beritax.id – Beberapa tahun terakhir, kita sering mendengar istilah wicked problem digunakan untuk menjelaskan berbagai persoalan besar yang menghantui bangsa ini, seperti korupsi, kemiskinan, ketimpangan sosial, birokrasi yang macet, dan pendidikan yang tidak merata. Isu-isu tersebut sering dipandang sebagai masalah yang terlalu rumit dan hampir mustahil diselesaikan. Namun, apakah kita benar-benar menghadapi masalah yang tak teratasi, atau sebenarnya kita hanya berhadapan dengan kerusakan negara yang telah lama dibiarkan? Apakah kompleksitas ini benar-benar tak bisa diselesaikan, atau hanya sebuah ilusi yang diciptakan untuk menormalisasi ketidakmampuan negara?
Wicked Problem: Ilusi Ketidakmungkinan
Istilah wicked problem awalnya digunakan dalam dunia perencanaan kebijakan untuk menggambarkan masalah yang begitu kompleks sehingga tidak dapat diselesaikan dengan solusi teknis yang sederhana. Dalam konteks akademik, istilah ini memiliki tempat. Namun, dalam praktiknya, istilah ini seringkali disalahgunakan sebagai alat untuk menghindari pertanyaan lebih jauh mengenai akar penyebab masalah. Seiring waktu, wicked problem bukan lagi menjadi alat analisis, tetapi berubah menjadi alibi bagi ketidakmampuan negara dalam menyelesaikan masalah yang seharusnya dapat diatasi.
Masalah yang disebut wicked bukanlah masalah yang terlampau rumit atau tak teratasi. Masalah sebenarnya adalah kegagalan negara yang sejak awal salah desain. Negara yang seharusnya melayani rakyat dan melindungi kepentingan umum, justru terjebak dalam ketidakjelasan struktur kekuasaan, ketidaktransparanan, dan ketidakadilan. Di sinilah wicked problem berubah menjadi ilusi sebuah narasi yang diterima begitu saja, yang membuat rakyat menerima kegagalan negara sebagai sesuatu yang tak terhindarkan.
Kerusakan Negara yang Sistemik: Desain yang Salah Sejak Awal
Dalam kerangka Sekolah Negarawan, persoalan besar bangsa ini harus dilihat dari desain negara itu sendiri: filosofi negara, struktur ketatanegaraan, dan pembagian kewenangan. Negara yang didesain untuk tidak adil, tidak transparan, dan tidak akuntabel, akan terus memproduksi masalah yang tampaknya tak terpecahkan. Namun, masalah ini bukan berasal dari kompleksitas yang tak dapat dipahami, melainkan dari desain negara yang rusak.
Contoh nyatanya adalah ketidakadilan dalam sistem pajak, kebocoran dalam kebijakan publik, dan hukum yang tidak mengayomi rakyat. Semua ini bukan masalah yang tak bisa diselesaikan itu adalah masalah desain kekuasaan yang perlu dikoreksi. Ketika negara gagal dalam membangun struktur yang berpihak pada rakyat, semua masalah yang muncul akan tampak seperti wicked problems. Padahal, itu adalah hasil dari kesalahan dasar dalam perancangan negara.
Menghadapi Kerusakan: Membenahi Desain Negara dengan Berani
Solusi sejati untuk masalah-masalah besar bangsa ini bukanlah melanjutkan narasi tentang kompleksitas yang tak terpecahkan. Sebaliknya, kita harus berani melihat masalah dari akar penyebabnya: desain negara yang salah. Negara yang sehat dan berfungsi dengan baik harus memiliki struktur yang jelas, transparan, dan akuntabel. Negara yang berani melakukan perubahan struktural dan menata ulang relasi antara negara, pemerintah, dan rakyat akan dapat mengatasi tantangan-tantangan yang ada.
Menghadapi wicked problems tidak bisa dilakukan hanya dengan kebijakan yang tampaknya canggih, tetapi sejatinya tidak menyentuh akar masalah. Negara yang tidak takut untuk melakukan perubahan sistemik akan menemukan cara untuk mengatasi masalahnya. Negara yang terus menggunakan istilah wicked problem sebagai alibi untuk tidak melakukan perubahan, justru akan terus berputar dalam lingkaran kegagalan.
Kesimpulan:
Menggunakan wicked problem sebagai penjelasan untuk masalah yang seharusnya dapat dipecahkan hanyalah cara untuk menormalisasi kerusakan negara. Ketika negara gagal memberikan solusi yang nyata dan berpihak pada rakyat. Kita tidak sedang berhadapan dengan masalah kompleks yang tak bisa dipecahkan, tetapi dengan kerusakan struktural yang sudah lama dibiarkan. Negara yang sehat tidak akan menutupi kegagalannya dengan istilah yang canggih. Melainkan akan berani mengoreksi desainnya demi menciptakan masa depan yang lebih baik dan adil bagi rakyat.



