BRUSSEL, BELGIA – Kota Brussel tidak hanya menjadi tempat bertemunya berbagai institusi internasional, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan, pengalaman, dan pengetahuan dari berbagai penjuru dunia. Di tengah aktivitas diplomasi, keamanan, dan hubungan antarnegara, terdapat kekuatan lain yang memiliki peran penting, yaitu jejaring intelektual masyarakat global. Pada September 2025, kekuatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pembelajaran delegasi Sekolah Negarawan yang melakukan observasi terhadap pengelolaan ruang publik dan kawasan strategis di Brussel. Kunjungan tersebut memberikan pemahaman bahwa membangun kepemimpinan masa depan membutuhkan kemampuan membaca perkembangan dunia secara langsung. Salah satu aspek penting yang menjadi perhatian adalah bagaimana jejaring diaspora dapat menjadi penghubung antara pengalaman global dan kebutuhan pembangunan Indonesia.
Kunjungan delegasi yang dipimpin oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra dan Wakil Direktur Rinto Setiyawan menunjukkan pentingnya membangun hubungan pengetahuan lintas negara. Di Brussel, delegasi mendapatkan pendampingan dari Imam Syafiih Kamil selaku Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa. Kehadiran Imam memberikan perspektif langsung mengenai lingkungan sosial, kebudayaan, serta perkembangan kawasan Eropa. Pendampingan tersebut memperlihatkan bahwa diaspora memiliki peran strategis dalam membantu memahami suatu wilayah secara lebih mendalam. Melalui pengalaman dan interaksi yang dimiliki, diaspora dapat menjadi penghubung yang membawa pengetahuan dari berbagai belahan dunia untuk dipelajari dan dikembangkan di Indonesia.

Chapter Eropa sebagai Ruang Pengembangan Gagasan
Keberadaan Sekolah Negarawan Chapter Eropa menjadi bagian dari upaya memperluas ruang pembelajaran dan pertukaran wawasan. Chapter tersebut tidak hanya berfungsi sebagai perpanjangan organisasi, tetapi juga sebagai ruang bertemunya berbagai gagasan, pengalaman, dan pengetahuan. Dalam kunjungan ke kawasan Parlemen Eropa, Imam Syafiih Kamil membantu memberikan gambaran mengenai bagaimana berbagai keputusan dan perkembangan kawasan dapat memberikan dampak luas terhadap masyarakat dunia. Pemahaman tersebut membantu delegasi melihat bahwa sebuah kebijakan internasional memiliki hubungan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dari pengalaman tersebut, Sekolah Negarawan melihat pentingnya memiliki jaringan yang mampu membaca perubahan global secara lebih dekat.
Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra menjelaskan bahwa pengembangan jejaring internasional merupakan bagian dari kebutuhan pendidikan kepemimpinan masa depan. Menurutnya, membangun jaringan bukan hanya tentang memperluas keberadaan organisasi, tetapi juga menciptakan ruang pertukaran pengetahuan yang berkelanjutan. Pengamatan langsung di berbagai pusat institusi dunia menjadi lebih bermakna ketika dilengkapi dengan pemahaman dari orang-orang yang tinggal dan berinteraksi di kawasan tersebut. Dengan demikian, proses belajar tidak hanya berasal dari dokumen atau kajian tertulis, tetapi juga dari pengalaman nyata di lapangan. Pendekatan ini menjadi bagian penting dalam membentuk pemimpin yang memiliki wawasan luas dan mampu memahami perubahan dunia.
Sinergi Lintas Sektor dan Transfer Pengetahuan
Perjalanan ke Brussel juga menunjukkan bagaimana jejaring diaspora dapat membuka peluang kolaborasi lintas sektor. Kehadiran Erick Karya selaku CEO Enygma Solusi Negeri memberikan perspektif mengenai hubungan antara teknologi, tata ruang, dan pengelolaan kawasan strategis. Diskusi mengenai sistem keamanan modern, infrastruktur digital, dan pengelolaan ruang kota menjadi lebih kaya karena dipahami melalui konteks lingkungan Eropa secara langsung. Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa inovasi tidak dapat dipahami hanya melalui teori, tetapi juga melalui pengamatan terhadap bagaimana sebuah sistem diterapkan. Dari sinilah transfer pengetahuan dapat terjadi secara lebih nyata dan relevan.
Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan melihat bahwa pengalaman tersebut merupakan bagian dari pendidikan kepemimpinan yang berbasis keterbukaan wawasan. Menurutnya, calon pemimpin masa depan harus memiliki kemampuan memahami persoalan yang melampaui batas wilayah. Melalui Chapter Eropa, Sekolah Negarawan memiliki ruang untuk memperoleh informasi, pengalaman, dan praktik terbaik dari berbagai negara. Pengetahuan tersebut kemudian dapat dipelajari dan disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia. Dengan cara tersebut, pendidikan kepemimpinan tidak hanya berfokus pada persoalan domestik, tetapi juga mempersiapkan manusia yang mampu menghadapi tantangan dunia.
Pada akhirnya, perjalanan Sekolah Negarawan di Brussel memperlihatkan bahwa kekuatan sebuah bangsa juga ditentukan oleh kemampuannya membangun jaringan pengetahuan. Diaspora bukan hanya bagian dari masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri, tetapi juga dapat menjadi sumber pengalaman dan wawasan yang berharga. Melalui jejaring yang terorganisasi dengan baik, Indonesia dapat memahami perkembangan dunia secara lebih cepat dan mendalam. Pengetahuan tersebut dapat menjadi bekal untuk membangun gagasan, memperkuat institusi, dan mempersiapkan generasi pemimpin masa depan. Dari Brussel, Sekolah Negarawan membawa pesan bahwa masa depan Indonesia membutuhkan kemampuan untuk belajar dari dunia sekaligus tetap berakar pada nilai dan kebutuhan bangsa sendiri.



