By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Friday, 13 February 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Biaya Demokrasi Dianggap Mahal, Kekuasaan Dianggap Wajar
Pemerintah

Biaya Demokrasi Dianggap Mahal, Kekuasaan Dianggap Wajar

Diajeng Maharani
Last updated: December 24, 2025 1:15 pm
By Diajeng Maharani
Share
3 Min Read
SHARE

beritax.id – Dalam perdebatan publik belakangan ini, demokrasi semakin sering diperlakukan sebagai persoalan biaya. Pemilu disebut mahal, pilkada dinilai melelahkan, dan partisipasi rakyat dianggap tidak efisien. Di sisi lain, ongkos kekuasaan mulai dari fasilitas pejabat, konsolidasi, hingga kebijakan yang memperpanjang pengaruh pejabat justru diperlakukan sebagai kewajaran.

Narasi ini menciptakan pembalikan logika berbahaya: hak rakyat dipersoalkan, sementara kekuasaan dianggap kebutuhan mutlak.

Efisiensi sebagai Alasan Mengurangi Kedaulatan

Wacana penyederhanaan demokrasi kerap dibungkus dengan istilah efisiensi dan stabilitas. Pemilihan langsung dianggap sumber konflik, suara publik dinilai memperlambat keputusan, dan kritik diposisikan sebagai gangguan. Dalam praktiknya, solusi yang ditawarkan bukan memperbaiki kualitas demokrasi, melainkan mengurangi peran rakyat di dalamnya.

Demokrasi yang dipangkas atas nama efisiensi berisiko kehilangan substansinya.

Biaya Demokrasi vs Biaya Ketidakadilan

Ironisnya, yang jarang dihitung adalah biaya ketika demokrasi dilemahkan. Ketika rakyat kehilangan ruang kontrol, kebijakan mudah melenceng, ketimpangan melebar, dan konflik sosial mengendap. Biaya sosial, ekonomi, dan lingkungan yang muncul justru jauh lebih besar daripada biaya pemilu itu sendiri.

Demokrasi memang membutuhkan biaya, tetapi ketidakadilan jauh lebih mahal dampaknya.

You Might Also Like

Sengketa Ijazah Diselesaikan di Luar Pengadilan, Eko Wahyu Pramono Cabut Gugatan
Reformasi Tata Negara ala Cak Nun: Jihad Sejati Membela Kaum Lemah
Harga Emas Meledak, Partai X: Rakyat Makin Berat, Emas Makin Ringan!
Mensos Ajak Mutakhirkan DTSEN, Partai X: Data Akurat, Program Tepat Sasaran!

Normalisasi Kekuasaan Tanpa Koreksi

Ketika demokrasi terus dipersoalkan sebagai beban, publik perlahan dibiasakan menerima kekuasaan yang minim koreksi. Pergantian kepemimpinan dipersempit, partisipasi dikurangi, dan rakyat hanya dihadirkan sebagai legitimasi awal. Dalam situasi ini, kekuasaan tidak lagi dilihat sebagai amanah sementara, melainkan sebagai posisi yang wajar untuk dipertahankan.

Inilah titik ketika demokrasi melemah bukan karena krisis, tetapi karena pembiaran.

Solusi: Memperbaiki Demokrasi, Bukan Mengerdilkannya

Untuk keluar dari jebakan ini, negara harus berhenti mempersoalkan demokrasi sebagai beban dan mulai memperbaikinya sebagai sistem. Ongkos kekuasaan perlu ditekan melalui transparansi pendanaan, penegakan hukum, dan penghapusan praktik transaksional bukan dengan mengurangi hak pilih rakyat. Mekanisme partisipasi dan pengawasan publik harus diperluas agar kekuasaan tetap terkendali. Pendidikan politik perlu diperkuat agar masyarakat memahami bahwa demokrasi bukan sekadar memilih, melainkan mengawal mandat. Yang terpenting, kekuasaan harus kembali dipahami sebagai amanah sementara, bukan kenyamanan permanen.

Demokrasi memang tidak murah, tetapi ia adalah harga yang layak dibayar untuk keadilan dan kebebasan. Kekuasaan yang dianggap terlalu wajar justru menjadi tanda bahwa demokrasi sedang diuji.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Benarkah Oligarki Sekadar Alat Pengalihan Kesalahan Pemerintah?
Next Article IWPI: Target Pajak 2025 Terancam Gagal, Sistem Tekan Rakyat Tak Pernah Bangun Kepatuhan

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Sosial

Krisis Sosial Indonesia Bukan Kebetulan, Tapi Akibat Kebijakan yang Salah Arah

December 1, 2025
Pada suatu malam di bulan Februari, aku duduk di samping sang guru, di dalam mobil yang melaju perlahan menapaki jalan terjal pegunungan.
Pemerintah

Puisi Perjalanan Spiritual : 2 Mimpi Pelaksana Gagasan Ketatanegaraan Cak Nun

September 14, 2025
Ekonomi

Indomaret-Alfamart Diperhatikan, Partai X: Bisnis Jangan Hanya Untuk Pejabat!

October 31, 2025
Pemerintah

Wamen BUMN Jadi Pelaksana Tugas, Partai X: Menteri Baru, Rakyat Tetap Tersiksa!

September 18, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Hot
  • Politics
  • Renewable Energy
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.