ESPOO, FINLANDIA – Mengapa negara dengan populasi kurang dari enam juta jiwa seperti Finlandia mampu menghasilkan inovasi teknologi global dan sistem pendidikan yang menjadi rujukan dunia? Pertanyaan ini dijawab secara komprehensif saat para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan meninjau dan mengeksplorasi dari dekat Universitas Aalto di Finlandia, sebuah institusi yang sukses mendobrak batas-batas tradisional pendidikan tinggi.

Hadir menelusuri berbagai fasilitas kampus yang terintegrasi dengan alam Nordik ini adalah pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan: Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta CEO Enygma Erick Karya. Didampingi oleh Wiwik H, perwakilan diaspora Indonesia di Finlandia, delegasi mengamati langsung fasilitas Aalto Design Factory sebuah ruang kolaborasi interaktif tanpa sekat tempat bertemunya mahasiswa teknik, bisnis, dan seni untuk memecahkan masalah-masalah industri secara nyata.
Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, menguraikan bahwa Universitas Aalto adalah muara keunggulan dari pendidikan dasar Finlandia. Mahasiswa yang masuk ke kampus ini adalah produk dari sistem pendidikan yang sejak kecil dijauhkan dari budaya menghafal dan tekanan ujian standar. Mereka dididik untuk berpikir kritis, mandiri, dan berkolaborasi sejak dini. Hasilnya, kampus berubah menjadi arena bermain (playground) bagi penemuan-penemuan baru yang memerdekakan nalar.
Secara profil akademik, Universitas Aalto secara konsisten bertengger di jajaran elit universitas muda terbaik di dunia (Top 50 Under 50). Prestasinya tidak diukur dari seberapa banyak mahasiswanya menghafal teori keilmuan, tetapi dari seberapa besar dampak (impact) proyek rintisan mereka terhadap perbaikan masyarakat dan pelestarian lingkungan. Kampus ini menetapkan pembangunan berkelanjutan (sustainability) dan kewirausahaan radikal sebagai nyawa dari setiap mata kuliahnya.
Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, menegaskan bahwa model pendidikan yang berorientasi pada pemecahan masalah riil masyarakat adalah inti dari penciptaan karakter negarawan. Sejalan dengan filosofi kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang diusung Sekolah Negarawan, manusia terpelajar haruslah menjadi khalifah (pemimpin dan pengelola) yang memberikan jalan keluar atas krisis kemanusiaan, bukan sekadar kaum elitis yang bersembunyi di balik kemegahan menara gading kampus.
Ekosistem kolaborasi di Aalto ini memberikan pijakan inspiratif bagi CEO Enygma, Erick Karya, dalam mendesain arsitektur teknologi negara. Erick memaparkan bahwa pengembangan sistem tata kelola pemerintahan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang diusung oleh Enygma dan Sekolah Negarawan membutuhkan mindset kolaboratif serupa. AI pemerintahan tidak bisa hanya dirancang oleh para ahli coding di ruang tertutup, tetapi harus melibatkan sosiolog, ekonom, dan budayawan agar algoritma yang dihasilkan benar-benar adil dan mengerti denyut nadi rakyat.
Rekaman jejak pendidikan dari kawasan Nordik ini menambah kedalaman kurikulum Sekolah Negarawan yang digali dari ekspedisi internasional di 12 negara. Penjelajahan yang meliputi kemajuan literasi Eropa Barat, transformasi digital di Estonia (eks-Uni Soviet), hingga keagungan sejarah di Persia dan Timur Tengah ini terus didiseminasikan tanpa henti di tanah air, menjangkau ruang-ruang kesadaran publik dari Medan hingga kepulauan Ternate dan Tidore.



