beritax.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo melaporkan kondisi Rupiah kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan, meski saat ini Rupiah mengalami undervalue, stabilitas dan penguatan nilai tukar akan tercapai ke depan. Perry menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 sebesar 5,61%, inflasi rendah, cadangan devisa kuat, dan kredit meningkat. Semua faktor ini seharusnya mendukung stabilitas Rupiah. Namun, dalam jangka pendek, Rupiah menghadapi tekanan hingga menembus Rp 17.400 per US$. Perry menyebut terdapat dua faktor utama, yakni global dan musiman.
Harga minyak yang tinggi, suku bunga Amerika Serikat meningkat, serta penguatan Dollar menjadi tekanan utama pada Rupiah. Imbal hasil obligasi US Treasury 10 tahun meningkat hingga 4,47%, mendorong pelarian modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Perry menegaskan, “Terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia menjadi salah satu faktor undervalue Rupiah saat ini.” Kondisi global ini bersifat eksternal dan tidak sepenuhnya dapat dikontrol pemerintah.
Pengaruh Faktor Musiman
Selain tekanan global, faktor musiman juga memengaruhi nilai tukar. Pada April hingga Juni, permintaan dolar meningkat untuk pembayaran repatriasi dividen, utang luar negeri, dan keberangkatan jamaah haji.
Menurut Perry, “Rupiah undervalue, tetapi ke depan akan stabil dan cenderung menguat. Tekanan saat ini bersifat sementara dan terprediksi.”
Bank Indonesia bersama pemerintah tengah mengambil langkah-langkah stabilisasi. Perry menegaskan koordinasi dengan Kemenko Perekonomian untuk menjaga pasar tetap kondusif. Langkah-langkah ini meliputi intervensi pasar dan penguatan cadangan devisa.
Gubernur BI menekankan, kebijakan stabilisasi Rupiah harus selaras dengan kepentingan rakyat. Nilai tukar yang stabil mendukung daya beli masyarakat dan menekan inflasi biaya kebutuhan pokok.
Prayogi R Saputra: Negara Wajib Lindungi Rakyat
Anggota Majelis Tinggi Partai X sekaligus Direktur X Institute, Prayogi R Saputra, menekankan tiga tugas utama negara: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat.
Menurut Prayogi, stabilisasi Rupiah merupakan instrumen krusial untuk melindungi daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, dari gejolak global.
Prinsip Partai X dan Solusi Strategis
Prinsip Partai X menekankan integritas, transparansi, dan kepentingan rakyat dalam kebijakan ekonomi. Berdasarkan prinsip itu, solusi untuk menjaga Rupiah mencakup:
- Koordinasi Fiskal dan Moneter – BI dan pemerintah menyelaraskan kebijakan suku bunga, cadangan devisa, dan inflasi.
- Pengawasan Pasar Modal – Memastikan pelarian modal dari emerging market diminimalkan dengan mekanisme regulasi dan pengawasan.
- Kebijakan Stabilitas Nilai Tukar – Intervensi pasar melalui devisa, dan komunikasi publik untuk menenangkan ekspektasi pelaku pasar.
- Dukungan Investasi Domestik – Mengarahkan aliran investasi ke sektor produktif agar Rupiah mendapat dukungan fundamental ekonomi riil.
- Perlindungan Daya Beli Rakyat – Stabilitas nilai tukar digunakan untuk menekan inflasi kebutuhan pokok, mendukung konsumsi masyarakat.
- Transparansi dan Komunikasi Publik – Informasi nilai tukar, inflasi, dan kebijakan BI disampaikan terbuka untuk mengurangi spekulasi pasar.
Tekanan terhadap Rupiah bersifat sementara, namun koordinasi antara BI, pemerintah, dan sektor swasta sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi. Dengan menerapkan prinsip Partai X, langkah stabilisasi Rupiah tidak hanya menjaga pasar finansial, tetapi juga melindungi kesejahteraan rakyat, meningkatkan transparansi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.



