By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Thursday, 30 April 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Sistem Presidensial Menghancurkan: Kedaulatan Melebur dalam Kekuasaan
Pemerintah

Sistem Presidensial Menghancurkan: Kedaulatan Melebur dalam Kekuasaan

Diajeng Maharani
Last updated: April 30, 2026 2:39 pm
By Diajeng Maharani
Share
7 Min Read
Sistem presidensial menghancurkan
SHARE

beritax.id – Meskipun Indonesia masih menyelenggarakan pemilu dan terus mengembangkan infrastruktur, ada ancaman besar yang tersembunyi. Menggunakan parameter Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), situasi yang lebih gelap muncul. Laporan PBB, A New World of Debt 2025, menunjukkan bahwa belanja untuk membayar bunga utang di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, semakin melampaui anggaran untuk sektor penting seperti pendidikan dan kesehatan. Bunga utang yang lebih besar dari anggaran sektor vital ini mencerminkan kegagalan sistemik. Sistem presidensial menghancurkan upaya-upaya untuk mengatasi masalah ini, karena konsentrasi kekuasaan yang berlebihan di tangan satu pihak menghambat proses pengambilan keputusan yang lebih inklusif dan transparan, memperburuk ketergantungan fiskal negara pada utang luar negeri dan menambah beban pada rakyat. 

Menurut Celios (Center of Economic and Law Studies), sepanjang 2015–2025, belanja bunga utang Indonesia lebih besar dari anggaran kesehatan. Pada 2024, rasio bunga utang terhadap anggaran kesehatan diperkirakan mencapai 266%, dan 253% pada 2025. Di sisi pendidikan, bunga utang juga jauh melebihi anggaran pendidikan, mencapai 85% pada 2024 dan 76,3% pada 2025.

Sekjen PBB, António Guterres, menjelaskan bahwa jika negara lebih banyak mengalokasikan anggaran untuk bunga utang ketimbang untuk pendidikan dan kesehatan, ini menunjukkan kegagalan sistemik negara bekerja untuk melayani kreditur, bukan warganya. Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menegaskan bahwa jika menggunakan parameter PBB, Indonesia dapat dikategorikan sebagai negara gagal secara sistemik.

Namun, pertanyaannya bukan hanya “Apakah Indonesia menuju negara gagal?” tetapi “Mengapa sistem kenegaraan kita menghasilkan kegagalan ini, meskipun ekonomi terlihat tumbuh?” Untuk menjawabnya, kita perlu menganalisis desain sistem presidensial yang diterapkan di Indonesia.

Desain Sistem Pemerintahan yang Sehat: Tiga Organ Utama

Untuk mengerti akar masalah, kita perlu memulai dengan konsep dasar sistem pemerintahan yang sehat. Setiap organisasi yang baik baik itu negara, perusahaan, atau lembaga memerlukan tiga organ utama:

  1. Organ No.1 – Pengambil Keputusan Tertinggi
    Ini adalah simbol kedaulatan dan penjaga konstitusi negara. Tugas utama Organ No.1 adalah menjaga keseimbangan kekuasaan, bukan mengelola urusan sehari-hari. Organ ini mengawasi arah negara tanpa terlibat langsung dalam detail operasional.
  2. Organ No.2 – Pengurus atau Pelaksana
    Ini adalah manajemen eksekutif negara. Organ No.2 terdiri dari kepala pemerintahan yang memimpin kabinet, mengelola birokrasi, dan menyusun serta menjalankan kebijakan negara. Organ ini bertanggung jawab untuk memastikan program pemerintah berjalan lancar.
  3. Organ No.3 – Pengawas atau Dewan Kontrol
    Organ ini berfungsi untuk mengawasi agar Organ No.2 tidak menyimpang dari tugasnya dan memastikan bahwa Organ No.1 tetap dihormati. Di negara, ini adalah peran parlemen, lembaga audit, dan sistem hukum yang ada untuk menjaga akuntabilitas pemerintah.

Ketiga organ ini, menurut prinsip yang sehat, harus terpisah. Organisasi harus tetap berjalan meskipun orang yang memegang jabatan dalam organ-organ ini berganti.

You Might Also Like

Hunian Layak, Partai X: Rakyat Butuh Tempat Tinggal, Bukan Janji!
Rekrutmen Pejabat Patronase: Menjaga Kekuasaan, Bukan Meningkatkan Kualitas Pemerintahan
Sekolah Negarawan Menyelenggarakan Kegiatan Sinau Kebangsaan Pada Hari Pahlawan
Tunjangan DPR Dialihkan ke Honorer, Partai X: Honorer Butuh, Rakyat Lupa Diperhatikan!

Masalah Besar: Penyatuan Organ No.1 dan No.2 dalam Sistem Presidensial

Masalah utama dalam desain sistem pemerintahan Indonesia adalah penyatuan dua organ yang seharusnya terpisah. Presiden Indonesia berperan sebagai Kepala Negara (Organ No.1) sekaligus Kepala Pemerintahan (Organ No.2). Dalam satu figur, terkumpul:

  • Simbol kedaulatan dan penjaga konstitusi
  • Pelaksana kebijakan dan pengendali birokrasi

Desain ini cacat secara governance. Sebuah organisasi modern yang sehat tidak akan menggabungkan peran simbol negara dan pelaksana teknis dalam satu figur. Hal ini menciptakan jalur kekuasaan tunggal yang sulit dikontrol. Bila Organ No.3 (pengawas) lemah, kekuasaan menjadi tak terkendali.

Konsekuensi Konsentrasi Kekuasaan: Populisme dan Utang

Konsentrasi kekuasaan dalam satu figur presiden memunculkan banyak konsekuensi serius. Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, presiden memiliki:

  • Kekuatan untuk menentukan arah dan kebijakan negara
  • Kontrol atas birokrasi dan aparat kekuasaan
  • Akses penuh terhadap anggaran dan utang

Akibatnya, kebijakan fiskal bisa jatuh pada populisme utang yang lebih berfokus pada citra dan elektabilitas, daripada pada pembangunan jangka panjang. Ambisi proyek besar yang dibiayai utang sering mengorbankan sektor vital seperti pendidikan dan kesehatan. Kritik terhadap kebijakan pemerintah kadang dianggap sebagai ancaman terhadap negara, yang menyempitkan ruang bagi kritik dan perbaikan.

Negara Maju Memisahkan Organ No.1 dan No.2

Di negara-negara dengan demokrasi stabil, seperti Belanda, Inggris, Jepang, dan Kanada, kepala negara dan kepala pemerintahan dipisahkan. Kepala negara berperan sebagai simbol kedaulatan, sementara kepala pemerintahan (perdana menteri) yang menjalankan pemerintahan harian.

Keuntungan dari pemisahan ini antara lain:

  • Kebijakan negara tidak sepenuhnya tergantung pada siklus pemilu lima tahunan
  • Krisis pemerintahan dapat diredam tanpa merusak legitimasi negara
  • Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan lebih terkendali

Dengan pemisahan ini, negara tidak dikendalikan oleh satu figur yang memonopoli simbol negara dan mesin kekuasaan.

Presidensialisme Rentan dan Penyalahgunaan Kekuasaan

Kajian ilmiah, seperti yang dilakukan oleh Juan J. Linz, menunjukkan bahwa sistem presidensial cenderung lebih rentan daripada sistem parlementer, terutama di negara yang terbelah. Beberapa masalah yang sering muncul dalam sistem presidensial antara lain:

  • Pemilu presiden yang zero-sum, memperburuk polarisasi kekuasaan
  • Konflik antara eksekutif dan legislatif yang mudah buntu
  • Penyalahgunaan anggaran untuk menjaga popularitas

Data menunjukkan bahwa sistem presidensial cenderung meningkatkan tingkat korupsi di negara-negara yang menerapkannya.

Indonesia: Potensi Besar dengan Pondasi yang Retak

Indonesia memiliki potensi besar, namun fondasi kekuasaannya retak. Penyatuan Organ No.1 dan No.2 dalam figur presiden dan lemahnya pengawasan dari Organ No.3 membuat sistem Indonesia rapuh. Utang digunakan sebagai instrumen kekuasaan, sementara sektor vital seperti pendidikan dan kesehatan terus terabaikan.

Penyalahgunaan kekuasaan dan kebijakan populis yang didorong oleh kebutuhan jangka pendek justru semakin menjauhkan negara dari tujuan utamanya: kesejahteraan rakyat.

Solusi: Revisi Desain Sistem Pemerintahan

Untuk memperbaiki kondisi ini, beberapa solusi yang dapat dipertimbangkan adalah:

  1. Pemisahan Kekuasaan: Memisahkan peran Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan untuk menghindari konsentrasi kekuasaan.
  2. Penguatan Pengawasan: Memperkuat lembaga pengawas seperti parlemen dan lembaga audit agar lebih efektif mengawasi kebijakan pemerintah.
  3. Prioritaskan Pembangunan Jangka Panjang: Mengutamakan kebijakan yang lebih fokus pada investasi untuk masa depan, bukan populisme utang.
  4. Transparansi Anggaran: Meningkatkan transparansi dalam pengelolaan anggaran dan utang negara.

Tanggapan Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, mengingatkan bahwa tugas negara adalah melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Oleh karena itu, kebijakan negara harus berfokus pada kepentingan jangka panjang rakyat, bukan hanya mempertahankan kekuasaan dalam jangka pendek.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Dari Utang ke Populisme, Sistem Presidensial Menghancurkan Perlahan
Next Article Sistem presidensial menghancurkan Saat Kritik Dianggap Ancaman, Sistem Presidensial Menghancurkan Demokrasi

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Regulasi Melampaui Batas: Badan Gizi dan Erosi Prinsip Konstitusi

December 9, 2025
KriminalSosial

11.850 Kasus Kekerasan, Partai X: Negara Diam, Perempuan Terus Jadi Korban Tanpa Perlindungan Nyata!

June 18, 2025
Ekonomi

Oplosan Terus Berulang, Partai X: Kalau yang Diaduk Beras, Lalu Siapa yang Mengaduk Hati Nurani Pemerintah?

July 16, 2025
Pemerintah

Cak Nun: Kita Butuh Konstitusi yang Lahir dari Rahim Bangsa Sendiri

June 27, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.