ISFAHAN — Kunjungan Tim Sekolah Negarawan ke unit usaha Universitas Islam Azad Isfahan (Khorasgan) memberikan pelajaran yang lebih luas dari sekadar proses produksi rempah dan makanan ringan. Di balik aktivitas bisnis tersebut terdapat model yang menghubungkan kegiatan komersial dengan riset, teknologi, dan inovasi. Pola ini menunjukkan bagaimana aktivitas usaha dapat menjadi salah satu sumber pendukung bagi keberlanjutan pengembangan pengetahuan.
Unit usaha yang memproduksi bumbu dan makanan ringan tersebut menjalankan kegiatan komersial dengan tujuan menghasilkan pendapatan secara mandiri. Pendapatan yang diperoleh digunakan untuk menopang operasional sekaligus mendukung pengembangan teknologi dan penelitian. Dengan demikian, kegiatan bisnis tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari ekosistem inovasi yang dikembangkan universitas.
Pengelola fasilitas menjelaskan bahwa mereka berupaya agar kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi tidak sepenuhnya bergantung pada pendanaan dari universitas. Aktivitas komersial diharapkan mampu menghasilkan arus pendapatan yang dapat digunakan kembali untuk mendukung kebutuhan pengembangan. Pendekatan tersebut menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Tim Sekolah Negarawan.
Secara sederhana, model tersebut membentuk sebuah siklus. Produk menghasilkan pendapatan, pendapatan mendukung riset, riset menghasilkan inovasi, dan inovasi kemudian memperkuat produk yang ditawarkan kepada pasar. Siklus tersebut memungkinkan kegiatan bisnis dan pengembangan pengetahuan saling mendukung secara berkelanjutan.

Model seperti ini menjadi menarik ketika diterapkan dalam lingkungan perguruan tinggi. Universitas tidak hanya berperan sebagai tempat pendidikan dan penelitian, tetapi juga dapat memiliki unit produktif yang menghasilkan pendapatan. Hasil dari aktivitas tersebut kemudian dapat digunakan kembali untuk memperkuat kapasitas riset dan inovasi.
Dalam industri seasoning, misalnya, pengetahuan diterapkan secara langsung dalam berbagai tahapan produksi. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses penggilingan, pencampuran, penyusunan formulasi, pengujian, hingga pengembangan produk dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan standar tertentu. Proses tersebut memperlihatkan bagaimana pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Unit usaha tersebut juga mengembangkan berbagai formulasi bumbu sesuai kebutuhan pelanggan. Beberapa di antaranya merupakan campuran rempah dengan karakter tertentu, termasuk bumbu untuk olahan ayam, daging, dan berbagai jenis masakan. Pelanggan dapat menyampaikan kebutuhan atau memberikan sampel, kemudian tim pengembang menyusun formulasi dan menghasilkan produk percobaan untuk mendapatkan persetujuan.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan pasar dapat menjadi salah satu sumber munculnya ide penelitian dan pengembangan. Persoalan yang dihadapi konsumen diterjemahkan menjadi kebutuhan formulasi, kemudian dikembangkan melalui proses pengujian sebelum diproduksi dalam skala lebih besar. Hubungan antara pasar dan riset pun menjadi lebih langsung.
Pengendalian bahan baku juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Sejumlah rempah diperoleh dalam bentuk yang lebih utuh sebelum digiling sendiri di fasilitas produksi. Langkah ini memungkinkan perusahaan memiliki kontrol yang lebih besar terhadap kualitas dan keaslian bahan.
Kesegaran bahan juga menjadi perhatian dalam proses produksi. Bahan yang telah digiling tidak diupayakan untuk disimpan terlalu lama dan proses penggilingan dilakukan mendekati waktu produksi. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa inovasi juga dapat hadir melalui upaya memperbaiki proses yang terlihat sederhana tetapi memiliki dampak terhadap kualitas produk.
Bagi Tim Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut memberikan refleksi mengenai bagaimana perguruan tinggi dapat membangun ekosistem inovasi yang lebih mandiri. Riset tidak berhenti sebagai laporan atau publikasi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi produk dan layanan yang memiliki nilai ekonomi. Pada saat yang sama, nilai ekonomi yang dihasilkan dapat dikembalikan untuk memperkuat riset, teknologi, sumber daya manusia, dan fasilitas produksi.
Dengan demikian, kemandirian inovasi dapat dibangun melalui hubungan yang saling menguatkan antara pengetahuan dan kegiatan usaha. Universitas menghasilkan pengetahuan, bisnis menerapkan pengetahuan tersebut, dan hasil ekonomi dari penerapannya dapat digunakan kembali untuk mengembangkan pengetahuan baru. Siklus inilah yang menjadi salah satu pelajaran menarik bagi Sekolah Negarawan dari kunjungan ke Universitas Islam Azad Isfahan.



