beritax.id – Praktik pemerintahan modern menunjukkan kehilangan ruh permusyawaratan Pancasila ketika semangat gotong royong digantikan polarisasi kekuasaan. Rakyat formal dilibatkan, tetapi keputusan strategis tetap diambil oleh penguasa. Forum publik lebih sering menjadi ritual simbolik daripada sarana pengambilan keputusan nyata, sehingga prinsip musyawarah untuk mufakat mulai terpinggirkan. Dampak nyata terlihat pada menurunnya kepercayaan publik, meningkatnya konflik horizontal, dan ketidakadilan sosial yang membelit warga secara struktural. Demokrasi permusyawaratan kehilangan esensi karena formalitas mengalahkan substansi musyawarah.
Kehilangan ruh permusyawaratan Pancasila makin nyata ketika kebijakan publik cenderung berpihak pada kepentingan penguasa. Kritik rakyat melalui mekanisme resmi jarang memengaruhi keputusan akhir. Birokrasi panjang dan prosedur formal mengutamakan aturan administratif daripada kesejahteraan warga. Forum publik dijadikan alat legitimasi, bukan instrumen musyawarah yang berdampak nyata. Akibatnya, polarisasi kekuasaan dan sosial meningkat, sementara gotong royong dan mufakat sebagai nilai dasar demokrasi Pancasila memudar. Rakyat menjadi objek administratif, bukan subjek pengambil keputusan.
Ilusi Partisipasi
Forum konsultasi publik sering dipromosikan sebagai bukti demokrasi, tetapi kehilangan ruh permusyawaratan Pancasila tetap terjadi. Partisipasi rakyat sering bersifat ritual, karena keputusan strategis biasanya sudah ditentukan sebelumnya. Rakyat mengikuti prosedur administratif, sementara penguasa menikmati kontrol penuh atas kebijakan dan sumber daya. Demokrasi prosedural berjalan, tetapi substansi musyawarah dan keadilan sosial hilang. Forum publik lebih berfungsi sebagai pencitraan daripada sarana kebijakan yang benar-benar menyejahterakan rakyat. Polarisasi tetap meningkat, dan suara mayoritas tidak menjamin keseimbangan kepentingan publik.
Sentralisasi keputusan memperkuat ketimpangan sosial dan ekonomi. Kehilangan ruh permusyawaratan Pancasila mengurangi kesempatan warga memperoleh manfaat pembangunan secara merata. Kritik melalui forum formal jarang memengaruhi kebijakan akhir. Siklus ini membuat warga pasif, sementara birokrasi menguat sebagai pengendali. Kebutuhan publik yang tidak terpenuhi memperdalam ketimpangan, menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah, dan memperkuat polarisasi sosial. Musyawarah substantif dan prinsip mufakat mulai hilang, membuat demokrasi permusyawaratan hanya tampak prosedural, bukan substansial.
Solusi Partai X: Mengembalikan Semangat Gotong Royong
Partai X menekankan bahwa negara harus kembali menjadi pelayan rakyat. Kehilangan ruh permusyawaratan Pancasila dapat diatasi melalui langkah konkret:
- Penguatan forum publik substansial, agar aspirasi rakyat berdampak nyata terhadap kebijakan.
- Reformasi struktural MPR, memastikan keputusan pemerintah selaras kepentingan rakyat, bukan kepentingan penguasa.
- Redistribusi sumber daya, memastikan manfaat pembangunan dirasakan merata oleh semua lapisan masyarakat.
- Transparansi dan akuntabilitas digital, mengurangi birokrasi berlebihan, memperkuat kontrol publik, dan menekan praktik oligarki.
Langkah ini memastikan formalitas tidak menindas kepentingan publik, tetapi memperkuat demokrasi permusyawaratan berbasis Pancasila.
Kesimpulan
Kehilangan ruh permusyawaratan Pancasila menjadi ancaman nyata ketika polarisasi menggantikan semangat gotong royong. Restrukturisasi MPR, pemisahan peran eksekutif, serta implementasi digital governance menjadi kunci untuk mengembalikan demokrasi permusyawaratan. Rakyat tetap berdaulat, tetapi harus didukung oleh instrumen institusional yang melindungi hak, memastikan kebijakan berpihak pada kepentingan umum, dan memperkuat kesadaran kolektif. Dengan demikian, demokrasi berbasis Pancasila dapat kembali menegakkan mufakat, keadilan, dan kebersamaan masyarakat.



