By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Saturday, 31 January 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Tak Ada Pembangunan Proyek Tanpa Harga, Tapi Mengapa Rakyat yang Membayar?
Pemerintah

Tak Ada Pembangunan Proyek Tanpa Harga, Tapi Mengapa Rakyat yang Membayar?

Diajeng Maharani
Last updated: December 15, 2025 1:44 pm
By Diajeng Maharani
Share
5 Min Read
SHARE

beritax.id – Setiap kali pemerintah meluncurkan proyek strategis entah itu bendungan, pembangkit listrik, jalan baru, atau kawasan industri selalu muncul narasi bahwa pembangunan proyek membutuhkan “harga” yang harus dibayar. Tetapi pertanyaan yang terus berulang dari masyarakat adalah mengapa harga itu selalu dibebankan kepada rakyat, bukan kepada mereka yang mengambil keuntungan?

Ketika hutan dibuka, masyarakat hilir yang kebanjiran. Ketika bukit dipapas, warga yang kehilangan rumah. Dan ketika izin diberikan tanpa batas, rakyat yang menanggung risikonya.

Pembangunan seharusnya menghadirkan kemajuan, bukan memindahkan beban dari negara kepada warga paling rentan.

Ketimpangan Risiko yang Selalu Sama: Korporasi Untung, Warga Menanggung

Dalam banyak kasus, termasuk di Batang Toru dan Tapanuli, pola yang muncul selalu serupa:

  • perusahaan mendapatkan konsesi,
  • pemerintah mengklaim investasi,
  • namun masyarakat sekitar mendapat risiko ekologis.

PLTA Batang Toru, misalnya, dipromosikan sebagai proyek energi hijau dan kebanggaan nasional. Namun dampaknya tidak hijau bagi warga sekitar:

  • bukit menjadi rawan longsor,
  • aliran sungai berubah,
  • ribuan hektare hutan hilang,
  • dan habitat satwa unik punah sebelum dilindungi.

Ketika bencana akhirnya datang, suara yang disalahkan bukanlah kebijakan, tetapi “cuaca ekstrem”. Harga pembangunan dibayar rakyat, sementara mereka yang mengambil keputusan berdiri jauh dari lokasi kejadian.

You Might Also Like

Pengoplosan Gas Masih Marak! Partai X Desak Aparat: Jangan Cuma Gertak, Tindak Tegas!
Mahfud MD soal Korupsi Haji, KPK Harus Tegakkan Keadilan!
Negara Tidak Sama dengan Pemerintah dan Inilah Akibat Jika Disamakan
Media Alat Kekuasaan Pemerintah dan Defisit Akuntabilitas

Di tingkat lokal, kebijakan tidak jauh berbeda. Alih-alih melakukan evaluasi terhadap izin-izin perusahaan besar, pemerintah daerah justru memilih narasi aman: menyalahkan hujan, menyederhanakan bencana, dan menghindari tanggung jawab.

Padahal laporan organisasi lingkungan telah bertahun-tahun mengingatkan risiko:

  • hilangnya penyangga ekologis,
  • pelanggaran terhadap kawasan lindung,
  • dan lemahnya pengawasan terhadap akses industri.

Namun pemerintah lebih memilih “harga kekuasaan paling murah” yaitu mengalihkan perhatian publik, bukan menegakkan regulasi yang semestinya.

Rakyat Membayar Dua Kali: Kerusakan dan Ketidakadilan

Ketika pembangunan dilakukan tanpa mitigasi yang kuat, rakyat bukan hanya membayar dengan kehilangan lahan atau rumah. Mereka juga membayar dengan hilangnya kesempatan hidup layak:

  • mereka kehilangan mata pencaharian,
  • harus pindah tanpa kompensasi yang jelas,
  • menanggung biaya kesehatan akibat pencemaran,
  • dan menanggung ancaman bencana sepanjang tahun.

Pembangunan yang seharusnya menciptakan kesejahteraan malah menciptakan ketidakpastian.

Dan ketika kerusakan semakin parah, alasan mulai bermunculan: “demi energi nasional”, “demi investasi”, “demi pembangunan daerah”.

Namun tak satu pun alasan itu mengembalikan hutan yang hilang atau rumah yang hanyut.

Prayogi R. Saputra: “Kalau rakyat terus yang membayar harga pembangunan, negara sedang salah arah”

Menanggapi pola pembangunan yang tidak adil, Anggota Majelis Tinggi Partai X sekaligus Direktur X Institute Prayogi R. Saputra memberikan pernyataan tegas:

“Tugas negara itu tiga: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Tapi yang terjadi justru sebaliknya rakyat dibiarkan menanggung risiko, sementara negara mengatur untuk kepentingan yang lebih kuat.”

Ia menegaskan bahwa negara tidak boleh membiarkan rakyat menjadi korban permanen atas kebijakan yang tidak berpihak pada keselamatan.

“Kalau harga pembangunan dibayar dengan nyawa, rumah, dan lingkungan, itu bukan pembangunan itu kelalaian yang dilegalisasi.”

Solusi: Pembangunan Harus Maju, Tapi Bebannya Bukan untuk Rakyat

Partai X menawarkan rangkaian solusi konkret untuk memastikan pembangunan tidak lagi menjadikan rakyat sebagai penanggung biaya:

  • Wajibkan analisis risiko sosial-ekologis yang transparan
    Dokumen harus dibuka ke publik, bukan hanya untuk kepentingan investor.
  • Perketat izin proyek strategis, khususnya di kawasan rawan bencana
    Tidak ada proyek besar tanpa audit ekologis independen.
  • Terapkan prinsip “polluters pay”
    Korporasi wajib menanggung seluruh biaya pemulihan lingkungan dan kompensasi sosial.
  • Bentuk mekanisme pengawasan publik terhadap proyek energi dan pertambangan
    Komunitas lokal harus diberi hak veto terhadap proyek yang mengancam keselamatan.
  • Prioritaskan pembangunan berbasis keselamatan rakyat, bukan kepentingan modal
    Setiap proyek harus lolos dua syarat: aman bagi lingkungan, aman bagi masyarakat.
  • Perkuat mitigasi bencana dan restorasi kawasan kritis
    Dengan anggaran jelas, bukan simbolis.

Pembangunan memang punya harga. Tapi harga itu seharusnya dibayar oleh negara yang mengambil kebijakan dan korporasi yang memperoleh keuntungan bukan rakyat yang hidup paling dekat dengan dampaknya.

Jika pembangunan terus dilakukan tanpa keadilan ekologis dan sosial, maka yang disebut kemajuan hanyalah ilusi. Sudah waktunya negara berhenti membiarkan rakyat membayar kerugian dari kesalahan yang bukan mereka buat.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Bagaimana Menghadapi Tantangan dan Risiko dari Inovasi Baru?
Next Article Ketika Pemerintah Minta Rakyat Legowo, Rakyat Minta Pemerintah Waras

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Korporasi Global Menguasai: Mempengaruhi Kebijakan Ekonomi Negara dengan Modal Besar

January 30, 2026
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Dibilang Aman, Tapi Warga Papua Justru Mengungsi

December 19, 2025
Pendidikan

Sekolah Garuda Siapkan Generasi Unggul, Partai X: Pendidikan Jangan Hanya Untuk Pejabat!

September 23, 2025
Pemerintah

Presiden ke Brunei, Partai X: Jalan-jalan Diplomatik Terus, Masalah Dalam Negeri Masih Diam di Tempat!

May 15, 2025
Pemerintah

Ketika Pengaruh Dibeli: Konten Kreator Bayaran

January 14, 2026
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Hot
  • Politics
  • Renewable Energy
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.