By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Saturday, 31 January 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Banjir Bandang Adalah Catatan Kegagalan dari Dua Level Kekuasaan
Pemerintah

Banjir Bandang Adalah Catatan Kegagalan dari Dua Level Kekuasaan

Diajeng Maharani
Last updated: December 15, 2025 1:43 pm
By Diajeng Maharani
Share
4 Min Read
SHARE

beritax.id – Banjir bandang yang menghancurkan Sumatera pada 2025 bukan hanya peristiwa alam ia adalah cermin yang memperlihatkan rapuhnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Di satu sisi, pusat mendorong proyek-proyek besar yang membuka hutan dan mengubah bentang alam. Di sisi lain, pemerintah daerah gagal merespons cepat ketika bencana mulai mengancam.

Ketika hulu rusak akibat kebijakan pusat dan hilir diabaikan oleh pemerintah daerah, bencana menjadi bukti nyata dua level kekuasaan sama-sama gagal menjalankan tanggung jawabnya.

Kebijakan Pusat yang Mengabaikan Bentang Alam

Di Jakarta, proyek strategis seperti PLTA Batang Toru dianggap sebagai simbol kemajuan dan investasi hijau. Didorong oleh tokoh kuat seperti Luhut Binsar Pandjaitan, proyek besar ini terus dipromosikan meski berdiri di salah satu ekosistem paling sensitif di dunia.

Krisis ekologis yang muncul bukan tanpa sebab:

  • lebih dari 70 ribu hektare hutan Batang Toru hilang,
  • habitat Orangutan Tapanuli terfragmentasi,
  • lereng bukit kehilangan stabilitas tanah,
  • dan jalur air alami terpotong oleh proyek infrastruktur.

Ketika pusat mengambil keputusan tanpa memperhitungkan risiko ekologis, kerusakan alam menjadi bagian dari “biaya pembangunan”.

Pemerintah Daerah yang Terlambat dan Tidak Tegas

Sementara pusat mendorong investasi, pemerintah provinsi gagal menjalankan fungsi pengawasan dan mitigasi. Gubernur Bobby Nasution memilih menyalahkan cuaca ketimbang mengakui kerusakan hutan sebagai akar persoalan.

You Might Also Like

Purbaya Ambil Peran BI, Partai X: Jangan Mainkan Rakyat dengan Kebijakan!
Regulasi Digital Dikebut! Partai X Ingatkan: Jangan Sampai Industri Pos dan Logistik Kalah Start!
Adaksi Tak Lagi Ungkit Tukin Dosen, Partai X Minta Prioritaskan Kejelasan!
Runtuhnya Kepercayaan Publik dan Erosi Pilar Keempat

Lebih parah lagi, keterlambatan dalam menetapkan status tanggap darurat membuat:

  • alat berat baru bergerak setelah banyak wilayah terisolasi,
  • korban tidak segera dievakuasi,
  • dan bantuan logistik tertahan di lapangan.

Tuntutan masyarakat sipil untuk mencabut izin perusahaan yang diduga memperparah kerusakan lingkungan pun diabaikan. Akibatnya, perusahaan tetap aman, rakyat tetap rentan.

Dua Kegagalan yang Menyatukan Derita Rakyat

Kebijakan investasi pusat dan kelalaian daerah saling melengkapi dalam menciptakan bencana:

  • pusat membuka ruang kerusakan,
  • daerah membiarkan dampaknya membesar.

Ketika dua level kekuasaan sama-sama menunda tanggung jawab, masyarakat di hilir membayar konsekuensinya. Rumah hanyut, keluarga hilang, dan desa-desa lumpuh berhari-hari.

Banjir bandang ini bukan hanya urusan cuaca—ia adalah catatan kegagalan administratif, ekologis, dan moral yang datang dari dua arah.

Rinto Setiyawan: “Kalau Pusat dan Daerah Gagal, Rakyat Tidak Punya Pelindung”

Menanggapi pola kegagalan ini, Anggota Majelis Tinggi Partai X Rinto Setiyawan memberikan kritik tegas:

“Negara punya tiga tugas: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Tapi kalau pusat merusak ekologi dan daerah lambat merespons, maka negara gagal menjalankan semuanya sekaligus.”

Rinto menegaskan bahwa koordinasi antarlevel pemerintahan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan investasi atau pertimbangan kekuasaan.

“Rakyat tidak bisa dibiarkan menjadi korban dari kebijakan yang tidak sinkron. Pusat dan daerah harus berhenti saling melempar, dan mulai melindungi rakyat.”

Solusi: Sinkronisasi Kebijakan yang Menyelamatkan, Bukan Mengorbankan

Untuk mencegah tragedi serupa, Partai X menawarkan langkah konkret yang menyasar dua level kekuasaan sekaligus:

  • Peninjauan ulang proyek-proyek pusat yang berdampak pada ekosistem sensitif. Termasuk audit independen PLTA, tambang, dan perkebunan besar.
  • Sanksi tegas bagi pemerintah daerah yang terlambat menetapkan status darurat. Perlindungan rakyat tidak boleh tunduk pada birokrasi.
  • Mekanisme tanggap darurat terpadu antara pusat dan daerah. Satu sistem, satu komando, satu standar waktu.
  • Pembekuan izin perusahaan yang beroperasi di area berisiko tinggi. Keselamatan rakyat harus menjadi prioritas dibanding pertumbuhan industri.
  • Restorasi ekosistem hulu sebagai program nasional jangka panjang
    Merehabilitasi hutan dengan pendekatan ilmiah, bukan kegiatan simbolis.
  • Transparansi lintas-level atas semua keputusan izin, evaluasi, dan pendanaan
    Agar publik dapat memantau siapa yang bertanggung jawab atas apa.

Banjir bandang Sumatra mengingatkan satu hal penting ketika pusat sibuk mengejar investasi dan daerah sibuk menutup-nutupi kerusakan, rakyat menjadi pihak yang paling kehilangan.

Bencana ini adalah catatan kegagalan dua level kekuasaan dan harus menjadi alasan kuat untuk membangun pemerintahan yang lebih selaras, lebih tegas, dan lebih berpihak kepada keselamatan manusia.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Ketika Tragedi Sumatera Tak Diakui sebagai Bencana
Next Article Ketika Kritik Proyek Dibungkam, Padahal Alam Sedang Memberi Peringatan

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Korporasi Global Menguasai: Mempengaruhi Kebijakan Ekonomi Negara dengan Modal Besar

January 30, 2026
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Seputar Pajak

Mendadak Uji Kepatuhan Hakim Agung Pajak, IWPI: DPR Khianati Rakyat!

September 9, 2025
Kriminal

KPK Usut Jejak SYL, Partai X: Jangan Cuma Tanya Bawahan, Bongkar Juga Jaringan Kekuasaan!

May 22, 2025
Pemerintah

WNA Jadi Direksi BUMN, Partai X: Jangan Sampai Kekayaan Negeri Dikelola Asing!

October 27, 2025
Pendidikan

KPK Temukan Potensi Suap di PPDB, Partai X: Masuk Sekolah Pakai Amplop, Bukan Prestasi!

June 17, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Hot
  • Politics
  • Renewable Energy
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.