beritax.id – Biaya politik tinggi dalam sistem pemerintahan Indonesia semakin membebani rakyat. Peningkatan biaya politik ini semakin menciptakan kesenjangan yang tajam antara rakyat dan pejabat. Sementara itu, pejabat-pejabat negara justru memperoleh keuntungan besar, sementara rakyat semakin terpinggirkan. Rinto Setiyawan, Anggota Majelis Tinggi Partai X, menegaskan bahwa tugas negara seharusnya adalah melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Namun, kenyataannya, justru mereka yang berkuasa yang menikmati hasil yang tidak adil ini.
Peningkatan biaya politik tidak hanya dirasakan dalam hal dana kampanye, tetapi juga dalam mekanisme legislatif yang kian rumit dan membutuhkan biaya besar. Biaya yang dikeluarkan oleh para politisi semakin tidak terjangkau oleh masyarakat umum. Hal ini menyebabkan ketimpangan, dengan para pejabat yang memiliki akses lebih mudah untuk mendapatkan dana untuk kampanye dan kegiatan lainnya.
Rakyat Terhimpit Oleh Sistem
Dengan adanya biaya politik tinggi, rakyat yang seharusnya menjadi prioritas justru menjadi korban dari ketidakadilan ini. Kenaikan tarif pajak dan pengurangan alokasi dana untuk kebutuhan publik menambah penderitaan masyarakat yang sudah terhimpit oleh kondisi ekonomi yang sulit. Pemerintah seharusnya fokus pada peningkatan kualitas hidup rakyat, namun kebijakan yang ada justru lebih berpihak pada kepentingan pejabat dan kalangan elite.
Tanggapan Anggota Majelis Tinggi Partai X
Rinto Setiyawan mengingatkan bahwa tugas negara bukan hanya sekadar menjalankan birokrasi atau memanfaatkan kekuasaan untuk keuntungan pribadi. Negara harus mampu memberikan perlindungan terhadap rakyat dengan kebijakan yang adil. Melalui regulasi yang adil, pemerintah bisa menurunkan biaya politik yang selama ini menghambat proses pemerintahan yang sehat.
Solusi untuk Mengurangi Biaya Politik Tinggi
Pemerintah perlu melakukan reformasi sistem pemerintahan yang lebih transparan dan mengurangi ketergantungan pada dana besar dalam setiap proses. Partai X menyarankan agar sistem pendanaan terbuka, dan alokasi anggaran untuk kepentingan publik harus diprioritaskan. Selain itu, pengawasan terhadap dana kampanye dan transparansi dalam pendanaan perlu diperketat agar biaya tidak melambung tinggi dan rakyat tidak menjadi korban. Pemerintah juga diharapkan bisa mengatur kebijakan yang menekan biaya politik dengan mendahulukan kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi atau golongan tertentu.
Indonesia memerlukan kebijakan yang lebih bijaksana dalam menghadapi biaya politik tinggi. Rakyat harus diutamakan dalam setiap keputusan, dengan mengurangi ketimpangan yang ada. Jika tidak ada perubahan dalam pendekatan ini, maka rakyat akan terus menjadi korban sementara para pejabat semakin kaya. Negara harus kembali kepada tugas utamanya: melindungi, melayani, dan mengatur rakyat.



