TEHERAN — Sekolah Negarawan memprakarsai pertemuan musisi Muslim Mustafa Debu dengan Menteri Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araghchi di Teheran sebagai bagian dari diplomasi budaya yang membawa pesan perdamaian dan kemanusiaan antara masyarakat Iran dan Amerika.
Pertemuan tersebut berlangsung pada malam 28 Agustus 2026 di Restoran Parmin, Azadi Persian Hotel, Teheran. Mustafa dan Araghchi berbincang dalam suasana informal yang hangat. Percakapan keduanya kemudian menarik perhatian publik setelah rekaman pertemuan tersebut beredar di media sosial.
Pemilihan Mustafa Debu untuk dipertemukan dengan Araghchi memiliki alasan tersendiri. Mustafa lahir dan tumbuh di Amerika Serikat sebelum memutuskan hijrah ke Indonesia ketika berusia 17 tahun pada 1999. Di Indonesia, ia kemudian menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim dan dikenal sebagai musisi yang tergabung dalam grup Debu.
Perjalanan hidup tersebut membuat Mustafa memiliki pengalaman lintas budaya yang unik. Ia memiliki latar belakang kehidupan di Amerika, kemudian membangun kehidupan di Indonesia serta aktif dalam lingkungan Muslim melalui karya seni dan musik. Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menjadi nilai simbolik yang memperlihatkan bahwa perbedaan latar belakang tidak menghalangi manusia untuk saling bertemu dan membangun komunikasi.
Dalam konteks tersebut, pertemuan Mustafa dengan Araghchi menjadi gambaran bahwa hubungan antarmanusia dapat dibangun melalui jalur kebudayaan. Pertemuan itu tidak dirancang sebagai pembicaraan resmi, melainkan sebagai ruang perjumpaan yang membawa pesan bahwa masyarakat dari berbagai latar belakang tetap dapat berdialog dan membangun saling pengertian.
Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra PhD bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs Abdullah Assegaf saat itu sedang menjalankan rangkaian agenda kunjungan selama sekitar dua pekan di Iran. Salah satu fokus kegiatan tersebut adalah membangun jejaring internasional melalui pendidikan, kebudayaan, serta berbagai pertemuan dengan tokoh dan lembaga di Iran.
Mustafa sendiri hadir di Iran sebagai musisi Muslim yang mendapat undangan dalam rangkaian Konferensi Persatuan Islam. Momentum tersebut kemudian menjadi ruang bagi Sekolah Negarawan untuk mempertemukannya dengan Araghchi sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi melalui pendekatan budaya.
Bagi Sekolah Negarawan, diplomasi budaya memiliki kekuatan karena mampu menghadirkan hubungan yang lebih dekat melalui pengalaman manusia. Musik, seni, agama, dan perjalanan kehidupan seseorang dapat menjadi jembatan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai negara.
Pertemuan Mustafa dan Araghchi karena itu memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar percakapan informal. Seorang musisi dengan pengalaman hidup di Amerika dan Indonesia dapat duduk bersama dengan seorang pejabat tinggi Iran dalam suasana yang terbuka dan penuh penghormatan.
Momen tersebut menunjukkan bahwa hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun melalui pertemuan resmi, tetapi juga melalui interaksi manusia, kebudayaan, dan nilai kemanusiaan. Sekolah Negarawan berharap pendekatan semacam ini dapat memperluas cara pandang mengenai hubungan internasional dengan menempatkan manusia sebagai bagian penting dalam membangun jembatan perdamaian.



