Konselor Kebudayaan Republik Islam Iran di Indonesia, Dr. Yahya Jahangiri menyampaikan pidato penting dalam International Conference on Islamic Studies, Education, Science, and Social Transformation (SICIESST 2026). Dalam pemaparannya, ia tidak hanya membeberkan pencapaian ilmiah Iran pasca-Revolusi Islam, tetapi juga melayangkan peringatan serius mengenai ancaman tata kelola data, manipulasi terselubung atas pilihan manusia, serta risiko erosi berpikir merdeka di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI).
Konferensi internasional ini dihelat pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Ali Hasan Ahmad Addary, Padangsidimpuan. Acara ini dihadiri oleh para pembicara serta periset dari berbagai negara, termasuk Afrika, Afganistan, Malaysia, dan Iran. Mengusung tema utama “Memajukan Pengetahuan dan Peradaban Manusia di Era AI: Integrasi Nilai-Nilai Islam, Inovasi Inklusif, dan Masa Depan yang Berkelanjutan”, forum ini menjadi wadah strategis diskursus global.
Pencapaian Ilmiah Iran: Buah Iman dan Kemandirian
Pada sesi awal, Dr. Yahya menyoroti transformasi ilmiah Iran usai Revolusi Islam, meliputi kemajuan pesat di bidang sains humaniora, teknik, kedokteran, hingga teknologi mutakhir.
Menurutnya, capaian tersebut bukan sekadar hasil pembangunan infrastruktur teknologi, melainkan lahir dari fondasi keimanan, kepercayaan diri nasional, tekad kuat untuk mandiri secara ilmiah, serta kerja keras para ilmuwan Iran. Ia menekankan pentingnya pengenalan objektif atas kemajuan sains Iran kepada dunia akademik internasional.

Peran Strategis Perempuan dalam Pendidikan Tinggi Iran
Menyoroti peran perempuan, Konselor Kebudayaan Iran ini menegaskan bahwa kehadiran aktif perempuan Iran dalam ranah akademik, riset, dan pendidikan tinggi sangat menonjol.
Ia mengkritik narasi sebagian media internasional yang kerap menampilkan potret keliru dan jauh dari realitas mengenai kedudukan perempuan Iran. Yahya Jahangiri menilai, media-media imperalis tersebut sengaja menutup mata dari keterlibatan luas perempuan Iran dalam kancah ilmiah dan sosial.
Kapasitas Teknologi dan Tantangan Etis AI
Sejalan dengan topik utama konferensi, Dr. Yahya memaparkan kapasitas pusat riset dan produk berbasis pengetahuan (knowledge-based) Iran di bidang kecerdasan buatan. Ia menyerukan penguatan kerja sama ilmiah antar-negara Islam dalam menghadapi teknologi berkembang ini.
Kendati AI mempermudah riset dan mempercepat pemrosesan data, ia mengingatkan bahwa teknologi ini membawa tantangan filosofis, etis, dan sosial yang mendalam. “Cendekiawan Muslim tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan harus berperan aktif menganalisis fondasi epistemologis dan kerangka etika pengaturannya,” tegas Jahangiri.
Tata Kelola Data dan Ancaman Kedaulatan Negara
Salah satu poin krusial dalam pidato tersebut adalah isu tata kelola data di era AI. Yahya Jahangiri memperingatkan bahwa sistem AI mengumpulkan mahadata (big data) terkait kehidupan masyarakat secara masif.
“Hari ini, data ekonomi, gaya hidup, mode, kesehatan fisik-mental, perilaku individu, hingga pilihan harian manusia telah berubah menjadi sumber daya strategis. Konsentrasi mahadata ini di tangan kekuatan besar dapat mengancam kedaulatan pengambilan keputusan dan keadilan tata kelola negara-negara mandiri di masa depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, dominasi atas data menjelma sebagai bentuk kolonialisme baru—bukan lewat militer atau politik, melainkan via kendali informasi dan pemetaan perilaku manusia.
Paradoks Kebebasan Memilih di Bawah Cengkeraman Algoritma
Dr. Yahya Jahangiri juga mengupas paradoks kebebasan memilih di era algoritma. Secara kasat mata, AI menyuguhkan ragam opsi yang membesarkan ilusi kebebasan; namun di balik layar, algoritma mengarahkan preferensi pengguna berdasarkan pemetaan tabiat mereka.
Situasi ini memicu dilema pelik seputar otonomi kehendak, kebebasan, dan tanggung jawab moral manusia, yang menuntut perhatian serius dari para filsuf dan teolog Muslim.

Batas Epistemologis: Ilmu Hushuli vs. Ilmu Hudhuri
Dari sudut pandang epistemologi Islam, Yahya Jahangiri membedakan antara “Ilmu Hushuli” (pengetahuan konseptual/perolehan) dan “Ilmu Hudhuri” (pengetahuan hadir/intuitif). Menurutnya, AI sangat andal dalam menganalisis data, memproses konsep, dan menelaah teks.
Namun, merujuk pada tradisi filsafat Islam—khususnya hikmah iluminasionis Suhrawardi—ia menegaskan bahwa kapasitas AI tidak bisa disamakan dengan seluruh spektrum pengetahuan manusia. Pengalaman hidup dan intuisi batin (hudhuri) yang bersentuhan langsung dengan hakikat tidak akan pernah bisa direplikasi oleh mesin pintar.
Bahaya Atrofi Berpikir Kritis
Mengaitkannya dengan warisan intelektual Islam seperti Al-Khawarizmi, Suhrawardi, Mulla Sadra, hingga Allamah Tabatabai, Dr. Yahya Jahangiri mengingatkan risiko ketergantungan ekstrem pada AI yang dapat melemahkan daya kritis serta kreativitas orisinal manusia.
Ia memperingatkan agar sistem pendidikan tidak sekadar mencetak pengguna teknologi instan yang terjebak pada pola-pola siap saji, yang justru berisiko memicu stagnasi peradaban berpikir.
Penutup: Urgensi Peran Peradaban Islam
Sebagai kesimpulan, Yahya Jahangiri menyerukan agar dunia Islam mengambil sikap proaktif, kritis, dan berwawasan peradaban terhadap AI. Masa depan umat Islam di era digital tidak hanya ditentukan oleh akses terhadap teknologi canggih, melainkan oleh kemampuan melahirkan teori, mengkritisi fondasi filosofisnya, serta merumuskan etika kemanusiaan bagi tata kelola masa depan.



