beritax.id – Potret pertumbuhan ekonomi Indonesia kerap ditampilkan dengan narasi optimistis: ekonomi disebut pulih, inflasi terkendali, dan indikator makro menunjukkan tren positif. Namun jika ditarik ke tingkat masyarakat, realitas yang muncul justru jauh dari gambaran tersebut. Di balik klaim pemulihan, banyak warga masih menghadapi tekanan hidup, ketidakpastian kerja, dan daya beli yang belum sepenuhnya kembali.
Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah dan otoritas ekonomi menekankan bahwa pertumbuhan tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Namun bersamaan dengan itu, publik juga menyaksikan maraknya pemutusan hubungan kerja di sektor padat karya, melemahnya konsumsi rumah tangga, serta meningkatnya proporsi pekerja informal. Pemulihan yang diklaim tampak berjalan tidak seiring antara data dan kehidupan nyata.
Angka Makro Naik, Kehidupan Mikro Tertahan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini banyak ditopang oleh sektor-sektor tertentu seperti komoditas, perbankan, dan aktivitas padat modal. Sektor ini memang mengerek angka PDB, tetapi kontribusinya terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan rumah tangga relatif terbatas.
Sebaliknya, sektor industri manufaktur dan usaha kecil yang menyerap banyak tenaga kerja justru mengalami tekanan. Akibatnya, pertumbuhan terlihat kuat di atas, tetapi tertahan di bawah.
Pemulihan yang Tidak Merata
Klaim pemulihan ekonomi juga berbenturan dengan fakta meningkatnya biaya hidup. Harga pangan bergejolak, biaya pendidikan dan kesehatan terus naik, sementara upah riil banyak pekerja stagnan. Dalam kondisi seperti ini, pemulihan ekonomi tidak dirasakan sebagai kemajuan, melainkan sebagai perjuangan bertahan.
Fenomena deflasi dan inflasi rendah yang muncul bersamaan dengan melemahnya konsumsi justru menjadi sinyal bahwa masyarakat menahan belanja karena keterbatasan pendapatan.
Risiko Ilusi Pemulihan
Mengandalkan klaim pemulihan berbasis angka tanpa memperhatikan realita sosial berisiko menciptakan ilusi stabilitas. Ketika rumah tangga dan pekerja tidak benar-benar pulih, fondasi ekonomi nasional menjadi rapuh. Konsumsi domestik melemah, ketimpangan melebar, dan kepercayaan publik terhadap kebijakan ikut menurun.
Pemulihan yang tidak inklusif pada akhirnya hanya akan memperpanjang masalah struktural.
Solusi: Menyatukan Data dan Kenyataan
Agar potret pertumbuhan ekonomi tidak berhenti pada klaim, diperlukan langkah kebijakan yang lebih membumi, antara lain:
- Menjadikan kualitas pertumbuhan sebagai prioritas, bukan sekadar angka PDB.
- Mendorong penciptaan kerja layak dan formal, khususnya di sektor padat karya dan industri bernilai tambah.
- Memperkuat daya beli masyarakat, dengan kebijakan upah yang adil dan perlindungan sosial yang memadai.
- Mengendalikan biaya hidup esensial, terutama pangan, pendidikan, dan kesehatan.
- Memastikan pemulihan yang inklusif dan merata, sehingga manfaat pertumbuhan dirasakan oleh mayoritas rakyat.
Potret pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya indah di laporan, tetapi juga terasa dalam kehidupan sehari-hari. Selama klaim pulih belum sejalan dengan realita rakyat, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menyisakan pekerjaan besar yang belum tuntas.



