TEHERAN — Pesan mengenai pentingnya kehidupan berdampingan yang disampaikan dalam pidato pembukaan Festival Kehidupan Berdampingan di Universitas Internasional Mazhab-Mazhab Islam, Teheran, mendapat perhatian khusus dari Sekolah Negarawan. Bagi Sekolah Negarawan, kehidupan berdampingan bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas kepemimpinan. Ketika masyarakat terdiri atas berbagai identitas, kelompok, tradisi, dan pandangan, kemampuan pemimpin dalam mengelola perbedaan akan menentukan apakah keragaman menjadi kekuatan atau justru memicu perpecahan.
Pandangan tersebut menjadi bagian dari refleksi delegasi Sekolah Negarawan setelah mengikuti pembukaan festival tersebut. Delegasi yang hadir terdiri atas Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta Direktur International Affairs Abdullah Assegaf. Dalam kegiatan itu, delegasi berinteraksi dengan jajaran Universitas Internasional Mazhab-Mazhab Islam, termasuk Dr. Mahdi Jamalifa selaku Vice Chancellor for Cultural and Student Affairs.
Menurut perspektif Sekolah Negarawan, pidato pembukaan festival menyampaikan persoalan mendasar mengenai bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat menjadi kekuatan yang menyatukan manusia. Nilai tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk memperlebar jarak antarindividu maupun kelompok. Pemikiran ini menjadi semakin penting karena masyarakat modern menghadapi tingkat keragaman yang semakin kompleks dalam berbagai aspek kehidupan.
Perbedaan mazhab, pemikiran, kebudayaan, pandangan sosial, dan identitas masyarakat merupakan kenyataan yang tidak dapat dihapuskan. Karena itu, tantangan seorang pemimpin bukan menghilangkan perbedaan, melainkan menciptakan ruang agar keberagaman dapat berjalan secara damai dan saling menghormati. Kepemimpinan yang matang diperlukan agar setiap kelompok merasa dihargai dan memiliki tempat dalam kehidupan bersama.
Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW memberikan berbagai contoh mengenai pentingnya kepemimpinan yang mampu menjaga keharmonisan masyarakat. Peristiwa Hajar Aswad menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan yang berpotensi menimbulkan konflik antarkelompok dapat diselesaikan melalui pendekatan yang adil dan melibatkan semua pihak. Rasulullah SAW juga menunjukkan melalui pembangunan masyarakat Madinah bahwa kesepakatan dan penghormatan terhadap perbedaan menjadi fondasi penting dalam menciptakan kehidupan bersama.
Bagi Sekolah Negarawan, inti dari pelajaran tersebut berada pada kemampuan pemimpin dalam menghadirkan ruang bersama bagi seluruh masyarakat. Seorang pemimpin tidak boleh hanya berdiri untuk kepentingan kelompok tertentu, tetapi harus mampu memahami kebutuhan masyarakat secara menyeluruh. Kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan bersama akan menciptakan rasa percaya dan memperkuat hubungan antarmasyarakat.
Hal tersebut menjadikan kehidupan berdampingan memiliki hubungan erat dengan pendidikan negarawan. Seorang negarawan harus memiliki kemampuan untuk berdiri di tengah keberagaman, mendengarkan berbagai pandangan, serta mencari titik temu yang dapat menjaga kepentingan bersama. Kemampuan tersebut menjadi salah satu karakter penting dalam membangun masyarakat yang kuat dan harmonis.
Sekolah Negarawan memandang bahwa forum seperti Festival Kehidupan Berdampingan bukan hanya kegiatan kebudayaan maupun akademik. Festival tersebut dapat menjadi ruang pembelajaran untuk merumuskan kembali model kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan zaman. Di tengah meningkatnya perbedaan pandangan dalam masyarakat, kemampuan berdialog dan membangun hubungan yang saling menghormati menjadi semakin penting.
Selain itu, perkembangan dunia digital juga menghadirkan tantangan baru dalam menjaga kehidupan bersama. Arus informasi yang cepat sering kali membuat perbedaan pendapat mudah berubah menjadi pertentangan. Karena itu, pendidikan kewargaan perlu memperkuat kemampuan masyarakat dalam memahami bahwa perbedaan pandangan bukan alasan untuk menciptakan permusuhan.
Dari respons Sekolah Negarawan terhadap pidato pembukaan Festival Kehidupan Berdampingan tersebut, muncul satu gagasan utama bahwa kehidupan berdampingan membutuhkan manusia yang mampu menjadi jembatan di tengah keberagaman. Jembatan tersebut dibangun melalui pendidikan kepemimpinan yang mengajarkan tanggung jawab, kebijaksanaan, dan kepedulian terhadap sesama. Seorang negarawan tidak dipersiapkan untuk memperbesar sekat di tengah masyarakat, tetapi untuk menemukan jalan agar berbagai perbedaan dapat berjalan menuju tujuan bersama.



