DEN HAAG — Ruang fisik di mana birokrasi beroperasi sering kali menentukan perilaku aparatur di dalamnya. Birokrasi yang bersembunyi di balik tembok tebal dan pintu tertutup cenderung melahirkan budaya koruptif dan elitis. Sebaliknya, ruang yang terbuka akan memaksa aparaturnya untuk bertindak transparan. Kesadaran inilah yang menjadi motif utama di balik kunjungan delegasi Sekolah Negarawan ke Balai Kota Den Haag (Stadhuis Den Haag).
Kunjungan yang dipimpin oleh Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, Kepala Perwakilan Eropa Imam Syafiih Kamil, dan CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya ini adalah sebuah studi tentang “Arsitektur Transparansi”. Di Den Haag, mereka menemukan perwujudan konkret dari konsep tersebut pada bangunan rancangan arsitek Richard Meier yang didominasi oleh kaca dan warna putih bersih.
Gedung yang dijuluki Ijsepaleis (Istana Es) ini merupakan tamparan keras sekaligus inspirasi strategis bagi delegasi Sekolah Negarawan. Di Indonesia, kantor pemerintahan kerap didesain dengan pagar tinggi dan pos penjagaan yang terkesan mengintimidasi warga biasa. Namun di Den Haag, Balai Kota justru dirancang layaknya ruang publik raksasa yang mengundang siapa saja untuk masuk dan melihat langsung proses pemerintahan berjalan.

Filosofi ini sangat krusial untuk diadopsi oleh calon-calon pemimpin bangsa. Direktur Prayogi memandang bahwa seorang negarawan sejati tidak boleh memiliki jarak psikologis dengan rakyatnya. Keterbukaan ruang di Balai Kota Den Haag adalah representasi dari keterbukaan informasi publik dan akuntabilitas kebijakan yang harus menjadi standar kepemimpinan masa depan Indonesia.
Dari perspektif inovasi, Erick Karya menambahkan bahwa transparansi fisik harus dibarengi dengan transparansi algoritma. Pemerintahan yang baik tidak hanya terbuka secara kasatmata, tetapi sistem digital yang melayaninya juga harus bebas dari bias dan mudah dilacak prosesnya (traceable).
Imam Syafiih Kamil, sebagai diaspora yang memahami kultur Eropa, menegaskan bahwa membangun kepercayaan publik (public trust) dimulai dari hal-hal fundamental seperti ini. Ketika warga merasa pemerintahnya tidak memiliki sesuatu yang disembunyikan, partisipasi warga dalam pembangunan akan meningkat dengan sendirinya.
Sekolah Negarawan kembali membuktikan kelasnya sebagai kawah candradimuka yang visioner. Dengan mengkaji langsung hubungan antara desain institusi dan perilaku birokrasi di Stadhuis Den Haag, mereka sedang mempersiapkan barisan pemimpin yang kelak berani meruntuhkan sekat-sekat eksklusivitas birokrasi di Indonesia.



