TEHERAN — Kunjungan delegasi Sekolah Negarawan ke Islamic Azad University Tehran tidak sekadar menjadi agenda akademik. Pertemuan tersebut berkembang menjadi pembahasan mengenai peluang membangun jejaring pengetahuan yang lebih kuat antara Indonesia dan Iran.
Delegasi yang dipimpin Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan Direktur Kerja Sama dan International Affairs Abdullah Assegaf, bertemu dengan jajaran pimpinan serta akademisi Islamic Azad University dalam rangkaian kunjungan di Iran.
Salah satu gagasan yang dibahas adalah pembentukan Indonesia–Iran Academia Group sebagai wadah untuk mempertemukan akademisi, profesor, peneliti, dan profesional dari kedua negara.
Menurut Prayogi R. Saputra, PhD, jejaring tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun kerja sama yang lebih konkret.
“Ini akan menjadi titik awal. Setelah itu kita dapat mulai berkolaborasi satu sama lain,” ujarnya.

Memperluas Jejaring Akademik
Gagasan pembentukan kelompok akademik tersebut muncul setelah delegasi Sekolah Negarawan melihat secara langsung kapasitas Islamic Azad University.
Universitas tersebut memiliki sekitar 1,4 juta mahasiswa, 20.000 anggota fakultas, dan 21.000 staf yang tersebar dalam jaringan kampus di berbagai wilayah Iran.
Selain aktivitas pendidikan, universitas juga memiliki pusat penelitian, laboratorium, workshop, serta berbagai bentuk kemitraan dengan sektor industri.
Besarnya ekosistem tersebut dinilai membuka peluang kolaborasi yang luas dengan institusi pendidikan dan lembaga akademik di Indonesia.
Prayogi juga menyampaikan peluang untuk melibatkan profesor dan akademisi Iran dalam sejumlah proyek yang dikembangkan di Indonesia.
“Kami memiliki beberapa proyek yang nantinya dapat dihubungkan dengan universitas sehingga mungkin dapat menjadi proyek bersama,” katanya.

Mengubah Pertemuan Menjadi Produksi Pengetahuan
Dalam pertemuan tersebut, Sekolah Negarawan turut memperkenalkan berbagai program dan karya yang telah dikembangkan, terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan, kenegarawanan, dan pembangunan peradaban.
Sekolah Negarawan sendiri dibangun dengan melibatkan akademisi dan profesor yang memiliki perhatian terhadap pengembangan kepemimpinan serta kajian kenegaraan.
Sejumlah publikasi mengenai Iran juga telah dihasilkan sebagai bagian dari proses pembelajaran selama kunjungan.
Dari pertemuan dengan akademisi Islamic Azad University, muncul pula peluang untuk mengembangkan karya ilmiah bersama, termasuk publikasi dalam bentuk international book chapter.
Selain itu, perjalanan Sekolah Negarawan selama berada di Iran direncanakan untuk didokumentasikan dalam sebuah buku. Berbagai tulisan dan pengalaman selama kunjungan akan dihimpun menjadi satu karya yang merekam perjalanan akademik dari Indonesia hingga Iran.
Memperkuat Hubungan di Luar Jalur Pemerintah
Bagi Sekolah Negarawan, hubungan Indonesia dan Iran memiliki ruang yang lebih luas daripada sekadar hubungan antarpemerintah.
Akademisi, profesional, media, dan masyarakat sipil juga memiliki peran penting dalam membangun hubungan kedua negara.
Karena itu, Indonesia–Iran Academia Group diharapkan dapat menjadi salah satu wadah untuk mempertemukan berbagai potensi tersebut melalui kerja sama berbasis akademik dan profesional.
Kunjungan ke Islamic Azad University Tehran menjadi salah satu langkah awal dalam membangun jejaring tersebut.
Kapasitas universitas membuka kemungkinan kerja sama dalam berbagai bidang, mulai dari penelitian dan publikasi, pertukaran akademisi, pengembangan proyek bersama, pendidikan, hingga kegiatan sosial.
Pada akhirnya, kunjungan Sekolah Negarawan ke Tehran tidak hanya memberikan pengalaman akademik bagi delegasi.
Lebih dari itu, pertemuan tersebut membuka peluang untuk membangun jembatan pengetahuan yang menghubungkan akademisi, institusi, dan berbagai potensi kerja sama antara Indonesia dan Iran.



