TEHERAN – Merespons tantangan kepemimpinan global yang kian kompleks, Sekolah Negarawan mengambil langkah konkret dengan memperluas laboratorium belajarnya. Melalui peresmian kantor representatif Chapter Persia di Teheran, lembaga ini bersiap mengintegrasikan khazanah tradisi intelektual Timur Tengah ke dalam pengembangan kurikulum kepemimpinan kepemudaannya.
Acara peluncuran tersebut dihadiri oleh aktor-aktor kunci di balik kurikulum Sekolah Negarawan, di antaranya Prayogi R. Saputra, PhD (Direktur), Rinto Setiyawan (Wakil Direktur), Abdullah Assegaf (Direktur International Affairs), Imam Syafiih Kamil (Head of Europe Representative), serta Purkon Hidayat yang ditunjuk sebagai nakhoda utama Sekolah Negarawan Chapter Persia.
Sebagai pimpinan di regional Persia, Purkon Hidayat menjelaskan bahwa fokus utama chapter ini adalah menyelenggarakan program-program kajian kepemimpinan moral yang menitikberatkan pada etika publik, sejarah peradaban, dan pengelolaan keberagaman masyarakat.
Kurikulum kepemimpinan yang ditawarkan berupaya mencetak individu yang tidak sekadar cakap secara politik praktis, tetapi memiliki integritas personal yang kukuh, kedalaman visi, dan komitmen murni terhadap kemanusiaan universal.
Mengarungi Tradisi Keilmuan dan Etika Kepemimpinan
Langkah pendirian Chapter Persia ini selaras dengan pijakan utama Sekolah Negarawan yang memadukan tiga pilar utama: Pendidikan Kebangsaan, Penelitian, dan Penerbitan. Melalui pilar-pilar ini, peserta tidak hanya diajarkan teori kepemimpinan teknokratis, tetapi juga dibimbing untuk mendalami akar etika publik serta sejarah ketatanegaraan.
Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, menegaskan pentingnya pembelajaran berbasis laboratorium sejarah peradaban. Dengan membuka cabang di Teheran, Sekolah Negarawan ingin mengajak generasi muda untuk menggali khazanah intelektual Persia yang kaya akan pemikiran filsafat, sains, dan tata kelola pemerintahan masa lalu, lalu menyinergikannya dengan nilai-nilai luhur kebangsaan Indonesia.
“Seorang negarawan sejati lahir dari sintesis antara wawasan sejarah yang dalam dan keberanian moral dalam mengambil keputusan di masa kini. Pengalaman historis kawasan Persia memberikan pelajaran penting mengenai bagaimana peradaban bertahan melalui tradisi keilmuan, kebudayaan, dan kepemimpinan yang berorientasi pada kemanusiaan,” ujar Prayogi.
Mencetak Pemimpin Visioner Bertaraf Global
Melalui kurikulum terintegrasi yang akan diterapkan di Chapter Persia, para kader kepemimpinan akan dibekali dengan metode analisis kebijakan publik komparatif, literasi geopolitik, serta kajian strategis terkait isu-isu kemanusiaan dan keadilan sosial.
Wakil Direktur Rinto Setiyawan menambahkan bahwa kurikulum Sekolah Negarawan dirancang khusus untuk menggeser paradigma kepemimpinan yang berorientasi pada kekuasaan semata (power-oriented) menuju kepemimpinan berbasis pengabdian (service-oriented).
“Kami ingin melatih generasi muda agar mampu membayangkan masa depan bangsa dalam kerangka global, tanpa kehilangan pijakan etis dan identitas kebangsaannya. Melalui hadirnya Chapter Persia, para peserta dapat membedah dinamika geopolitik secara langsung dan belajar menjadi jembatan diplomasi yang membawa kemaslahatan luas,” pungkasnya.



