beritax.id – Arus disinformasi media sosial kini menjadi salah satu faktor utama yang membentuk opini publik di Indonesia, mengalahkan verifikasi fakta dan jurnalisme yang bertanggung jawab. Di tengah banjir konten viral, kebenaran sering kali tenggelam oleh narasi sensasional, potongan informasi menyesatkan, dan propaganda digital yang dikemas sebagai suara rakyat.
Platform digital memberi ruang luas bagi siapa pun untuk berbicara. Namun tanpa filter etika dan verifikasi, ruang ini juga dipenuhi:
- Informasi setengah benar
- Judul provokatif yang menyesatkan
- Potongan video di luar konteks
- Narasi yang dimanipulasi
- Serangan terkoordinasi terhadap kelompok tertentu
Akibatnya, yang paling cepat menyebar bukanlah kebenaran, melainkan konten yang paling memancing emosi.
Algoritma, Buzzer, dan Industri Disinformasi
Disinformasi tidak lagi bersifat sporadis. Ia tumbuh sebagai industri:
- Didorong oleh algoritma yang mengutamakan interaksi
- Diproduksi oleh jaringan akun anonim dan buzzer
- Diperkuat oleh konten kreator berbayar
- Disirkulasikan secara terencana di berbagai platform
Dalam sistem ini, kebenaran kalah bersaing dengan kebohongan yang dikemas menarik.
Tanggapan Prayogi R. Saputra: Negara Tidak Boleh Netral terhadap Kebohongan
Anggota Majelis Tinggi Partai X sekaligus Direktur X Institute, Prayogi R. Saputra, menilai disinformasi sebagai ancaman langsung terhadap demokrasi dan ketahanan sosial.
“Tugas negara itu tiga: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Jika negara membiarkan disinformasi merajalela, maka negara gagal melindungi rakyat dari manipulasi, gagal melayani kebutuhan mereka akan kebenaran, dan salah dalam mengatur ruang digital,” tegas Prayogi.
Ia menambahkan:
“Melindungi rakyat hari ini bukan hanya soal ekonomi dan keamanan fisik, tetapi juga melindungi akal sehat publik. Negara tidak boleh kalah oleh kebohongan yang diproduksi secara sistematis.”
Menurutnya, demokrasi tidak runtuh karena perbedaan pendapat, tetapi karena fakta dikalahkan oleh kebisingan.
Dampak Nyata bagi Masyarakat
Dominasi disinformasi media sosial menimbulkan berbagai konsekuensi:
- Polarisasi sosial yang tajam
- Mudahnya konflik horizontal dipicu hoaks
- Menurunnya kepercayaan pada institusi publik
- Kebijakan dinilai berdasarkan emosi, bukan data
- Masyarakat sulit membedakan kritik, propaganda, dan fakta
Dalam jangka panjang, publik kehilangan pegangan bersama tentang realitas.
Solusi: Menyelamatkan Ruang Digital dari Disinformasi
Prayogi R. Saputra mendorong langkah konkret dan terukur:
1. Regulasi tegas terhadap industri disinformasi
Menindak jaringan buzzer dan produsen hoaks terorganisir.
2. Transparansi konten berbayar
Semua konten pesanan wajib diberi label jelas.
3. Penguatan literasi digital nasional
Agar masyarakat mampu memverifikasi informasi secara mandiri.
4. Kolaborasi negara–platform digital
Untuk membatasi penyebaran konten menyesatkan terkoordinasi.
5. Perlindungan dan penguatan jurnalisme berkualitas
Media independen harus diperkuat sebagai rujukan publik yang kredibel.
Penutup
Media sosial boleh ramai, tetapi demokrasi tidak boleh dibangun di atas kebohongan. Ketika disinformasi mengalahkan kebenaran, yang runtuh bukan hanya kualitas diskusi publik, melainkan fondasi kepercayaan sosial itu sendiri.
Seperti diingatkan Prayogi R. Saputra, negara harus kembali pada mandat dasarnya: melindungi rakyat dari manipulasi, melayani mereka dengan kebenaran, dan mengatur ruang digital agar tidak berubah menjadi ladang kebohongan massal.



