beritax.id — Fenomena media alat kekuasaan pemerintah kian nyata di tengah lanskap demokrasi Indonesia hari ini. Tekanan ekonomi industri pers, ketergantungan pada anggaran publikasi negara, serta relasi antara pemilik media dan penguasa telah mendorong banyak ruang redaksi menjauh dari kritik struktural. Isu-isu mendasar seperti ketimpangan ekonomi, beban pajak, konflik agraria, pelemahan perlindungan sosial, hingga konsentrasi kekuasaan kerap tergeser oleh narasi seremonial dan pencitraan kebijakan.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemberitaan arus utama dipenuhi klaim stabilitas ekonomi, pertumbuhan PDB, dan keberhasilan program bantuan sosial. Namun laporan mendalam mengenai mahalnya biaya hidup, gelombang PHK di sektor manufaktur dan digital, serta tekanan terhadap kelas menengah jarang mendapat porsi yang sebanding.
Kritik Struktural Tergusur oleh Narasi Keberhasilan
Alih-alih membedah akar masalah seperti struktur pajak yang regresif, lemahnya perlindungan tenaga kerja, atau dominasi proyek besar terhadap ruang hidup warga banyak media memilih menampilkan:
- rilis resmi pemerintah tanpa verifikasi lapangan,
- liputan peresmian proyek tanpa evaluasi dampak sosial,
- dan data makro tanpa konteks realitas rumah tangga.
Kritik yang menyentuh desain kebijakan jangka panjang sering dianggap “terlalu sensitif” bagi hubungan bisnis media dengan negara.
Kasus Terkini: Isu Rakyat Kalah oleh Panggung Kekuasaan
Sejumlah peristiwa mutakhir memperlihatkan pola tersebut:
- Gelombang PHK di industri tekstil dan elektronik lebih banyak diberitakan sebagai “penyesuaian pasar”, tanpa analisis tentang lemahnya perlindungan pekerja dan kegagalan strategi industrialisasi.
- Kenaikan berbagai tarif dan pajak daerah disajikan sebagai kebutuhan fiskal, sementara dampaknya terhadap UMKM dan pekerja informal kurang diulas.
- Proyek infrastruktur dan kawasan industri baru ramai diliput dari sisi investasi, tetapi konflik lahan dan relokasi warga sering hanya muncul di media alternatif atau laporan LSM.
Narasi resmi mendominasi, kritik struktural tersisih.
Peran Konten Berbayar dan Influencer
Situasi ini diperkuat oleh maraknya konten kreator dan influencer yang memproduksi pesan serupa dengan media arus utama. Video singkat dan kampanye digital berbayar menyederhanakan persoalan kompleks menjadi slogan keberhasilan, menenggelamkan diskusi tentang akar ketimpangan dan kerentanan sosial.
Akibatnya, ruang publik dipenuhi optimisme semu, sementara keresahan warga tidak menemukan saluran yang setara.
Dampak Serius bagi Demokrasi
Pembungkaman kritik struktural membawa konsekuensi luas:
- Masalah sistemik tidak pernah ditangani dari akarnya.
- Kebijakan keliru terus berulang tanpa koreksi publik.
- Kepercayaan terhadap pers merosot.
- Demokrasi berubah menjadi prosedural tanpa pengawasan nyata.
Pers masih hidup sebagai industri, tetapi melemah sebagai institusi kontrol sosial.
Solusi: Mengembalikan Fungsi Kritis Media
Untuk mencegah media terus menjadi alat kekuasaan, diperlukan langkah konkret:
1. Transparansi Total Anggaran Publikasi Pemerintah
Semua kontrak iklan dan kerja sama media wajib diumumkan ke publik secara rinci.
2. Batas Ketergantungan Finansial Media pada Negara
Perlu regulasi yang membatasi proporsi pendapatan media dari anggaran pemerintah.
3. Pemisahan Tegas Berita dan Advertorial
Konten berbayar harus diberi label jelas dan tidak boleh dikemas sebagai liputan independen.
4. Dana Publik Independen untuk Jurnalisme Investigatif
Dikelola oleh badan non-politis guna mendukung liputan isu struktural.
5. Perlindungan Hukum bagi Media Kritis
Negara wajib menjamin tidak ada kriminalisasi atau tekanan ekonomi terhadap redaksi yang mengungkap kegagalan kebijakan.
Ketika media menjadi alat kekuasaan pemerintah, kritik struktural tidak hilang—ia hanya dipaksa diam. Namun masalah yang disembunyikan akan kembali sebagai krisis yang lebih besar.
Mengembalikan pers sebagai penjaga kepentingan publik bukan sekadar agenda profesi, melainkan syarat utama agar negara tidak terus berjalan tanpa koreksi, dan rakyat tidak terus menanggung beban dari kebijakan yang tak pernah benar-benar diuji.



