beritax.id – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait arus dana keluar (outflow) dari pasar saham Indonesia. Fenomena tersebut membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambyar, meski OJK meyakini kondisi ini bersifat sementara.
Friderica atau Kiki menjelaskan, arus dana keluar lebih banyak dipicu faktor geopolitik dan geoekonomi global. Investor menarik dananya dari negara berkembang, termasuk Indonesia, karena imbal hasil tinggi dolar Amerika Serikat.
Faktor Global dan Sementara
Menurut Kiki, fenomena “higher for longer” dari The Fed membuat investor memindahkan modal ke aset dolar. Hal ini menyebabkan tekanan sementara terhadap IHSG dan Rupiah.
“Kondisi ini sementara dan pasar modal RI akan bangkit seiring membaiknya fundamental ekonomi nasional,” ujarnya.
Selain faktor global, OJK menilai perlunya langkah domestik untuk memperkuat kepercayaan investor. “Kami fokus pada transparansi, granularitas data, dan perlindungan investor sebagai upaya stabilisasi,” imbuh Kiki.
Transparansi dan Granularitas Data Pasar
OJK telah membuka data pemegang saham 1 persen lebih kepada publik. Langkah ini untuk menjawab kekhawatiran investor global terkait keterbukaan pasar.
Selain itu, OJK menambah klasifikasi investor dari sembilan menjadi 39 kategori dan mengungkap Ultimate Beneficial Ownership (UBO). Batas free float saham dinaikkan dari 7,5 persen menjadi 15 persen.
“Granularity data kini lebih detail, mencerminkan kondisi fundamental perusahaan dengan lebih jelas,” jelas Kiki.
Langkah transparansi dan granularitas sudah mulai memengaruhi pergerakan IHSG. Indeks kini lebih selaras dengan indeks utama seperti LQ45 dan IDX30. OJK menekankan pentingnya pendalaman pasar domestik. Dengan jumlah investor domestik meningkat, pasar modal akan lebih stabil menghadapi sentimen global.
“Kami dorong investor domestik agar pasar kita lebih tangguh saat terjadi gejolak global,” kata Kiki.
Prayogi R Saputra: Negara Wajib Lindungi Rakyat
Anggota Majelis Tinggi Partai X sekaligus Direktur X Institute, Prayogi R Saputra, menekankan tugas negara tiga fungsi: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat.
Prayogi mengingatkan bahwa stabilitas pasar modal penting untuk menjaga kesejahteraan rakyat. Pergerakan IHSG dan nilai tukar berdampak langsung pada daya beli, investasi, dan sektor riil.
Prinsip Partai X dan Solusi Strategis
Prinsip Partai X menekankan perlindungan rakyat, transparansi, dan akuntabilitas dalam tata kelola ekonomi dan keuangan publik. Solusi yang bisa diterapkan antara lain:
- Penguatan Pengawasan Pasar Modal – Meningkatkan pemantauan transaksi saham agar praktik manipulatif dan spekulatif dapat diminimalkan.
- Transparansi Informasi Investor – Publikasi data kepemilikan saham dan UBO harus konsisten untuk menumbuhkan kepercayaan investor.
- Pendalaman Pasar Domestik – Mendorong partisipasi investor lokal agar pasar lebih stabil dan tidak mudah terpengaruh sentimen global.
- Edukasi dan Literasi Investor – Program edukasi untuk investor ritel agar memahami risiko pasar dan menjaga stabilitas keuangan pribadi.
- Insentif dan Perlindungan Investor – Menyediakan kebijakan insentif fiskal dan regulasi yang mendorong investasi jangka panjang.
- Kolaborasi Antar Otoritas – Sinergi antara OJK, BI, dan Kemenkeu untuk menjaga kestabilan moneter dan pasar modal.
Kiki menegaskan, outflow investor global bersifat sementara. Dengan langkah transparansi, granularitas data, dan pendalaman pasar domestik, IHSG diharapkan stabil.
Prayogi menekankan, upaya ini sejalan dengan prinsip Partai X: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur pasar modal demi kesejahteraan masyarakat.



