TEHERAN — Salah satu pelajaran yang menarik perhatian delegasi Sekolah Negarawan dalam Gala Dinner rangkaian konferensi di Teheran adalah bagaimana kesyahidan ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan sejarah dan keteladanan. Dalam berbagai paparan yang disampaikan, kisah pengorbanan tidak hanya dimaknai sebagai upaya mengenang masa lalu. Kisah tersebut juga dipandang sebagai sarana untuk membentuk karakter, memperkuat nilai kehidupan, dan memberikan inspirasi bagi generasi masa kini.
Delegasi Sekolah Negarawan yang hadir terdiri atas Direktur Prayogi R. Saputra, PhD, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta Direktur International Affairs Abdullah Assegaf. Mereka melihat gagasan mengenai kesyahidan sebagai bagian dari pembelajaran kepemimpinan yang memiliki relevansi luas. Pengalaman sejarah dapat menjadi sumber pendidikan apabila masyarakat mampu menemukan nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejarah akan kehilangan sebagian maknanya apabila hanya ditempatkan sebagai rangkaian peristiwa masa lampau. Sebaliknya, sejarah dapat menjadi ruang pembelajaran ketika manusia mampu memahami pesan yang terkandung di dalamnya. Dalam konteks kesyahidan, nilai yang dapat dipelajari antara lain keberanian menghadapi kesulitan, kesetiaan terhadap prinsip, kesediaan berkorban, serta kemampuan mempertahankan martabat dalam situasi yang penuh tantangan.
Namun, nilai keteladanan tidak cukup hanya dikenang melalui cerita. Nilai tersebut perlu diwariskan melalui pendidikan, kebudayaan, penelitian, dan praktik sosial agar dapat dipahami oleh generasi berikutnya. Dengan cara tersebut, masyarakat tidak hanya mengenal nama seorang tokoh, tetapi juga memahami alasan mengapa perjuangan dan nilai yang dibawanya tetap dianggap penting.
Perspektif inilah yang menjadi perhatian Sekolah Negarawan dalam membaca makna kesyahidan. Bagi Prayogi R. Saputra, PhD, pendidikan kepemimpinan perlu mengajarkan hubungan antara gagasan, tindakan, dan tanggung jawab. Kepemimpinan bukan hanya mengenai kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga kesediaan mempertanggungjawabkan keputusan tersebut melalui nilai yang diwariskan kepada masyarakat.
Dalam forum yang mempertemukan peserta dari berbagai negara tersebut, kesyahidan juga menjadi pintu masuk untuk membicarakan persatuan. Ketika sebuah masyarakat memiliki pengalaman sejarah yang kuat, pengalaman tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian bersama. Sejarah dapat menjadi energi positif apabila dipahami sebagai sarana membangun nilai kemanusiaan.
Namun, energi sejarah membutuhkan arah yang tepat. Ingatan terhadap peristiwa masa lalu perlu dikelola secara bijaksana agar tidak berubah menjadi sumber perpecahan. Sebaliknya, apabila diarahkan kepada pendidikan, keteladanan, dan pembangunan masyarakat, sejarah dapat menjadi sumber kekuatan moral yang memperkuat kehidupan bersama.
Karena itu, pelajaran yang dibawa pulang delegasi Sekolah Negarawan dari Teheran bukan hanya mengenai bagaimana masyarakat tertentu memahami kesyahidan. Lebih luas dari itu, mereka memperoleh perspektif tentang bagaimana sebuah bangsa dapat menggunakan pengalaman sejarah untuk membangun karakter, memperkuat nilai kebersamaan, dan menjaga ketahanan sosial.
Pada akhirnya, kesyahidan dapat dibaca bukan hanya sebagai kisah mengenai masa lalu, tetapi juga sebagai pertanyaan tentang masa depan. Pertanyaannya adalah nilai apa yang akan diwariskan kepada generasi yang belum lahir. Dari refleksi tersebut, Sekolah Negarawan melihat bahwa keteladanan menjadi salah satu warisan terbesar yang dapat diberikan seseorang kepada masyarakat dan generasi berikutnya.



