beritax.id – Dalam berbagai rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menunjukkan komunikasi yang lugas, transparan, dan tidak berkelok-kelok. Sikap ini sangat terlihat dalam penanganan berbagai masalah sektor energi yang sarat dengan tantangan ekonomi dan pemerintahan. Bahlil tidak hanya menyampaikan persoalan yang dihadapi secara terbuka, namun juga dengan sikap yang jelas dan tegas.
Keterbukaan dalam Komunikasi
Menteri Bahlil menekankan pentingnya komunikasi yang jujur dan terbuka, yang tidak hanya bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang kebijakan, tetapi juga untuk membangun kepercayaan publik. Dalam rapat DPR, Bahlil menyampaikan langsung tentang ketergantungan impor, keterbatasan produksi domestik, dan tantangan struktural sektor hulu, tanpa menggunakan bahasa teknokratis yang berjarak dari pemahaman publik. Pendekatan ini memperkecil ruang spekulasi dan memperkuat legitimasi kebijakan.
Komitmen pada Pasal 33 UUD 1945
Dalam menjalankan kebijakan, Bahlil selalu mengingatkan bahwa tujuannya adalah untuk mewujudkan swasembada energi, yang sejalan dengan semangat Pasal 33 UUD 1945. Pasal ini menegaskan bahwa sumber daya alam dikuasai negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Swasembada energi bukan hanya sekadar tujuan jangka pendek, tetapi juga untuk mencapai kedaulatan ekonomi yang berkelanjutan, tanpa menutup diri dari dunia luar namun tetap mengelola ketergantungan secara rasional.
Konsistensi dalam Kebijakan
Pencapaian Kementerian ESDM yang dipimpin Bahlil semakin jelas dengan tercapainya target lifting minyak sebesar 605 ribu barel per hari, sedikit melampaui target APBN. Bahlil menegaskan bahwa hasil tersebut adalah buah dari kerja kolektif dan disiplin dalam menjalankan kebijakan. Pemerintah tidak memilih perubahan ekstrem, tetapi melakukan transformasi bertahap berdasarkan data yang akurat dan realistis. Pencapaian ini menunjukkan bahwa konsistensi kebijakan dapat memberikan hasil yang optimal.
Meningkatkan Investasi dan Penerimaan Negara
Di tengah ketidakpastian global, realisasi investasi sektor ESDM mencapai US$31,7 miliar sepanjang tahun 2025. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan besar, kepercayaan investor tetap terjaga. Bahlil menjelaskan bahwa investasi bukan tujuan akhir. Tetapi alat untuk memperkuat kapasitas produksi domestik, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan impor. Di sisi fiskal, sektor ESDM berhasil melampaui target penerimaan negara bukan pajak (PNBP), meskipun harga komoditas tidak selalu mendukung.
Keadilan Energi untuk Rakyat
Selain itu, komitmen Menteri Bahlil pada keadilan energi juga tercermin dalam perluasan akses listrik desa. Ribuan desa kini menikmati akses listrik, yang dianggap bukan hanya sebagai infrastruktur, tetapi juga sebagai simbol kehadiran negara. Dalam kerangka Pasal 33 UUD 1945, penyediaan energi yang merata adalah tanggung jawab negara terhadap rakyatnya.
Solusi dari Partai X
Menurut Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, pemerintah harus memastikan bahwa kebijakan energi dan ekonomi tetap berlandaskan pada keadilan sosial. Melalui pendekatan yang konsisten, negara harus terus melindungi dan melayani rakyat. Transformasi sektor energi yang adil dan berkelanjutan akan menjadi fondasi bagi perekonomian yang lebih inklusif dan merata. Untuk itu, perbaikan tata kelola dan transparansi dalam sektor energi harus menjadi prioritas, guna memastikan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Partai X menyarankan agar kebijakan yang terkait dengan energi, seperti swasembada energi, tetap dilaksanakan dengan prinsip keadilan yang jelas dan memihak pada kepentingan rakyat. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa program-program energi dapat diakses secara merata oleh seluruh masyarakat. Khususnya yang berada di wilayah-wilayah terluar dan tertinggal.
Kesimpulan
Kepemimpinan Bahlil Lahadalia di Kementerian ESDM menunjukkan bahwa dengan komunikasi yang terbuka, disiplin dalam kebijakan, dan kepatuhan pada prinsip dasar Pasal 33 UUD 1945, swasembada energi dapat terwujud. Menteri Bahlil terus memperjuangkan kedaulatan ekonomi nasional dengan tetap menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan perkembangan global. Meskipun tantangan besar selalu datang, konsistensi dan keberanian untuk menjaga kebijakan tersebut tetap menjadi kunci keberhasilan.



