beritax.id – Kepatuhan administratif rumit dalam perpajakan telah menjadi beban berat bagi rakyat Indonesia. Semakin kompleksnya regulasi pajak, yang dipengaruhi oleh standar global, memperburuk kondisi ini. Prosedur pajak yang semakin rumit dan teknis tidak hanya membingungkan pengusaha besar, tetapi juga rakyat biasa. Sementara itu, sistem perpajakan yang ada semakin mengandalkan pajak konsumsi, seperti PPN, yang langsung dirasakan oleh masyarakat.
Beban Pajak Konsumsi pada Rakyat
Sebagian besar rakyat Indonesia saat ini semakin terbebani oleh pajak konsumsi, seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kenaikan tarif PPN, yang direncanakan mencapai 12% pada 2025, akan semakin meningkatkan beban masyarakat. Pajak ini mempengaruhi semua lapisan masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki penghasilan rendah. Sementara itu, insentif pajak yang diberikan kepada perusahaan besar dan korporasi asing tidak memberikan manfaat langsung bagi rakyat.
Prosedur perpajakan yang semakin rumit dan memerlukan dokumentasi yang detil menjadi masalah bagi sebagian besar wajib pajak. Salah satu contohnya adalah standar Transfer Pricing yang mengharuskan perusahaan untuk membuat laporan lengkap mengenai transaksi antarperusahaan. Hal ini sangat mempersulit pengusaha kecil dan menengah yang tidak memiliki sumber daya untuk menyewa konsultan pajak. Akibatnya, pengusaha lokal dan rakyat kecil semakin terbebani oleh kepatuhan administratif yang tinggi.
Kesulitan Bagi UMKM
UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia sering kali kesulitan untuk memenuhi kewajiban pajak. Proses administratif yang rumit, seperti penyusunan dokumen transfer pricing, menjadi hambatan besar. Sementara itu, perusahaan besar, yang memiliki lebih banyak sumber daya, lebih mudah mengikuti regulasi tersebut. Hal ini menciptakan ketidaksetaraan dalam dunia usaha, di mana pengusaha kecil lebih rentan terhadap pemeriksaan dan sanksi pajak.
Dampak terhadap Kualitas Layanan Pajak
Kepatuhan administratif yang rumit juga berdampak pada kualitas layanan pajak yang diberikan oleh pemerintah. Sistem perpajakan yang kompleks dan prosedur yang memakan waktu mengurangi efisiensi pengelolaan pajak. Rakyat yang seharusnya mendapatkan pelayanan cepat dan jelas justru harus menghadapi birokrasi yang berbelit. Hal ini menyebabkan ketidakpuasan masyarakat terhadap sistem perpajakan dan menurunkan tingkat kepatuhan pajak.
Solusi untuk Menyederhanakan Sistem Perpajakan
Untuk mengatasi masalah ini, Indonesia perlu menyederhanakan sistem perpajakan dengan mengurangi kompleksitas regulasi yang ada. Pemerintah harus memperkenalkan sistem yang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh semua lapisan masyarakat. Penggunaan teknologi digital dalam administrasi pajak juga dapat membantu mempercepat proses dan meningkatkan transparansi. Dengan mempermudah prosedur dan mengurangi beban administrasi, pemerintah dapat meringankan beban rakyat.
Pendidikan Pajak yang Lebih Baik
Selain itu, penting untuk meningkatkan pendidikan dan sosialisasi terkait pajak kepada masyarakat. Memberikan pemahaman yang jelas tentang kewajiban perpajakan akan membantu rakyat memenuhi kewajiban mereka dengan lebih mudah. Program pelatihan dan bantuan kepada UMKM dalam mengelola kewajiban pajak dapat memperkuat sistem perpajakan domestik dan mencegah ketidakadilan.
Kepatuhan administratif rumit dalam perpajakan memberi dampak negatif yang besar bagi rakyat Indonesia. Prosedur yang rumit dan tidak transparan semakin membebani masyarakat, terutama pengusaha kecil dan menengah. Untuk memperbaiki kondisi ini, Indonesia perlu menyederhanakan sistem perpajakan dan meningkatkan kualitas pelayanan pajak agar rakyat dapat memenuhi kewajiban mereka dengan lebih mudah. Hanya dengan sistem yang lebih adil dan efisien, Indonesia dapat menciptakan perekonomian yang lebih inklusif dan berkelanjutan.



