LEIDEN, BELANDA – Bagaimana sebuah kota mengintegrasikan pusat ilmu pengetahuan kelas dunia dengan kualitas ruang hidup yang asri dan bersejarah menjadi fokus pengamatan delegasi Sekolah Negarawan saat berkunjung ke Universitas Leiden, Belanda. Dalam agenda yang berlangsung hangat tersebut, tim tidak hanya mengunjungi jantung literasi di Perpustakaan Universitas Leiden, tetapi juga mengamati langsung denyut kehidupan akademik di sepanjang kawasan kampus baru hingga kampus lama.
Delegasi yang dipimpin oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan CEO Enygma Erick Karya, disambut dan didampingi oleh Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa, Syafiih Kamil. Turut mendampingi perjalanan delegasi di kota bersejarah tersebut adalah Una, mahasiswi program doktoral asal Indonesia yang sedang menyelesaikan riset Ph.D. di Universitas Leiden.

Bersama Una dan Syafiih Kamil, delegasi mengawali penjelajahan dari Perpustakaan Universitas Leiden yang dikenal memiliki koleksi literatur Asia Tenggara dan Nusantara paling komprehensif di dunia. Di ruang-ruang baca yang tenang namun modern, tampak bagaimana akses terhadap sumber-sumber pengetahuan masa lalu dikelola dengan sistem teknologi informasi yang sangat rapi guna menopang riset-riset masa depan.
Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, mengungkapkan bahwa cara Universitas Leiden memelihara kesinambungan antara masa lalu dan masa depan terlihat jelas saat delegasi bergerak mengeksplorasi area kampus baru menuju kawasan kampus lama yang bersejarah. Bangunan-bangunan riset modern berdiri berdampingan secara proporsional dengan arsitektur klasik Eropa yang telah melahirkan banyak pemikir besar dunia selama berabad-abad.

Kesan mendalam juga dirasakan oleh seluruh anggota delegasi ketika menyaksikan betapa cantiknya lingkungan fisik Universitas Leiden yang dibelah oleh aliran sungai. Di sela-sela waktu kuliah, tampak mahasiswa duduk-duduk di tepi sungai menikmati udara segar, sementara di atas permukaan air terlihat orang-orang yang berperahu dengan tenang melintasi deretan gedung fakultas yang ikonik.
Selain aktivitas di tepi sungai, budaya bersepeda yang menjadi identitas utama mobilitas mahasiswa dan dosen di Leiden menghadirkan suasana kampus yang bebas polusi, sehat, dan egaliter. CEO Enygma, Erick Karya, menilai bahwa ekosistem kota pelajar yang tertata apik ini sangat mendukung kejernihan berpikir sebuah prasyarat penting dalam melahirkan inovasi tata kelola pemerintahan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) maupun kebijakan publik yang berkualitas.
Bagi Prayogi R. Saputra, observasi di Universitas Leiden ini melengkapi mozaik perjalanan dua tahun Sekolah Negarawan dalam menelusuri jejak intelektual dan kebudayaan Cak Nun di 12 negara mencakup Eropa Barat, kawasan Nordik (Finlandia), eks-Uni Soviet (Estonia), Turkiye, Timur Tengah, Persia (Iran), hingga Asia Tenggara yang hasilnya terus didiseminasikan di tanah air dari Medan hingga Ternate dan Tidore.



