TEHERAN — Delegasi Sekolah Negarawan melihat salah satu pelajaran penting dari pengalaman kepemimpinan Iran adalah kuatnya hubungan antara ilmu, nilai, dan keteladanan pemimpin. Perspektif tersebut muncul setelah delegasi mengikuti Gala Dinner konferensi yang mempertemukan ulama dan intelektual dari berbagai negara di Teheran. Forum tersebut menjadi ruang bagi delegasi untuk melihat bagaimana pengalaman sejarah Iran dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai kepemimpinan dan kehidupan berbangsa.
Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra PhD mengatakan, pembahasan mengenai Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei memberikan bahan refleksi mengenai bagaimana seorang pemimpin mempersiapkan diri menghadapi persoalan yang terus berubah. Kepemimpinan tidak cukup hanya mengandalkan kewenangan formal yang melekat pada jabatan. Seorang pemimpin juga membutuhkan kapasitas untuk memahami persoalan, kedalaman nilai dalam menentukan sikap, serta keteladanan personal untuk membangun kepercayaan masyarakat.
Pengalaman Imam Khomeini menjadi salah satu contoh yang banyak dibicarakan dalam forum tersebut. Latar belakangnya sebagai ulama membuat perjalanan kepemimpinannya tidak dapat dilepaskan dari tradisi keilmuan dan keagamaan. Dalam perkembangannya, pemikiran tersebut kemudian berhadapan dengan berbagai persoalan sosial yang kompleks dan membutuhkan kemampuan membaca keadaan secara mendalam.
Sementara itu, Imam Ali Khamenei dipaparkan sebagai figur yang menghadapi tantangan berbeda dalam perjalanan kepemimpinannya. Perubahan lingkungan internasional, perkembangan teknologi, persoalan ekonomi, serta dinamika kawasan menjadi bagian dari tantangan yang membutuhkan kemampuan adaptasi. Perbedaan tantangan tersebut menunjukkan bahwa seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan untuk mempertahankan nilai dasar sekaligus menyesuaikan cara menghadapi persoalan.

Foto: Ruang baca Imam Khomeini
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa nilai dasar dan metode menghadapi persoalan merupakan dua hal yang dapat berjalan secara beriringan. Nilai yang menjadi pegangan seorang pemimpin perlu dipertahankan agar arah kepemimpinan tetap memiliki dasar yang kuat. Pada saat yang sama, cara menerapkan nilai tersebut harus mampu menyesuaikan perkembangan masyarakat dan perubahan zaman.
Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs Abdullah Assegaf turut mendalami berbagai perspektif yang muncul selama rangkaian kunjungan di Iran. Berbagai pertemuan dan diskusi menjadi bagian dari proses memperluas wawasan mengenai sejarah, pendidikan, kebudayaan, serta pengalaman kepemimpinan di negara tersebut. Pengalaman langsung tersebut diharapkan dapat memperkaya bahan pembelajaran bagi Sekolah Negarawan.
Pembelajaran tersebut kemudian dikaitkan dengan konteks Indonesia. Indonesia memiliki sejarah, sistem kenegaraan, tradisi sosial, dan karakter masyarakat yang berbeda dengan Iran. Karena itu, pengalaman Iran tidak diposisikan sebagai formula yang dapat diterapkan begitu saja di Indonesia, melainkan sebagai sumber pembelajaran untuk memahami prinsip-prinsip yang dapat dipertimbangkan sesuai dengan konteks bangsa sendiri.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana seorang pemimpin membangun kapasitas dirinya. Bagaimana ilmu diterjemahkan menjadi keputusan yang memberikan manfaat bagi masyarakat, bagaimana keteladanan pribadi memengaruhi kepercayaan, dan bagaimana seorang pemimpin membaca perubahan sejarah juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi ruang refleksi bagi Sekolah Negarawan dalam memahami makna kepemimpinan secara lebih luas.
Dengan demikian, pembahasan mengenai Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei tidak berhenti pada pengenalan dua tokoh penting dalam sejarah Iran. Bagi Sekolah Negarawan, keduanya menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan antara kepemimpinan, ilmu, nilai, dan perjalanan sebuah peradaban. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kualitas seorang pemimpin tidak hanya dapat dilihat dari kewenangan yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan memberikan arah dan keteladanan.
Pemimpin yang kuat bukan hanya pemimpin yang mampu mengendalikan keadaan. Ia juga harus mampu membaca keadaan, menjelaskan arah perubahan, serta membangun manusia yang akan melanjutkan perjalanan setelah dirinya. Perspektif inilah yang dibawa Sekolah Negarawan dalam mempelajari pengalaman Iran, yaitu mencari pelajaran universal tanpa mengabaikan perbedaan sejarah, karakter, dan sistem masing-masing negara.



