beritax.id – Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh sekitar 5%, lalu di-framing dengan judul besar: “ekonomi tumbuh”. Tapi di saat yang sama, utang pemerintah sudah menembus sekitar Rp9.000 triliun. Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) defisit hampir setiap tahun, dan bunga utang menjadi salah satu pos belanja terbesar negara. Ini bukan opini. Ini data.
Pertanyaannya sederhana: apakah ekonomi benar-benar tumbuh?
Secara logika dasar, kalau pendapatan naik, ketergantungan pada utang seharusnya turun. Kalau utang justru terus naik, berarti ada masalah di struktur keuangannya. Logika ini berlaku di mana pun di bisnis, di rumah tangga, dan di negara.
Negara Dengan Pola Perusahaan Zombie
Di dunia bisnis, kondisi seperti ini disebut perusahaan zombie. Penjualan naik, tapi biaya naik lebih cepat. Utang membengkak, arus kas ketat, dan operasional bertahan bukan karena untung, tapi karena utang. Dari luar kelihatan hidup. Dari dalam, rapuh.
Sekarang bayangkan perusahaan itu adalah negara.
PDB naik, tapi defisit tetap ada. Utang lama dibayar dengan utang baru. Bunga utang makin besar. Masalahnya bukan soal angka besar atau kecil, tapi pola ketergantungan. Dan secara struktur, pola ini mirip perusahaan zombie.
Pdb Naik, Rakyat Belum Tentu Sejahtera
Masalahnya, banyak orang terjebak ilusi: PDB naik dianggap otomatis sukses.
Padahal PDB hanya mencatat total aktivitas ekonomi, bukan kesejahteraan, bukan keadilan, dan bukan kesehatan fiskal.
Bayangkan ini. Kalau harga beras naik, total nilai ekonomi ikut naik. Karena beras adalah komoditas utama dalam perhitungan harga.
Sepanjang tahun 2023, kenaikan itu terasa nyata. Harga beras premium meningkat sekitar 14 persen, dari kisaran Rp13.140 per kilogram pada Januari menjadi Rp14.990 per kilogram di bulan Desember. Sementara itu, beras kualitas menengah juga mengalami kenaikan serupa, sekitar 14,2 persen
Angka ekonomi naik. Tapi rakyat tidak otomatis lebih sejahtera.
Itu cuma berarti uang yang beredar untuk membeli beras lebih besar karena harga naik. Sama seperti omzet toko bisa naik karena barang makin mahal, bukan karena barang lebih banyak terjual.
Harga beras yang melonjak mendorong inflasi dan masuk ke perhitungan PDB. Tapi kalau kenaikan ini justru menekan daya beli rakyat, apakah ini pertumbuhan yang sehat? Atau sekadar angka besar tanpa kesejahteraan di belakangnya?
Negara yang sehat secara fiskal seharusnya defisit mengecil, utang stabil, dan ruang fiskalnya longgar. Tapi yang kita lihat justru kebalikannya.
Negara zombie tidak runtuh tiba-tiba. Ia bertahan dengan utang, dengan narasi pertumbuhan, dan dengan memindahkan beban ke rakyat. Sampai suatu hari biaya utang melonjak, kepercayaan turun, dan ruang fiskal habis. Dan saat itu, yang membayar paling mahal bukan negara tapi rakyatnya.
Otoritas Pajak Dalam Negara “Rugi”
Dalam negara yang fiskalnya rapuh, fungsi otoritas pajak ikut berubah.
Ia tidak lagi hadir sebagai pelayan, tapi sebagai penagih target. Ukurannya bukan keadilan atau kepatuhan jangka panjang, tapi setoran jangka pendek.
Kepatuhan diganti ketakutan.
Edukasi digeser oleh sanksi.
Dialog diganti surat peringatan.
Dan kesalahan administratif mulai diperlakukan seperti kejahatan.
Bukan karena rakyat makin bandel, tapi karena negara kehabisan ruang fiskal.
Pajak pun berubah fungsi. Bukan lagi instrumen keadilan sosial, melainkan alat pemaksaan untuk menutup defisit. Pendekatan ini tidak memperkuat ekonomi ia justru merusak basisnya.
Pelaku usaha jadi defensif. UMKM takut naik kelas. Ekonomi informal memilih tetap gelap. Produktivitas tidak tumbuh, tapi diawasi.
Ini pola perusahaan zombie. Saat arus kas seret, yang ditekan bukan struktur yang boros, tapi unit yang masih menghasilkan uang.
Dan dalam konteks negara, unit itu adalah rakyatnya sendiri.
Sekarang sudah jelas kan dampaknya ke siapa?
Kalau perusahaan zombie, yang ditekan biasanya karyawan.
Kalau negara zombie, yang ditekan adalah rakyat yang sebenarnya pemilik negara itu sendiri.
Negara yang sehat membangun kepatuhan lewat kepercayaan.
Negara yang “rugi” memburu setoran lewat ketakutan.
Selama pajak diperlakukan sebagai alat kejar target, bukan kontrak sosial yang adil, yang tumbuh bukan ekonomi melainkan ketegangan antara negara dan rakyat.
Jalan Keluar dari Negara Zombie
Negara zombie bukan mati karena miskin, tapi karena kedaulatan dicabut dari rakyat.
Selama pemerintah diperlakukan sebagai negara, pajak jadi alat tekanan, utang jadi napas buatan, dan rakyat jadi korban.
Negara sehat bukan yang PDB-nya tumbuh, melainkan yang mampu hidup tanpa memeras rakyatnya



