beritax.id – Selama bertahun-tahun, pendidikan di negeri ini diarahkan untuk mengejar angka, ranking, dan sertifikasi. Sekolah menjadi pabrik nilai, bukan ruang pembentukan karakter. Siswa diajari bagaimana lulus, bukan bagaimana menjadi manusia yang bertanggung jawab. Hasilnya terlihat hari ini: banyak pemimpin yang lahir dari kelas-kelas sekolah, tetapi tidak membawa nilai moral yang seharusnya ditanamkan sejak dini. Pendidikan yang melupakan karakter hanya akan melahirkan generasi yang pintar, tapi tidak bijak.
Kurikulum dipenuhi berbagai mata pelajaran teknis, tetapi ruang untuk menumbuhkan empati, integritas, kejujuran, keberanian, dan etika semakin menyempit. Siswa sibuk mengejar tugas, bukan membangun kepekaan sosial. Guru kelelahan memenuhi administrasi, bukan mengajarkan nilai-nilai hidup. Sekolah berlomba-lomba dengan prestasi akademik, tetapi lupa bahwa pendidikan sejati tidak hanya mengukur kepala, tetapi juga hati. Ketika nilai hilang, moral ikut hilang.
Krisis Etika di Tengah Kekuasaan Berakar dari Pendidikan yang Kosong
Setiap hari publik disuguhi berita tentang penyalahgunaan jabatan, korupsi, manipulasi kewenangan, dan pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat. Masalah ini tidak hadir tiba-tiba mereka adalah buah dari pendidikan yang gagal menanamkan nilai moral. Pemimpin yang lahir dari ruang kelas tanpa pendidikan karakter akan tumbuh menjadi pejabat yang merasa kekuasaan adalah hak, bukan amanah. Kekuasaan tanpa moral mudah berubah menjadi penyalahgunaan.
Sekolah bukan sekadar tempat belajar matematika dan bahasa. Ia adalah institusi yang seharusnya menanamkan nilai paling dasar: menghormati, bertanggung jawab, jujur, dan peduli pada sesama. Namun ketika sekolah lebih sibuk memenuhi indikator administratif daripada membangun kepribadian, maka nilai moral perlahan terhapus dari proses pendidikan. Negara tidak hanya membutuhkan orang cerdas negara membutuhkan orang yang benar.
Masyarakat Menanggung Dampak dari Pendidikan yang Tidak Berkarakter
Jika pendidikan gagal, bangsa yang menanggung akibatnya. Pemimpin tanpa moral melahirkan kebijakan tanpa keberpihakan. Pejabat tanpa nilai menghasilkan sistem tanpa keadilan. Dan masyarakat dipaksa hidup dalam ketidakpastian karena keputusan publik diambil oleh mereka yang tidak memiliki kompas etis. Ini bukan sekadar masalah akademik ini masalah masa depan bangsa.
Solusi: Kembalikan Pendidikan pada Misi Mulianya Membentuk Karakter Bangsa
Untuk memperbaiki akar persoalan moral di negeri ini, pendidikan harus dikembalikan kepada esensinya: membentuk manusia beradab. Nilai harus menjadi pondasi, bukan pelengkap. Kurikulum harus memuat pembelajaran karakter yang nyata, bukan sekadar jargon. Guru perlu diberdayakan untuk membimbing, bukan hanya mengajar materi.
Sekolah harus menjadi ekosistem yang mempromosikan kejujuran, empati, disiplin, dan tanggung jawab. Sistem evaluasi pendidikan perlu diarahkan agar tidak hanya menilai angka, tetapi juga perkembangan karakter siswa. Negara harus memperbaiki tata kelola pendidikan agar bebas dari intervensi kekuasaan, memastikan setiap anak mendapatkan pendidikan yang memanusiakan, bukan sekadar mengajar. Ketika pendidikan kembali menanamkan nilai, bangsa akan kembali memiliki pemimpin yang bermoral.
Kesimpulan: Moral Pemimpin Adalah Cermin dari Pendidikan yang Membangun Mereka
Pemimpin tidak tumbuh dari ruang kosong. Mereka datang dari rumah, sekolah, dan sistem pendidikan yang membentuk mereka. Jika hari ini banyak pemimpin kehilangan moral, itu pertanda pendidikan telah kehilangan jiwanya.
Pendidikan tanpa nilai akan terus melahirkan pemimpin tanpa moral. Dan bangsa tanpa pemimpin bermoral tidak akan pernah bergerak maju.



