beritax.id – Di tengah tekanan hidup yang kian berat harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja tak pasti, dan bencana sosial-ekologis berulang publik kembali dikejutkan oleh wacana peningkatan fasilitas pejabat negara atau tunjangan pemerintah. Alih-alih menunjukkan empati, kebijakan yang muncul justru memperlihatkan jurang yang makin lebar antara penguasa dan rakyat.
Rencana kenaikan tunjangan perumahan DPR hingga Rp 50 juta per bulan memicu gelombang protes di berbagai kota pada akhir Agustus hingga awal September. Demonstrasi ini bukan reaksi berlebihan, melainkan akumulasi kekecewaan publik terhadap pejabat yang dinilai tidak peka terhadap kondisi rakyat.
Bagi masyarakat yang masih kesulitan mengakses hunian layak, angka tersebut terasa mencolok. Tunjangan pejabat menjadi simbol ketimpangan bahwa kenyamanan pejabat diprioritaskan, sementara beban hidup rakyat diminta ditanggung sendiri.
Diamnya Penjelasan, Ramainya Kecurigaan
Situasi semakin memperburuk kepercayaan publik ketika pertanyaan mengenai dasar perhitungan tunjangan tersebut tidak dijawab secara terbuka. Sikap saling melempar tanggung jawab antara lembaga negara memperkuat kesan bahwa kebijakan diambil tanpa transparansi dan tanpa pertimbangan rasa keadilan.
Ketika uang publik dipertaruhkan tetapi penjelasan tidak diberikan, luka sosial pun semakin dalam. Rakyat bukan hanya marah, tetapi merasa diabaikan.
Pola Lama: Fasilitas Cepat, Keadilan Lambat
Kasus tunjangan ini memperlihatkan pola yang terus berulang dalam pengelolaan negara. Kebijakan yang menguntungkan pejabat sering dibahas dan diproses cepat, sementara agenda yang menyentuh keadilan publik seperti pemberantasan korupsi, perlindungan sosial, dan perbaikan layanan dasar berjalan lambat atau ditunda.
Ketimpangan kecepatan ini menimbulkan pertanyaan mendasar: untuk siapa negara bekerja?
Dampak Sosial: Luka yang Tidak Terlihat Angka
Bagi rakyat, persoalan ini bukan sekadar soal anggaran. Ini soal rasa diperlakukan tidak adil. Ketika pejabat menambah tunjangan, sementara rakyat diminta sabar menghadapi kesulitan, kepercayaan pada institusi negara perlahan runtuh.
Jika dibiarkan, luka ini akan berubah menjadi apatisme, kemarahan laten, dan jarak permanen antara pemerintah dan warga.
Solusi: Keadilan Harus Lebih Cepat dari Fasilitas
Untuk memulihkan kepercayaan publik dan mencegah luka sosial yang lebih dalam, langkah-langkah berikut perlu segera ditempuh:
- Hentikan seluruh wacana kenaikan tunjangan pejabat di tengah krisis sosial-ekonomi. Kebijakan fasilitas harus menunggu kondisi rakyat benar-benar pulih.
- Buka seluruh dasar perhitungan tunjangan dan fasilitas negara ke publik
Transparansi adalah syarat minimum keadilan. - Tetapkan standar etika kebijakan publik. Keputusan pejabat harus diuji bukan hanya secara hukum, tetapi juga secara moral dan sosial.
- Prioritaskan anggaran untuk kebutuhan mendesak rakyat. Perumahan rakyat, pangan, kesehatan, dan pendidikan harus didahulukan.
- Perkuat mekanisme pengawasan publik terhadap belanja negara. Agar uang rakyat tidak digunakan tanpa persetujuan moral rakyat.
Penutup: Negara Tidak Boleh Menyakiti Rakyat dengan Kebijakan
Tunjangan pejabat mungkin sah secara aturan, tetapi bisa melukai rasa keadilan jika diputuskan tanpa empati. Negara seharusnya hadir untuk meringankan beban hidup warga, bukan menambah luka melalui kebijakan yang terasa tidak berpihak ke rakyat.
Jika pemerintah ingin kembali dipercaya, langkah pertama bukan menambah fasilitas, melainkan membuktikan bahwa penderitaan rakyat benar-benar menjadi prioritas utama.



