ketinggalan, Partai X: Rehabilitasi Itu Hak, Bukan Bonus Kalau Penggunanya Terkenal!
Krisis Konstitusional Berlanjut: Akumulasi Kekuasaan Tanpa Kendali
Rp 1.000 Triliun Terancam Lenyap karena Judi Online, Partai X: Negara Sibuk Sensor Meme, Bisu soal Mafia Digital!
Tata Kelola Kemendikbud Era Nadiem, Hati-hati dengan Nepotisme!

Pesan optimisme yang disampaikan Pak Didin terasa menjadi peneguh suasana. Bahwa sesulit apa pun keadaan dunia hari ini, manusia tidak boleh menyerah kepada keputusasaan. Tangan-tangan yang tulus harus tetap saling menggenggam. Jalan kemanusiaan harus terus dirawat. Sebab perubahan besar tidak pernah lahir dari ketakutan, melainkan dari keberanian untuk tetap menjaga harapan.

Tahun-tahun terakhir ini juga memperlihatkan gejala yang menarik. Berbagai arus pergerakan kemanusiaan yang selama ini berjalan dalam jalurnya masing-masing perlahan mulai menemukan titik-titik jembatan pertemuan . Aktivis sosial, tokoh budaya, pegiat pendidikan, komunitas spiritual, hingga para pemikir kebangsaan mulai membangun jembatan dialog yang lebih luas. Perbedaan metode, pendekatan, maupun latar belakang bukanlah hambatan, melainkan bagian dari sunnatullah yang menjaga kehidupan tetap dinamis.

Sebagaimana sejarah para nabi menunjukkan bahwa petunjuk Tuhan hadir melalui banyak jalan, maka upaya menjaga keseimbangan dunia pun tidak bergerak hanya melalui satu kelompok atau satu golongan. Ada yang bekerja melalui jalur intelektual, ada yang menghidupkan nilai-nilai spiritual, ada yang berjuang di ranah sosial dan kemanusiaan. Semua bergerak dalam orbit yang sama menjaga martabat manusia dan memulihkan keseimbangan kehidupan.

Dalam konteks itulah, beberapa waktu sebelumnya Mas Rinto dan Mas Prayogi dari Sekolah Negarawan berkesempatan bersilaturahmi dengan Ketua Ahlul Bait Indonesia atas saran Mas Hartasning Ichlash. Pertemuan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar membangun keterhubungan yang lebih luas dengan khazanah keilmuan dan spiritualitas dunia Islam, termasuk tradisi kebijaksanaan yang berkembang di Iran.

Menariknya, dalam diskusi Idul Adha tersebut muncul sebuah gagasan yang cukup mendalam mengenai pentingnya kehadiran para tetua bangsa di masa mendatang. Gagasan itu justru disampaikan oleh seorang sahabat asal Belanda, Peter Oorschot, yang melihat bahwa dalam setiap masa transisi besar, selalu muncul sosok-sosok penjaga nilai dan kebijaksanaan yang membantu masyarakat menemukan arahnya kembali. 

Jika di Iran dikenal keberadaan 88 para penjaga kebijaksanaan bangsa yang berperan menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur, maka Indonesia pun kelak membutuhkan hadirnya 99 para orang tua bangsa—tokoh-tokoh yang melampaui kepentingan kelompok dan politik jangka pendek, yang berdiri sebagai penjaga nurani kebangsaan. Sebuah majelis kebijaksanaan yang tidak bertumpu pada kekuasaan, melainkan pada keteladanan, kebijaksanaan, dan pengabdian. Termanifestasi dalam majelis permusyawaratan rakyat agung.

Pemikiran tersebut menemukan relevansinya ketika kita menyaksikan dunia sedang mengalami perubahan besar. Tatanan lama perlahan bergeser. Sistem ekonomi dan keuangan global yang selama puluhan tahun menjadi fondasi kehidupan global sedang mengalami transformasi. Berbagai gejolak geopolitik, perubahan konfigurasi kekuatan dunia, tantangan inflasi, hingga lahirnya teknologi informasi pendisrupsi, menjadi penanda bahwa umat manusia sedang memasuki babak sejarah yang berbeda dari sebelumnya.

Namun di tengah seluruh perubahan itu, masa depan peradaban tidak akan ditentukan semata-mata oleh kekuatan modal, teknologi, atau instrumen ekonomi. Yang akan menjadi penyangga sejati kehidupan adalah manusia-manusia yang mampu menjaga kejernihan hati, ketulusan niat, dan kedekatan kepada Sang Pencipta. Mereka yang mampu menjadi jembatan antara ilmu dan hikmah, antara kemajuan dan kebijaksanaan, antara kekuatan dan kasih sayang.

Mungkin inilah hakikat pencerahan yang banyak dinantikan oleh berbagai tradisi spiritual dunia: bukan sekadar datangnya perubahan politik atau pergantian sistem, melainkan bangkitnya kesadaran manusia untuk kembali mengenali fitrahnya. Sebuah masa ketika pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada keseimbangan; ketika kemajuan tidak hanya diukur dari angka-angka, tetapi juga dari kualitas kemanusiaan; ketika kekuasaan tidak menjadi tujuan, melainkan sarana untuk menghadirkan keadilan dan rahmat bagi seluruh makhluk.

Kompleksitas tantangan global yang kita hadapi hari ini, disertai doa dan ikhtiar jutaan manusia yang tulus di berbagai penjuru bumi, seakan menggerakkan semesta menuju proses pemulihan yang lebih besar. Berbagai keguncangan yang terjadi bukan semata pertanda kehancuran, melainkan bagian dari proses kelahiran sebuah tatanan baru yang lebih seimbang.

Karena itu, tugas kita bukan mempercepat sejarah dengan amarah, melainkan menyambutnya dengan kesadaran. Bukan memperbesar perpecahan, melainkan memperluas persaudaraan. Bukan tenggelam dalam ketakutan, melainkan memperkuat pengabdian.

Di tengah zaman yang bergolak ini, semoga kita semua diberi kemampuan untuk terus menyembelih ego, merawat harapan, menjaga kemanusiaan, dan berjalan bersama menuju cahaya yang lebih terang.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk Agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Taubat”

Bismillah.
Mā syā’ Allāh, lā quwwata illā billāh.
Allāhumma shalli ‘alā Muhammad wa āli Muhammad.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Saat Kekuasaan Terkonsentrasi, Kedaulatan Berpindah Tangan Menguat
Next Article Kedaulatan Berpindah Tangan: Demokrasi Prosedural yang Kehilangan Jiwa

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Purnawirawan Main Belakang, Tuntutan Gibran, Partai X: Sopir Bus Jangan Sopir Taksi!

May 12, 2025
Pemerintah

Birokrasi Menghambat Kemajuan: Ketika Prosedur Mengalahkan Solusi Praktis bagi Rakyat

April 7, 2026
Pemerintah

Konsolidasi Oligarki Tambang lewat Revisi UU Minerba

December 17, 2025
Pemerintah

Kuasa Hukum Bela Nadiem, Partai X: Rakyat Tak Punya Pengacara Mewah!

October 1, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.