Oleh: Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia
Anggota Majelis Tinggi Partai X
Wakil Direktur Sekolah Negarawan
Jangan Biarkan Bangsa Ini Kenyang Tetapi Kehilangan Martabat
beritax.id – Indonesia hari ini sedang bergerak cepat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan untuk memastikan anak-anak tidak lapar. Program gentengisasi nasional diluncurkan dalam Gerakan Indonesia Asri, Aman, Sehat, Resik, dan Indah oleh Presiden Prabowo Subianto untuk memperbaiki kualitas hunian rakyat.
Pangan disentuh, papan dibenahi, namun dalam kesibukan itu, satu dimensi mendasar belum disentuh secara utuh yaitu sandang bangsa.
Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan sandhang luwih dhisik tinimbang pangan. Sandang lebih dahulu daripada pangan. Bukan karena makan tidak penting, melainkan karena sandang adalah simbol martabat. Tanpa sandang, manusia kehilangan kehormatannya, meskipun perutnya kenyang.
Sandang dalam makna paling dasar bahkan dimulai dari sesuatu yang tidak terlihat yakni kolor atau celana dalam. Ia bukan simbol kemewahan. Ia adalah simbol batas paling minimal dari rasa malu dan harga diri.
Di situlah makna filosofisnya menjadi penting. Bangsa yang kenyang tetapi tidak menjaga sandangnya, adalah bangsa yang berisiko kehilangan martabatnya.
Kita Menguatkan Tubuh, Tetapi Belum Menguatkan Kehormatan
MBG adalah kebijakan pangan. Gentengisasi adalah kebijakan papan. Keduanya penting dan tidak perlu dipertentangkan. Negara memang wajib memastikan rakyatnya tidak lapar dan tidak tinggal di rumah yang membahayakan.
Namun bangsa tidak dibangun hanya dengan tubuh yang sehat dan atap yang kokoh. Bangsa dibangun dengan harga diri, identitas, dan kemandirian.
Sandang dalam makna kebangsaan adalah:
- Pendidikan yang membentuk kesadaran kritis
- Industri nasional yang mandiri
- Kebanggaan terhadap produk sendiri
- Rasa percaya diri kolektif sebagai bangsa
Jika pendidikan dilemahkan untuk membiayai program jangka pendek, kita sedang mengorbankan sandang bangsa. Jika industri tekstil dan sandang nasional kalah di negeri sendiri, kita sedang membiarkan martabat ekonomi kita tergerus.
Kolor dalam metafora ini adalah simbol paling minimal dari kemandirian dan harga diri.
Tanpa itu, kita mungkin tampak kuat dari luar, tetapi rapuh di dalam.
Kolorisasi Nusantara: Gerakan Martabat
Karena itu Indonesia memerlukan satu gerakan yang sejajar dengan MBG dan gentengisasi yaitu Gerakan Kolorisasi Nusantara.
Kolorisasi Nusantara bukan sekadar urusan pakaian. Ia adalah gerakan menjaga martabat.
Ia berarti:
- Menguatkan industri sandang nasional dari hulu ke hilir
- Memberi ruang lebih besar bagi UMKM tekstil dan fashion lokal
- Menjadikan sekolah sebagai ruang kebanggaan terhadap wastra nusantara
- Menyusun kebijakan afirmatif untuk produk dalam negeri
- Menumbuhkan kesadaran bahwa sandang adalah simbol identitas
Indonesia memiliki ribuan motif batik, tenun, songket, dan kain adat. Itu bukan sekadar warisan budaya, tetapi modal peradaban. Jika itu tidak dikelola dan dibanggakan, kita sedang menanggalkan sandang kebangsaan kita sendiri.
Jangan Bangun Bangsa Tanpa Fondasi Martabat
Emha Ainun Nadjib sering mengingatkan bahwa sandang bukan soal kain, tetapi soal kehormatan. Manusia yang makan beres tetapi tidak berpakaian adalah manusia yang kehilangan kelayakan sosialnya.
Demikian pula bangsa. Bangsa yang hanya mengejar angka distribusi pangan dan proyek fisik, tetapi tidak menjaga identitas dan pendidikan generasinya, sedang membangun tubuh tanpa fondasi kehormatan.
Kenyang itu penting. Beratap genteng itu penting. Tetapi martabat jauh lebih penting.
Tiga Pilar Harus Seimbang
Bangsa ini membutuhkan keseimbangan:
- Sandang untuk martabat dan identitas.
- Pangan untuk kekuatan fisik generasi
- Papan untuk kelayakan hidup.
Jika sandang diabaikan, kita mungkin terlihat makmur secara statistik, tetapi kehilangan arah sebagai bangsa. Kolorisasi Nusantara adalah simbol bahwa Indonesia tidak hanya ingin memberi makan dan membangun rumah, tetapi juga ingin berdiri tegak dengan harga diri.
Karena bangsa yang kehilangan sandangnya, betapapun kenyangnya, tidak akan pernah benar-benar berdaulat.



