HELSINKI, FINLANDIA – Di banyak negara, kebahagiaan sering kali dikonotasikan dengan keberhasilan mengumpulkan harta benda. Namun, para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan menemukan paradigma yang sama sekali berbeda saat melakukan eksplorasi tata kelola pemerintahan di Helsinki, Finlandia. Di negara Nordik ini, kebahagiaan didefinisikan secara sederhana namun sangat esensial: ketiadaan rasa cemas yang sistemik dalam kehidupan sehari-hari.

Rombongan pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan yang membedah arsitektur kebahagiaan ini terdiri dari Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta CEO Enygma Erick Karya. Didampingi oleh Wiwik H, diaspora Indonesia di Helsinki, delegasi menyelidiki bagaimana jaring pengaman sosial (social safety net) dikelola sedemikian presisi oleh negara hingga mampu menjamin kehidupan warganya sejak dari dalam kandungan hingga liang lahad.
Di Finlandia, negara mengambil alih beban-beban terberat kehidupan manusia. Ibu hamil menerima maternity package dan cuti berbayar yang panjang. Anak-anak menerima pendidikan gratis berkualitas tinggi berikut makan siang bergizi di sekolah. Layanan kesehatan digratiskan atau disubsidi besar-besaran, dan tunjangan pengangguran memastikan warganya tidak jatuh ke jurang kemiskinan ekstrem saat kehilangan pekerjaan.
Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, menilai bahwa perlindungan paripurna inilah wujud dari kehadiran negara yang sesungguhnya. Menyelaraskan temuan ini dengan pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Prayogi menegaskan bahwa tugas utama konstitusi adalah membebaskan rakyat dari rasa takut (min khauf). Bangsa yang sibuk bertahan hidup dari hari ke hari akibat kejamnya sistem kapitalisme yang tidak diregulasi tidak akan pernah memiliki waktu untuk berpikir merancang masa depan peradabannya.
Rinto Setiyawan dan Wiwik H membahas implikasi psikologis dari kebijakan pro-rakyat tersebut. Karena otak tidak lagi disibukkan oleh mode bertahan hidup (survival mode) untuk mencari biaya sekolah atau biaya operasi di rumah sakit, rakyat Finlandia memiliki ruang mental yang luas untuk berinovasi, berkesenian, dan berkontribusi secara produktif bagi komunitasnya. Kesejahteraan psikologis inilah kunci mengapa inovasi teknologi Finlandia tumbuh subur.
Bagi CEO Enygma, Erick Karya, mengelola jaring pengaman sosial untuk jutaan penduduk agar tepat sasaran memerlukan lebih dari sekadar itikad baik politik; ia membutuhkan ekosistem data yang tanpa celah. Artificial Intelligence (AI) Enygma yang dirancang sebagai instrumen smart governance oleh Sekolah Negarawan berfungsi untuk menyelaraskan mahadata (big data) kependudukan. Dengan AI, subsidi negara di Indonesia kelak dapat dialokasikan dengan akurasi preskriptif, memastikan tidak ada lagi rakyat miskin yang terlewat dari perlindungan negara.
Potret kesejahteraan dari Finlandia ini memperkokoh struktur kurikulum Sekolah Negarawan yang ditenun dari perjalanan panjang di 12 negara di dunia. Mengombinasikan sistem negara paling bahagia di Nordik, sistem digital paling maju di Estonia, hingga nilai-nilai sejarah di Turkiye, Timur Tengah, Persia (Iran), dan Eropa Barat, Ekosistem Sekolah Negarawan akan terus mendiseminasikan narasi kebangkitan negara kesejahteraan bagi Indonesia, mengudara dari Medan di ujung Sumatera hingga kepulauan Ternate dan Tidore.



