By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Sunday, 21 June 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Sistem Presidensial Menghancurkan: Ketika Utang Lebih Penting dari Rakyat
Pemerintah

Sistem Presidensial Menghancurkan: Ketika Utang Lebih Penting dari Rakyat

Diajeng Maharini
Last updated: April 30, 2026 2:39 pm
By Diajeng Maharini
Share
8 Min Read
Sistem Presidensial Menghancurkan: Ketika Utang Lebih Penting dari Rakyat
SHARE

beritax.id – Bagi banyak orang Indonesia, istilah ‘negara gagal’ mungkin terasa berlebihan. Kita masih memiliki pemilu, pembangunan, jalan tol, dan bandara baru. Namun, bila kita menggunakan parameter Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kenyataannya jauh lebih suram. Sistem presidensial menghancurkan upaya untuk menciptakan pemerintahan yang lebih responsif terhadap kebutuhan rakyat, karena konsentrasi kekuasaan yang terpusat pada satu figur sering kali mengarah pada keputusan yang lebih mengutamakan proyek besar dan ambisius daripada memprioritaskan sektor vital seperti pendidikan dan kesehatan. Hal ini semakin memperburuk ketergantungan negara pada utang luar negeri, di mana bunga utang yang terus meningkat justru lebih besar dari anggaran untuk kebutuhan dasar masyarakat.

Laporan PBB melalui UNCTAD berjudul A New World of Debt 2025 mengungkapkan tren yang mengkhawatirkan. Di banyak negara berkembang, pembayaran bunga utang tumbuh lebih cepat dibandingkan anggaran pendidikan dan kesehatan. Bahkan dalam beberapa kasus, beban bunga utang melebihi dua sektor vital tersebut.

Celios (Center of Economic and Law Studies) mencatat bahwa selama 2015–2025, belanja bunga utang Indonesia lebih besar dari anggaran kesehatan. Pada 2024, rasio beban bunga utang terhadap anggaran kesehatan mencapai sekitar 266%, dan diperkirakan masih sekitar 253% pada 2025. Dibandingkan anggaran pendidikan, bunga utang mencapai sekitar 85% pada 2024 dan 76,3% pada 2025.

Sekjen PBB António Guterres menyatakan, jika suatu negara lebih banyak menghabiskan anggarannya untuk membayar bunga utang dibandingkan untuk pendidikan dan kesehatan, itu adalah tanda kegagalan sistemik. Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, menyimpulkan bahwa Indonesia bisa dikategorikan sebagai negara gagal secara sistemik karena utang yang diambil pemerintah belum sebanding dengan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus diajukan bukanlah “Apakah Indonesia menuju negara gagal?” tetapi “Kenapa sistem negara kita menghasilkan kegagalan seperti ini, meskipun ekonomi terlihat tumbuh?”

Tiga Organ Dasar dalam Sistem Pemerintahan yang Sehat

Untuk memahami akar masalah ini, kita perlu kembali pada desain sistem pemerintahan yang sehat. Setiap organisasi membutuhkan tiga organ utama:

You Might Also Like

Trans Jatim Terancam Setop, Partai X: Pemangkasan TKD, Rakyat yang Kena!
Harga Beras Aceh Rp33 Ribu, Partai X Dukung Langkah Amran Cepat Tangani
Presiden ke Brunei, Partai X: Jalan-jalan Diplomatik Terus, Masalah Dalam Negeri Masih Diam di Tempat!
Kasus Korupsi Eks Dirjen SDA Rugikan Rakyat, Tindak Tegas Pelaku
  1. Organ No.1 – Pengambil Keputusan Tertinggi
    Organ ini adalah simbol kedaulatan dan penjaga konstitusi. Tugas utama Organ No.1 adalah menjaga keseimbangan kekuasaan, bukan mengurus hal teknis sehari-hari. Dalam negara ideal, Organ No.1 adalah penjaga arah negara.
  2. Organ No.2 – Pengurus atau Pelaksana
    Ini adalah manajemen eksekutif. Di negara, ini adalah kepala pemerintahan yang memimpin kabinet, menyusun kebijakan, dan mengelola birokrasi. Tugasnya adalah memastikan pemerintahan berjalan dengan baik.
  3. Organ No.3 – Pengawas atau Dewan Kontrol
    Organ ini berfungsi sebagai pengawas untuk memastikan Organ No.2 tidak menyimpang. Dalam negara, ini mencakup parlemen, lembaga audit, badan pemeriksa, dan sistem hukum. Tugasnya adalah menjaga akuntabilitas.

Ketiga organ ini harus terpisah agar tidak ada pihak yang memiliki kekuasaan untuk membuat aturan, mengeksekusi, dan mengawasi dirinya sendiri.

Masalah Utama: Penyatuan Organ No.1 dan No.2 dalam Sistem Presidensial

Indonesia menganut sistem presidensial. Namun, masalah muncul karena sistem ini menyatukan dua organ yang seharusnya terpisah, yaitu Presiden sebagai Kepala Negara (Organ No.1) dan Kepala Pemerintahan (Organ No.2). Dalam praktiknya, ini menggabungkan dua peran yang sangat berbeda dalam satu figur:

  • Presiden sebagai simbol kedaulatan dan penjaga konstitusi
  • Presiden juga bertugas sebagai pelaksana kebijakan dan pengendali birokrasi

Desain ini cacat dalam prinsip governance, karena menggabungkan peran pemilik legitimasi tertinggi dengan pelaksana teknis harian. Ketika Organ No.1 dan No.2 disatukan, terciptalah jalur kekuasaan tunggal yang sulit dikontrol. Jika Organ No.3 (pengawas) lemah, maka potensi penyalahgunaan kekuasaan semakin besar.

Konsentrasi Kekuasaan: Jalan Cepat Menuju Negara Gagal

Ketika Presiden merangkap sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, beberapa dampaknya menjadi sangat serius:

  • Presiden menjadi penentu arah dan visi negara
  • Presiden menyusun dan menjalankan kebijakan, serta mengontrol birokrasi
  • Presiden memegang akses ke anggaran, utang, dan proyek-proyek populis

Pada tahap tertentu, kritik terhadap pemerintah dapat dianggap sebagai kritik terhadap negara itu sendiri. Ini adalah ciri dari konsentrasi kekuasaan yang berbahaya, di mana negara direduksi menjadi satu figur, dan figur tersebut melebur dengan negara.

Secara praktis, sistem ini menghasilkan kebijakan fiskal yang cenderung populis, ambisi proyek besar yang dibiayai utang, sementara sektor-sektor penting seperti pendidikan dan kesehatan dikorbankan. Selain itu, ruang koreksi terhadap pemerintah menjadi semakin sempit karena kritik dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas negara.

Negara Maju Memisahkan Organ No.1 dan No.2

Beberapa negara demokratis yang relatif stabil, seperti Belanda, Inggris, Jepang, Kanada, dan negara-negara Nordik, memisahkan dengan jelas peran Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Hal ini memberi berbagai keuntungan, antara lain:

  • Kebijakan negara tidak terjebak dalam siklus pemilu lima tahunan
  • Krisis pemerintahan dapat diredam tanpa mengguncang legitimasi negara secara keseluruhan
  • Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan lebih mudah dikontrol

Dengan pemisahan ini, kegagalan seorang Perdana Menteri tidak otomatis mengguncang legitimasi negara secara total. Sebaliknya, Indonesia masih menumpuk segala kekuasaan dalam jabatan Presiden.

Presidensialisme Rentan terhadap Krisis dan Korupsi

Kajian ilmiah, termasuk dari Juan J. Linz, ilmuwan politik dari Yale University, menunjukkan bahwa sistem presidensial lebih rentan terhadap krisis, terutama di negara yang masyarakat dan partainya terbelah. Beberapa masalah yang sering muncul dalam sistem presidensial adalah:

  • Pemilu presiden yang menciptakan polarisasi tajam
  • Konflik antara eksekutif dan legislatif yang sulit untuk diselesaikan
  • Presiden yang terdorong menggunakan anggaran dan utang untuk menjaga popularitas, bukan untuk memperkuat institusi jangka panjang

Indonesia, dengan utang yang membengkak, bunga utang yang menggerus anggaran publik, serta pengawasan fiskal yang lemah, menunjukkan bahwa desain sistem presidensial justru memperburuk keadaan.

Indonesia: Potensi Besar dengan Pondasi yang Retak

Adapun Indonesia sering disebut negara besar dengan potensi luar biasa. Namun, potensi tersebut dibangun di atas pondasi yang rapuh:

  • Penyatuan Organ No.1 dan No.2 dalam satu jabatan presiden
  • Pengawasan yang lemah dan terkooptasi
  • Ketergantungan pada utang dan populisme fiskal

Dengan desain sistem presidensial yang cacat, Indonesia terus menghadapi krisis utang, ketimpangan, dan kehilangan kepercayaan publik.

Solusi: Memperbaiki Desain Sistem Pemerintahan

Untuk mengatasi masalah ini, beberapa solusi yang dapat dipertimbangkan adalah:

  1. Pemisahan Peran Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan
    Memisahkan kedua peran ini untuk menghindari konsentrasi kekuasaan dalam satu figur.
  2. Penguatan Lembaga Pengawas
    Memperkuat lembaga pengawas seperti parlemen dan lembaga audit agar lebih efektif mengontrol kebijakan pemerintah.
  3. Prioritaskan Pembangunan Jangka Panjang
    Mengalihkan fokus dari populisme jangka pendek menuju kebijakan yang berfokus pada pembangunan berkelanjutan.
  4. Transparansi Pengelolaan Anggaran
    Meningkatkan transparansi dalam pengelolaan anggaran dan utang untuk memastikan akuntabilitas.

Tanggapan Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menegaskan bahwa tugas negara adalah melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Negara harus mengutamakan kesejahteraan rakyat daripada mempertahankan citra kekuasaan.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Sistem presidensial menghancurkan Dari Desain ke Dampak, Sistem Presidensial Menghancurkan Negara
Next Article Harga Minyak, Gula, dan Beras Naik, Ingatkan Jangan Bebani Rakyat!

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Retorika pejabat klasik
Pemerintah

Mengapa Semua Masalah Masih Dalam Pembahasan? Sebuah Retorika Pejabat Klasik

June 19, 2026
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Kebenaran Hasil Negosiasi: Antara Fakta dan Kepentingan

April 23, 2026
Ekonomi

Pertamina Tinjau Ketahanan Energi di Babel, Partai X Desak Jangan Cuma Tinjau, Tapi Bongkar Skema Kartel Energi!

August 4, 2025
Pemerintah

KPK Diminta Usut Tuntas Suap Bea Cukai untuk Rakyat

June 2, 2026
Pemerintah

Kajian Terkait Program Sekolah Rakyat, Fokus Tingkatkan Manfaatnya

May 6, 2026
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.