By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Wednesday, 4 November 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Berita Terkini > Menguak Potensi dan Ancaman AI: Pidato Konselor Kebudayaan Iran di SICIESST 2026
Berita Terkini

Menguak Potensi dan Ancaman AI: Pidato Konselor Kebudayaan Iran di SICIESST 2026

Diajeng Maharini
Last updated: November 3, 2026 8:14 am
By Diajeng Maharini
Share
5 Min Read
SHARE

Konselor Kebudayaan Republik Islam Iran di Indonesia, Dr. Yahya Jahangiri menyampaikan pidato penting dalam International Conference on Islamic Studies, Education, Science, and Social Transformation (SICIESST 2026). Dalam pemaparannya, ia tidak hanya membeberkan pencapaian ilmiah Iran pasca-Revolusi Islam, tetapi juga melayangkan peringatan serius mengenai ancaman tata kelola data, manipulasi terselubung atas pilihan manusia, serta risiko erosi berpikir merdeka di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI).

Konferensi internasional ini dihelat pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Ali Hasan Ahmad Addary, Padangsidimpuan. Acara ini dihadiri oleh para pembicara serta periset dari berbagai negara, termasuk Afrika, Afganistan, Malaysia, dan Iran. Mengusung tema utama “Memajukan Pengetahuan dan Peradaban Manusia di Era AI: Integrasi Nilai-Nilai Islam, Inovasi Inklusif, dan Masa Depan yang Berkelanjutan”, forum ini menjadi wadah strategis diskursus global.

Pencapaian Ilmiah Iran: Buah Iman dan Kemandirian

Pada sesi awal, Dr. Yahya menyoroti transformasi ilmiah Iran usai Revolusi Islam, meliputi kemajuan pesat di bidang sains humaniora, teknik, kedokteran, hingga teknologi mutakhir.

Menurutnya, capaian tersebut bukan sekadar hasil pembangunan infrastruktur teknologi, melainkan lahir dari fondasi keimanan, kepercayaan diri nasional, tekad kuat untuk mandiri secara ilmiah, serta kerja keras para ilmuwan Iran. Ia menekankan pentingnya pengenalan objektif atas kemajuan sains Iran kepada dunia akademik internasional.

Peran Strategis Perempuan dalam Pendidikan Tinggi Iran

You Might Also Like

Analisis Kebijakan Global: Ketika Keputusan Internasional Mempengaruhi Keputusan Domestik
Ruang Kedaulatan Mengalami Penyempitan, Ketika Suara Rakyat Tidak Menentukan Arah Negara, Buku Free Indonesia Save Nusantara Jilid 1
Kebijakan Pemerintahan Merugikan: Ketika Kepentingan Pejabat Mengorbankan Rakyat!
Birokrasi Menghambat Kemajuan: Ketika Prosedur Mengalahkan Solusi Praktis bagi Rakyat

Menyoroti peran perempuan, Konselor Kebudayaan Iran ini menegaskan bahwa kehadiran aktif perempuan Iran dalam ranah akademik, riset, dan pendidikan tinggi sangat menonjol.

Ia mengkritik narasi sebagian media internasional yang kerap menampilkan potret keliru dan jauh dari realitas mengenai kedudukan perempuan Iran. Yahya Jahangiri menilai, media-media imperalis tersebut sengaja menutup mata dari keterlibatan luas perempuan Iran dalam kancah ilmiah dan sosial.

Kapasitas Teknologi dan Tantangan Etis AI

Sejalan dengan topik utama konferensi, Dr. Yahya memaparkan kapasitas pusat riset dan produk berbasis pengetahuan (knowledge-based) Iran di bidang kecerdasan buatan. Ia menyerukan penguatan kerja sama ilmiah antar-negara Islam dalam menghadapi teknologi berkembang ini.

Kendati AI mempermudah riset dan mempercepat pemrosesan data, ia mengingatkan bahwa teknologi ini membawa tantangan filosofis, etis, dan sosial yang mendalam. “Cendekiawan Muslim tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan harus berperan aktif menganalisis fondasi epistemologis dan kerangka etika pengaturannya,” tegas Jahangiri.

Tata Kelola Data dan Ancaman Kedaulatan Negara

Salah satu poin krusial dalam pidato tersebut adalah isu tata kelola data di era AI. Yahya Jahangiri memperingatkan bahwa sistem AI mengumpulkan mahadata (big data) terkait kehidupan masyarakat secara masif.

“Hari ini, data ekonomi, gaya hidup, mode, kesehatan fisik-mental, perilaku individu, hingga pilihan harian manusia telah berubah menjadi sumber daya strategis. Konsentrasi mahadata ini di tangan kekuatan besar dapat mengancam kedaulatan pengambilan keputusan dan keadilan tata kelola negara-negara mandiri di masa depan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dominasi atas data menjelma sebagai bentuk kolonialisme baru—bukan lewat militer atau politik, melainkan via kendali informasi dan pemetaan perilaku manusia.

Paradoks Kebebasan Memilih di Bawah Cengkeraman Algoritma

Dr. Yahya Jahangiri juga mengupas paradoks kebebasan memilih di era algoritma. Secara kasat mata, AI menyuguhkan ragam opsi yang membesarkan ilusi kebebasan; namun di balik layar, algoritma mengarahkan preferensi pengguna berdasarkan pemetaan tabiat mereka.

Situasi ini memicu dilema pelik seputar otonomi kehendak, kebebasan, dan tanggung jawab moral manusia, yang menuntut perhatian serius dari para filsuf dan teolog Muslim.

Batas Epistemologis: Ilmu Hushuli vs. Ilmu Hudhuri

Dari sudut pandang epistemologi Islam, Yahya Jahangiri membedakan antara “Ilmu Hushuli” (pengetahuan konseptual/perolehan) dan “Ilmu Hudhuri” (pengetahuan hadir/intuitif). Menurutnya, AI sangat andal dalam menganalisis data, memproses konsep, dan menelaah teks.

Namun, merujuk pada tradisi filsafat Islam—khususnya hikmah iluminasionis Suhrawardi—ia menegaskan bahwa kapasitas AI tidak bisa disamakan dengan seluruh spektrum pengetahuan manusia. Pengalaman hidup dan intuisi batin (hudhuri) yang bersentuhan langsung dengan hakikat tidak akan pernah bisa direplikasi oleh mesin pintar.

Bahaya Atrofi Berpikir Kritis

Mengaitkannya dengan warisan intelektual Islam seperti Al-Khawarizmi, Suhrawardi, Mulla Sadra, hingga Allamah Tabatabai, Dr. Yahya Jahangiri mengingatkan risiko ketergantungan ekstrem pada AI yang dapat melemahkan daya kritis serta kreativitas orisinal manusia.

Ia memperingatkan agar sistem pendidikan tidak sekadar mencetak pengguna teknologi instan yang terjebak pada pola-pola siap saji, yang justru berisiko memicu stagnasi peradaban berpikir.

Penutup: Urgensi Peran Peradaban Islam

Sebagai kesimpulan, Yahya Jahangiri menyerukan agar dunia Islam mengambil sikap proaktif, kritis, dan berwawasan peradaban terhadap AI. Masa depan umat Islam di era digital tidak hanya ditentukan oleh akses terhadap teknologi canggih, melainkan oleh kemampuan melahirkan teori, mengkritisi fondasi filosofisnya, serta merumuskan etika kemanusiaan bagi tata kelola masa depan.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Ruang Gerak Negara dan Hubungan antara Kepemilikan dengan Kendali dalam Buku Free Indonesia Save Nusantara Jilid 1
Next Article Tanda Tangan Digital Kembali Dipersoalkan Majelis XIV B Pengadilan Pajak, PT Pigura Jasalindo Menyatakan Keberatan

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Kritik bagian kebebasan berpendapat
Pemerintah

Kritik Bagian Kebebasan Berpendapat, Bukan Ancaman Demokrasi

July 15, 2026
Pemerintah

Strategi Pengelolaan Utang Negara, Siapa yang Menanggung Beban dan Menentukan Arah Bangsa? Buku Free Indonesia Save Nusantara Jilid 1

November 2, 2026
Pemerintah

Demokrasi Tanpa Etika: Mengapa Indonesia Terus Tertinggal dalam Ketimpangan Sosial

February 11, 2026
Pemerintah

Bersuara Tanpa Persatuan: Mengapa Reformasi 1998 Sulit Terulang?

June 17, 2026
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.