HELSINKI, FINLANDIA – Sebuah ruang yang dirancang dengan niat baik akan selalu memantulkan frekuensi kedamaian kepada siapa saja yang memasukinya. Resonansi kedamaian itulah yang secara nyata dirasakan oleh para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan tatkala mengunjungi Gereja Temppeliaukio di Helsinki, Finlandia, sebuah gereja yang dikenal luas di seluruh dunia karena memiliki kualitas akustik yang sangat sempurna.
Agenda eksplorasi ini diikuti oleh jajaran pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan: Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta CEO Enygma Erick Karya. Rombongan ini dipandu oleh perwakilan diaspora Indonesia, Wiwik H, yang memberikan narasi sosiokultural mengenai bagaimana gereja ini difungsikan oleh masyarakat lokal.

Dinding-dinding batu granit yang dibiarkan kasar, berlekuk, dan tidak dihaluskan di dalam gereja ini rupanya bukan sekadar pilihan estetika, melainkan perhitungan akustik yang sangat brilian. Permukaan batu yang tidak beraturan tersebut memantulkan suara dengan sangat jernih dan merdu, menjadikannya salah satu tempat konser musik paling prestisius di Eropa, sekaligus ruang peribadatan yang sangat hening.
Mendengarkan pantulan gema di dalam ruang tersebut, Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, menarik sebuah benang merah filosofis yang sangat tajam. Mengacu pada gagasan kenegaraan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Prayogi menyebutkan bahwa seorang negarawan harus memiliki kemampuan untuk mendengarkan suara-suara “kasar” dan tidak beraturan dari rakyat kecil (mustadhafin). Aspirasi rakyat jelata mungkin tidak rapi, namun jika negara memiliki “ruang akustik” kebijakan yang baik, suara kasar tersebut akan berubah menjadi harmoni persatuan.
Wiwik H dan Wakil Direktur Rinto Setiyawan menambahkan bahwa gereja ini adalah simbol persaudaraan universal. Gereja Temppeliaukio rutin menggelar konser musik sekuler dan paduan suara lintas negara yang dihadiri oleh manusia dari berbagai latar belakang keyakinan. Di ruang batu ini, sentimen agama mencair, digantikan oleh bahasa universal kemanusiaan dan seni yang mempersatukan.
Membaca fenomena tersebut dari kacamata tata kelola modern, CEO Enygma, Erick Karya, mengingatkan bahwa sistem pemerintahan Indonesia di masa depan harus berfungsi seperti dinding akustik tersebut. Arsitektur Artificial Intelligence (AI) yang diusung oleh Enygma bersama Sekolah Negarawan dirancang untuk menyerap ribuan data keluhan masyarakat yang mentah dan berserakan, lalu memprosesnya menjadi kebijakan publik yang solutif, adil, dan menghadirkan kedamaian sosial.
Pesan persaudaraan universal yang menggema dari dinding batu Helsinki ini menjadi oleh-oleh spiritual dari lawatan komprehensif Ekosistem Sekolah Negarawan ke 12 negara. Penjelajahan yang mencakup kesejahteraan Finlandia, tata kelola IT Estonia, hingga kebijaksanaan di Eropa Barat, Persia (Iran), Timur Tengah, dan Asia Tenggara ini terus dirawat menjadi materi pendidikan kewarganegaraan, yang didiseminasikan tanpa jeda dari Medan hingga ke tapal batas Ternate dan Tidore.



