TEHERAN — Sekolah Negarawan memandang sejarah bukan sekadar catatan tentang masa lalu, melainkan laboratorium untuk memahami bagaimana sebuah bangsa mengambil keputusan dan menghadapi perubahan. Sejarah menyimpan berbagai pengalaman yang dapat membantu seorang pemimpin membaca sebab munculnya suatu persoalan. Dengan memahami proses tersebut, seorang pemimpin dapat mengambil pelajaran yang lebih matang ketika menghadapi tantangan pada masa kini dan masa depan.
Pandangan tersebut menjadi salah satu refleksi delegasi Sekolah Negarawan setelah mengikuti Gala Dinner konferensi di Teheran. Forum tersebut mempertemukan ulama dan intelektual dari berbagai negara dalam suasana pertukaran gagasan dan pengalaman. Bagi delegasi, pertemuan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran mengenai kepemimpinan, sejarah, dan cara sebuah bangsa memahami perubahan dunia.
Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra PhD mengatakan bahwa pendidikan seorang negarawan harus membiasakan calon pemimpin membaca persoalan secara mendalam. Seorang pemimpin tidak cukup hanya bertanya mengenai apa yang sedang terjadi. Ia juga harus mampu mencari tahu mengapa suatu peristiwa terjadi dan apa kemungkinan yang muncul setelahnya.
Pertanyaan tersebut membutuhkan ilmu sekaligus perspektif sejarah. Ilmu membantu seorang pemimpin menguji informasi dan memahami hubungan sebab akibat secara rasional. Sementara sejarah memberikan gambaran mengenai proses panjang yang membentuk keadaan pada masa kini.
Dalam pembahasan mengenai kepemimpinan Iran, sejarah menjadi salah satu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari cara memahami perjalanan dan perkembangan negara tersebut. Iran memiliki pengalaman sejarah yang panjang, termasuk berbagai perubahan, konflik, tekanan dari luar, serta proses pembangunan institusi negara. Berbagai pengalaman tersebut turut membentuk cara masyarakat dan pemimpinnya memahami lingkungan di sekitarnya.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menarik untuk dipelajari karena setiap bangsa memiliki perjalanan yang berbeda dalam membangun cara pandang terhadap dunia. Sebuah keputusan yang diambil suatu negara tidak selalu dapat dipahami hanya dengan melihat peristiwa yang terjadi pada saat keputusan tersebut dibuat. Latar belakang sejarah sering kali menjadi kunci untuk memahami alasan di balik pilihan yang diambil.
Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs Abdullah Assegaf turut mendampingi rangkaian agenda pembelajaran dan diplomasi Sekolah Negarawan selama berada di Iran. Melalui berbagai pertemuan, delegasi berusaha melihat hubungan antara sejarah, pendidikan, kebijakan, dan kehidupan masyarakat. Pendekatan tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai pentingnya memahami sebuah negara dari berbagai sisi.
Sejarah Indonesia sebagai Sumber Pembelajaran
Pendekatan tersebut juga memiliki relevansi bagi Indonesia. Indonesia memiliki pengalaman sejarah yang panjang dan khas, mulai dari keberagaman masyarakat, pengalaman penjajahan, perjuangan kemerdekaan, hingga proses membangun negara setelah merdeka. Seluruh pengalaman tersebut ikut membentuk karakter kehidupan berbangsa dan cara Indonesia menghadapi berbagai perubahan.
Karena itu, sejarah Indonesia juga harus menjadi sumber pembelajaran bagi calon pemimpin. Seorang pemimpin Indonesia perlu memahami mengapa persatuan menjadi sangat penting, bagaimana negara dibangun, serta bagaimana pengalaman masa lalu memengaruhi cara bangsa ini menghadapi tantangan. Pemahaman tersebut diperlukan agar keputusan yang diambil tidak terlepas dari akar sejarah bangsa.
Namun, sejarah tidak boleh hanya menjadi ruang untuk mengenang masa lalu. Sejarah harus digunakan untuk memahami proses, menemukan pelajaran, dan membaca kemungkinan yang dapat terjadi pada masa mendatang. Dengan cara tersebut, sejarah dapat berfungsi sebagai laboratorium yang membantu seorang pemimpin menguji berbagai pilihan sebelum mengambil keputusan.
Ilmu kemudian memiliki peran untuk menguji apakah pelajaran dari masa lalu masih relevan dengan persoalan masa kini. Seorang pemimpin perlu membedakan antara nilai yang harus dipertahankan dan cara lama yang mungkin sudah tidak sesuai dengan perubahan zaman. Kemampuan tersebut membuat sejarah tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berubah menjadi sumber kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Membaca Masa Lalu dan Masa Depan
Di sinilah kemampuan membaca dunia menjadi penting bagi seorang negarawan. Seorang pemimpin harus mampu memahami perubahan global tanpa kehilangan akar sejarah bangsanya. Ia perlu terbuka terhadap perkembangan ilmu, teknologi, ekonomi, dan hubungan antarnegara, tetapi tetap memiliki kemampuan menentukan arah berdasarkan nilai serta pengalaman bangsa sendiri.
Bagi Sekolah Negarawan, kombinasi antara ilmu, sejarah, dan wawasan global merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter seorang negarawan. Ketiganya membantu pemimpin memahami dari mana bangsanya berasal, bagaimana keadaan saat ini terbentuk, dan ke mana perubahan dunia sedang bergerak. Dengan bekal tersebut, seorang pemimpin diharapkan tidak sekadar bereaksi terhadap keadaan, tetapi mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan.
Pemimpin yang memahami masa lalu tetapi tidak mampu membaca masa depan akan kesulitan menghadapi perubahan. Sebaliknya, pemimpin yang hanya mengejar masa depan tanpa memahami sejarah dapat kehilangan arah dan identitas. Karena itu, seorang negarawan harus mampu berdiri di antara keduanya dengan menjadikan sejarah sebagai pelajaran dan masa depan sebagai arah perjuangan.
Dari Teheran, pelajaran tersebut menjadi bagian dari refleksi Sekolah Negarawan bahwa kepemimpinan membutuhkan kemampuan membaca waktu secara utuh. Masa lalu memberikan akar, masa kini memberikan ruang untuk bertindak, dan masa depan memberikan tujuan yang harus dipersiapkan. Seorang pemimpin yang mampu menghubungkan ketiganya akan memiliki perspektif yang lebih matang dalam menentukan arah perjalanan bangsanya.



