By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Thursday, 5 November 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pendidikan > Dari Istana Dam Amsterdam, Dua Kader Cilik Sekolah Negarawan Belajar Memahami Arti Kedaulatan Rakyat
Pendidikan

Dari Istana Dam Amsterdam, Dua Kader Cilik Sekolah Negarawan Belajar Memahami Arti Kedaulatan Rakyat

Diajeng Maharini
Last updated: November 3, 2026 11:27 am
By Diajeng Maharini
Share
9 Min Read
SHARE

AMSTERDAM — Pengalaman berharga diperoleh dua Kader Cilik Sekolah Negarawan, Alifia Ariana dan Yahya Al Fatih, ketika tampil menyampaikan pidato kenegarawanan di kawasan Istana Dam, Amsterdam, Belanda, pada April 2026. Keduanya membacakan naskah berjudul Kembalikan Kedaulatan kepada Rakyat, Menuju Perubahan Kelima UUD NRI Tahun 1945. Penampilan tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan untuk mengenalkan persoalan kebangsaan kepada generasi muda sejak dini. Istana Dam dipilih sebagai lokasi karena memiliki keterkaitan simbolis dengan perjalanan sejarah penyerahan kedaulatan Indonesia dari Belanda. Melalui pengalaman tersebut, keduanya diperkenalkan pada pemahaman mengenai rakyat, negara, pemerintah, konstitusi, hukum, dan kedaulatan.

Mengenalkan Makna Kedaulatan Sejak Usia Dini

Naskah pidato yang dibawakan Alifia dan Yahya didedikasikan kepada Mbah Nun serta seluruh rakyat Indonesia sebagai pemilik kedaulatan. Gagasan utamanya mengangkat pertanyaan mengenai kedudukan rakyat dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara. Kedaulatan rakyat tidak semestinya hanya dimaknai melalui keterlibatan dalam pemilihan umum. Rakyat juga perlu memiliki ruang untuk memahami, mengawasi, dan menentukan arah kehidupan bernegara. Pemahaman tersebut menjadi salah satu pokok pemikiran yang diperkenalkan melalui pidato kenegarawanan tersebut.

Naskah itu turut mengangkat pentingnya membedakan pengertian negara dan pemerintah. Negara merupakan kesatuan yang mencakup wilayah, rakyat, dan pemerintahan, sedangkan pemerintah menjalankan fungsi penyelenggaraan negara. Perbedaan keduanya perlu dipahami agar kedudukan rakyat dan tanggung jawab penyelenggara negara menjadi lebih jelas. Dalam kerangka tersebut, pemerintah bukan pemilik negara, melainkan pihak yang menjalankan amanah untuk melindungi, melayani, dan mengatur kehidupan masyarakat. Gagasan ini menjadi materi pengenalan agar anak-anak memahami hubungan antara rakyat dan penyelenggara negara secara lebih mendasar.

Pidato tersebut juga menyoroti bahwa persoalan bangsa tidak selalu selesai melalui pergantian pemimpin. Perubahan kebijakan jangka pendek juga belum tentu mampu menyelesaikan persoalan yang bersumber dari desain ketatanegaraan. Karena itu, diperlukan pembahasan mengenai struktur negara dan konstitusi yang berlandaskan Pancasila. Naskah tersebut mengangkat gagasan perlunya penataan hubungan antarlembaga agar kekuasaan memiliki batas dan pertanggungjawaban yang jelas. Seluruh pembahasan diarahkan pada upaya memperkuat kedudukan rakyat sebagai pemilik kedaulatan.

Generasi Muda Perlu Memahami Masa Depan Bangsanya

Salah satu pesan penting dalam pidato tersebut berkaitan dengan tanggung jawab generasi muda. Anak-anak Indonesia tidak seharusnya hanya dipersiapkan untuk menerima keadaan yang diwariskan generasi sebelumnya. Mereka perlu dibekali kemampuan memahami persoalan dan mengambil bagian dalam perbaikan kehidupan masyarakat ketika dewasa. Perubahan konstitusi dalam naskah tersebut juga dipandang sebagai persoalan yang berkaitan dengan arah perjalanan bangsa. Sebab, konstitusi menjadi salah satu landasan dalam mengatur hubungan kekuasaan, melindungi hak warga negara, dan menentukan penyelenggaraan kehidupan bersama.

Bagi Sekolah Negarawan, pengenalan persoalan kenegaraan kepada anak-anak bukan berarti membebankan tanggung jawab orang dewasa kepada mereka. Masa kanak-kanak justru merupakan kesempatan untuk membangun dasar pengetahuan, karakter, dan keberanian berpikir. Anak-anak dapat mulai belajar melalui kegiatan membaca, bertanya, berdialog, memahami sejarah, serta menyampaikan pendapat. Mereka juga perlu mengenali hak dan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat. Dengan proses bertahap, pemahaman tersebut diharapkan menjadi bekal ketika mereka tumbuh menjadi warga negara yang dewasa.

You Might Also Like

Saat Negara Mengontrol dan Menghukum, Keadilan Tidak Boleh Hilang
Ilusi Demokrasi dan Kekuasaan: Rakyat Memilih, Penguasa Mengendalikan
Ketika Kasus Hukum di Negeri Ini Menjadi Sorotan
Tidak Akan Ada Perubahan Jika Kita Nyaman dalam Ketidakbenaran: Seruan bagi Eksekutor Gagasan Cak Nun

Saudara Kembar dengan Perjalanan Pengembangan Potensi Berbeda

Alifia Ariana dan Yahya Al Fatih merupakan saudara kembar sekaligus putra-putri Adv. Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP, Wakil Direktur Sekolah Negarawan. Keduanya saat ini menempuh pendidikan di SD Unggulan Permata Jingga, Kabupaten Malang. Dalam perkembangannya, mereka mulai menunjukkan ketertarikan dan kemampuan melalui bidang yang berbeda. Yahya Al Fatih beberapa kali mengikuti kegiatan kenegarawanan, dialog, dan forum publik bersama Sekolah Negarawan. Pada 2026, ia juga meraih Juara 1 Ajang Juara Kelas Indonesia tingkat Regional 6 sebelum melanjutkan perwakilan pada tingkat nasional.

Sementara itu, Alifia Ariana memperlihatkan potensi melalui kegiatan literasi dan penulisan cerita. Pada 30 Oktober 2026, ia berhasil meraih Juara 1 Lomba Menulis Cerita Fiksi Fase C dalam rangka Bulan Bahasa SD Unggulan Permata Jingga. Karya yang mengantarkannya meraih penghargaan tersebut berjudul Petualangan Seru di Negeri Dongeng. Cerita itu mengangkat perjalanan tokoh-tokohnya dalam menemukan lima kepingan puzzle yang melambangkan sila-sila Pancasila. Kelima simbol tersebut meliputi bintang, rantai emas, pohon beringin, kepala banteng, serta padi dan kapas.

Kisah Alifia dan Yahya memperlihatkan bahwa saudara kembar tidak harus memiliki jalur perkembangan yang sama. Setiap anak mempunyai minat, karakter, dan kemampuan yang perlu dikenali serta dikembangkan. Ada anak yang menunjukkan potensinya melalui kemampuan berbicara di depan umum, sedangkan anak lainnya berkembang melalui tulisan dan karya kreatif. Keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat. Pendidikan seharusnya mendampingi proses tersebut tanpa memaksakan keseragaman.

Dari Pengalaman di Amsterdam Menuju Pembelajaran Sehari-hari

Pengalaman berdiri di kawasan Istana Dam Amsterdam memberikan ruang pembelajaran yang berbeda bagi Alifia dan Yahya. Mereka tidak hanya berlatih menyampaikan naskah di depan publik, tetapi juga mengenal sejarah dan gagasan mengenai kehidupan bernegara. Pengalaman tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk membangun rasa ingin tahu terhadap Indonesia. Anak-anak dapat diajak memahami mengapa rakyat disebut pemilik kedaulatan dan mengapa pemerintah harus menjalankan amanah. Pertanyaan sederhana seperti itu dapat menjadi awal pembelajaran yang lebih luas.

Pengenalan tersebut tidak harus dilakukan melalui teori hukum yang rumit. Orang tua dan pendidik dapat memulainya melalui percakapan mengenai kehidupan sehari-hari. Anak dapat diajak memahami pentingnya aturan, tanggung jawab, keadilan, musyawarah, dan kepedulian terhadap sesama. Sekolah juga dapat menyediakan ruang diskusi, kegiatan membaca, latihan pidato, serta penulisan cerita bertema kebangsaan. Pendekatan tersebut membantu anak belajar menyampaikan gagasan sekaligus menghargai pemikiran orang lain.

Sekolah Negarawan dapat terus mengembangkan pendidikan melalui kegiatan yang menggabungkan literasi, sejarah, komunikasi, dan pembentukan karakter. Anak-anak perlu memperoleh kesempatan untuk mengenal berbagai persoalan sesuai tahap perkembangan usianya. Mereka juga perlu didampingi agar mampu membedakan informasi, menyusun alasan, dan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab. Pengalaman belajar tidak harus selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Kunjungan sejarah, pertemuan budaya, dan kegiatan lintas negara juga dapat memperluas wawasan anak.

Menanam Benih Kenegarawanan untuk Generasi Mendatang

Semangat pendidikan tersebut sejalan dengan ungkapan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, yaitu, “Ayo, tukul winih-winihku.” Ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan untuk membiarkan benih-benih kehidupan tumbuh dan berkembang. Setiap benih membutuhkan tanah yang baik, air, cahaya, waktu, serta perawatan yang berkelanjutan. Demikian pula anak-anak yang membutuhkan lingkungan pendidikan untuk mengembangkan pengetahuan dan karakter. Mereka tidak dapat dipaksa tumbuh menjadi pribadi yang matang tanpa melalui proses belajar dan pengalaman.

Generasi masa depan membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan memperoleh nilai akademik atau memenangkan perlombaan. Mereka perlu memiliki akhlak, kedisiplinan, literasi, kemampuan berhitung, penguasaan teknologi, dan kecakapan berkomunikasi. Selain itu, pemahaman mengenai sejarah, masyarakat, serta tanggung jawab sebagai warga negara juga perlu dibangun. Seluruh kemampuan tersebut harus berkembang secara seimbang agar anak mampu menghadapi tantangan kehidupan. Pendidikan kenegarawanan sejak dini menjadi salah satu upaya untuk menyiapkan bekal tersebut.

Pengalaman Alifia Ariana dan Yahya Al Fatih menyampaikan pidato di kawasan Istana Dam Amsterdam pada April 2026 merupakan bagian kecil dari perjalanan panjang pendidikan mereka. Saat ini, keduanya masih berada dalam tahap belajar dan menemukan kemampuan masing-masing. Alifia terus mengembangkan kreativitas melalui literasi, sedangkan Yahya memperoleh pengalaman melalui kegiatan akademik dan forum kenegarawanan. Perbedaan jalur tersebut justru memperlihatkan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri untuk bertumbuh. Hal terpenting adalah menjaga agar seluruh proses perkembangan tetap berlandaskan pengetahuan, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama.

Tugas generasi hari ini bukan sekadar mewariskan keadaan kepada generasi berikutnya. Tanggung jawab yang lebih besar adalah mempersiapkan anak-anak agar memiliki kemampuan untuk memahami dan memperbaiki kehidupan ketika tiba waktunya. Dari Malang hingga Amsterdam, dari ruang kelas hingga ruang publik, proses pendidikan tersebut dapat terus berjalan. Pengalaman kecil hari ini diharapkan menjadi bekal bagi perjalanan panjang mereka pada masa mendatang. Sebab, masa depan bangsa perlu dipersiapkan melalui benih-benih generasi yang tumbuh dengan pengetahuan, keberanian, dan kebijaksanaan.

Tukul, winih-winihku.

Tumbuhlah benih-benihku.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Menelusuri Batas Ruang Gerak Negara dalam Desain Ketatanegaraan melalui Buku Free Indonesia Save Nusantara Jilid 1
Next Article Ruang Gerak Negara dan Pergeseran Kendali Kekuasaan dalam Buku Free Indonesia Save Nusantara Jilid 1

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pendidikan

Khofifah dan Lee Bahas Pendidikan, Partai X: Investasi Harus Pro Rakyat!

November 22, 2025
Isu dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo kembali mencuat ke permukaan, menyulut diskursus publik yang tajam.
Pemerintah

Bukan Rakyat, PDIP yang Harus Bertanggung Jawab Atas Ijazah Jokowi?

July 18, 2025
Pemerintah

Ketatanegaraan yang Rusak dan Nasib Generasi Z

October 27, 2025
Pemerintah

Negara Indonesia Menjadi Modern, Rakyat Harus Tetap Menjadi Pusat Kehidupan Bernegara

September 1, 2026
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.