Oleh: Adv. Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan
beritax.id – Sejak lama, mahasiswa dianggap sebagai kekuatan moral yang diharapkan mampu mengguncang arah kekuasaan ketika kondisi bangsa dianggap carut-marut. Sejarah Indonesia menunjukkan hal ini nyata. Tahun 1966, mahasiswa menjadi kekuatan penekan yang berperan dalam perubahan besar. Begitu pula tahun 1998, gerakan mahasiswa menjadi simbol kritik kolektif terhadap pemerintah saat itu. Karena pengalaman sejarah tersebut, setiap kali muncul gelombang ketidakpuasan publik terhadap pemerintah, pertanyaan klasik muncul: “Mana mahasiswa?”
Namun, menurut Cak Nun, pertanyaan yang lebih penting bukan di mana mahasiswa berada, tetapi apakah kondisi mahasiswa saat ini masih sama dengan masa-masa perubahan besar tersebut.
Mahasiswa: Kekuatan Kelima dalam Negara
Dalam forum Maiyah, Cak Nun menegaskan posisi mahasiswa sebagai “kekuatan kelima” dalam kehidupan bernegara. Tiga kekuatan pertama adalah trias politika eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Kekuatan keempat adalah pers, sedangkan mahasiswa berada pada posisi kelima sebagai penjaga moral dan pengoreksi arah bangsa.
Cak Nun mengingatkan bahwa kondisi mahasiswa saat ini sangat berbeda dengan masa lalu:
“Kalau Anda mau demo seperti ’98, tidak ada entitas mahasiswa secara nasional. Jadi Anda tidak akan mampu mencapai itu dalam beberapa tahun karena tidak ada kekompakan dan kohesi.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa tahun 1998 tidak lahir hanya karena kemarahan terhadap pemerintah. Gerakan itu muncul dari kesadaran kolektif yang relatif seragam di berbagai kampus, narasi besar yang menyatukan tujuan, dan kohesi yang memungkinkan berbagai elemen bergerak dalam arah yang sama. Hari ini, mahasiswa hidup dalam realitas yang jauh lebih terfragmentasi. Teknologi digital mempermudah komunikasi, tetapi juga menciptakan ruang terpisah antara kampus dan kelompok.
Mahasiswa dari satu kampus sering tidak memiliki hubungan erat dengan mahasiswa dari kampus lain. Organisasi kemahasiswaan memiliki agenda masing-masing, dan kelompok aktivis fokus pada isu yang berbeda. Perdebatan internal sering lebih menonjol dibanding upaya membangun konsolidasi nasional. Akibatnya, energi gerakan tersebar ke banyak arah. Di sisi lain, persoalan bangsa sekarang jauh lebih kompleks. Masalah tidak hanya berada pada satu figur atau rezim, tetapi bersifat struktural: desain politik, sistem ekonomi, relasi partai, kualitas demokrasi, arah pendidikan, dan struktur konstitusi.
Fokus pada Akar Masalah, Bukan Pergantian Kekuasaan
Cak Nun menegaskan, fokus perjuangan mahasiswa tidak seharusnya hanya menjatuhkan presiden atau pejabat tertentu:
“Jangan punya keinginan menjatuhkan presiden. Saya tidak setuju kepada kudeta, saya tidak setuju kepada peralihan kekuasaan.”
Tujuan utama adalah memperbaiki keadaan bangsa. Jika perbaikan menuntut perubahan dalam struktur kekuasaan, itu konsekuensi. Namun menjadikan pergantian presiden sebagai tujuan utama sering membuat perhatian terhadap akar masalah hilang. Pengalaman sejarah membuktikan bahwa pergantian pemimpin tidak otomatis menyelesaikan persoalan bangsa. Pemerintah berganti, tetapi berbagai keluhan masyarakat muncul kembali. Penguasa berganti, tetapi pola hubungan kekuasaan tetap. Persoalannya, seperti rumah yang terus bocor, berada pada desain bangunan, bukan penghuninya.
Mahasiswa Sebagai Penunjuk Arah, Bukan Sekadar Massa
Demo mahasiswa yang hanya menargetkan pergantian orang akan kehilangan daya tahan setelah tujuan tercapai. Sebaliknya, gerakan yang memahami akar persoalan memiliki peluang menghasilkan perubahan jangka panjang. Memahami akar masalah jauh lebih sulit daripada meneriakkan slogan. Memahami konstitusi lebih sulit daripada membuat poster. Memahami desain negara lebih sulit daripada mengkritik pejabat. Namun di sanalah letak tantangan intelektual mahasiswa. Mahasiswa bukan sekadar kelompok yang mampu berteriak paling keras. Mahasiswa seharusnya menjadi kelompok yang mampu berpikir paling dalam. Kekuatan utama mahasiswa terletak pada kemampuan memahami persoalan secara utuh, bukan sekadar jumlah massa di jalan. Ukuran keberhasilan gerakan mahasiswa perlu diubah. Keberhasilan bukan hanya jatuhnya seorang presiden atau jumlah massa. Keberhasilan bisa diukur dari lahirnya kesadaran baru:
- Kesadaran bagaimana negara bekerja
- Kesadaran siapa yang sesungguhnya memegang kedaulatan
- Kesadaran hubungan antara konstitusi, kekuasaan, dan kehidupan sehari-hari rakyat
Jika kesadaran tersebut belum terbentuk, demonstrasi sebesar apa pun akan mudah kehilangan arah. Energi besar habis untuk mengejar gejala, sementara sumber masalah tetap tak tersentuh.
Kesimpulan: Menuju Kohesi Nasional
Kesulitan mahasiswa saat ini bukan karena hilangnya keberanian, idealisme, atau kepedulian terhadap bangsa. Kesulitan terletak pada persoalan bangsa yang jauh lebih dalam sistem, struktur, dan desain kehidupan bernegara. Ketika mahasiswa mulai mempelajari persoalan bangsa secara utuh, memahami akar masalahnya, dan membangun kohesi nasional berdasarkan pemahaman tersebut, kekuatan kelima yang pernah mengubah sejarah Indonesia mungkin akan menemukan bentuknya kembali. Bukan sebagai kekuatan yang sekadar menjatuhkan, melainkan sebagai kekuatan yang mampu menunjukkan arah.



