QOM, IRAN — Ada tempat-tempat yang sejarahnya tidak cukup dibaca dari tanggal dan nama tokoh. Sejarahnya harus dibaca dari ruang yang pernah menjadi tempat manusia berkumpul, belajar, berdoa, berdiskusi, dan membangun keyakinan bersama. Kompleks makam Sayyidah Fatimah Ma’sumah di Qom adalah salah satunya.
Di tempat ini, spiritualitas tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan. Selama berabad-abad, kawasan makam Sayyidah Ma’sumah berkembang berdampingan dengan tradisi keilmuan dan kehidupan sosial masyarakat Qom. Dalam sejarah Iran modern, lingkungan tersebut kemudian menjadi salah satu ruang yang penting dalam pembentukan kesadaran yang melahirkan gerakan Revolusi Islam.
Perspektif inilah yang menjadi salah satu hal menarik bagi Tim Sekolah Negarawan ketika mengunjungi kompleks makam Sayyidah Fatimah Ma’sumah. Rombongan disambut oleh Kantor Urusan Internasional kompleks tersebut. Pertemuan berlangsung dalam suasana ramah tamah dan dilanjutkan dengan pertukaran pandangan mengenai kebudayaan Islam.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat bahwa sebuah situs keagamaan dapat memiliki dimensi sejarah yang jauh lebih luas daripada fungsi ritualnya.
Makam yang menjadi pusat kehidupan masyarakat
Makam Sayyidah Fatimah Ma’sumah memiliki kedudukan khusus dalam tradisi Syiah Imamiyah. Fatimah Ma’sumah merupakan putri Imam Musa al-Kazhim dan saudara perempuan Imam Ali al-Ridha, Imam kedelapan dalam tradisi Syiah Imamiyah.
Setelah wafat di Qom pada abad ke-9, makamnya berkembang menjadi salah satu pusat ziarah terpenting di Iran.
Namun perkembangan Qom tidak hanya menjadikan kota ini sebagai tujuan ziarah. Di sekeliling makam tumbuh institusi pendidikan agama dan jaringan ulama yang menjadikan kota tersebut sebagai pusat keilmuan Syiah.
Hubungan antara ziarah dan ilmu pengetahuan menjadi karakter penting Qom.
Masyarakat datang untuk berziarah, sementara para pelajar datang untuk menuntut ilmu. Ulama mengajar, masyarakat berdiskusi, dan berbagai jaringan sosial bertemu dalam ruang yang sama.
Dalam kondisi seperti itu, agama memiliki posisi yang sangat kuat dalam kehidupan publik.
Dan justru di sinilah letak salah satu kunci untuk memahami mengapa Qom kemudian menjadi salah satu pusat Revolusi Islam Iran.
Khomeini: dari guru menjadi pemimpin revolusi

Jauh sebelum menjadi pemimpin revolusi, Imam Ruhollah Khomeini dikenal sebagai seorang ulama dan pengajar di Qom.
Khomeini mengajar di lingkungan madrasah yang berada di sekitar kompleks Sayyidah Ma’sumah, termasuk Madrasah Feyziyeh. Ia mengajarkan fikih, filsafat dan kajian keislaman kepada para pelajar agama.
Pengajaran tersebut kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.
Khomeini tidak hanya membahas persoalan hukum agama, tetapi juga hubungan antara Islam dan kehidupan masyarakat. Kritiknya terhadap kebijakan pemerintahan Shah semakin lama semakin terbuka.
Feyziyeh kemudian menjadi salah satu panggung penting dalam konfrontasi tersebut.
Pada 1963, ketika pemerintah Shah menjalankan program yang dikenal sebagai White Revolution, Khomeini tampil sebagai salah satu penentang paling keras. Pidatonya di Feyziyeh pada peringatan Asyura pada Juni 1963 menjadi salah satu momen penting dalam sejarah gerakan oposisi terhadap Shah.
Penangkapan Khomeini setelah pidato tersebut memicu demonstrasi besar yang dikenal sebagai gerakan 15 Khordad. Dari sinilah terlihat bahwa revolusi tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari proses panjang ketika pendidikan agama bertemu dengan kritik sosial dan politik.
Ketika tempat suci menjadi pusat mobilisasi
Salah satu peristiwa paling penting terjadi pada awal 1978. Setelah sebuah artikel di surat kabar Ettela’at menyerang Khomeini, masyarakat Qom melakukan demonstrasi pada 9 Januari 1978. Ribuan orang berkumpul di sekitar kompleks makam Sayyidah Ma’sumah. Aparat kemudian melakukan tindakan represif terhadap demonstran.
Peristiwa Qom tersebut memiliki efek yang jauh lebih luas daripada sekadar demonstrasi lokal. Dalam tradisi Syiah, kematian seseorang diperingati kembali setelah empat puluh hari. Ketika masyarakat di kota lain menggelar peringatan bagi korban Qom, demonstrasi baru kembali terjadi. Demonstrasi tersebut kemudian menghasilkan korban baru.
Empat puluh hari kemudian, muncul kembali aksi peringatan. Siklus tersebut terus bergerak dari satu kota ke kota lainnya dan ikut memperbesar gelombang protes terhadap pemerintahan Shah.
Dengan demikian, Qom menjadi salah satu pemicu penting dari rangkaian mobilisasi yang pada akhirnya berkembang menjadi revolusi pada 1978–1979. Kompleks Sayyidah Ma’sumah berada di tengah episode sejarah tersebut.
Karena itu, tempat ini memiliki arti simbolik yang kuat: ruang spiritual dapat berubah menjadi ruang konsolidasi sosial ketika masyarakat merasa nilai yang mereka yakini sedang terancam.
Spiritualitas sebagai sumber legitimasi sosial
Ada pelajaran politik yang menarik dari sejarah tersebut. Kekuatan gerakan revolusioner Khomeini tidak hanya berasal dari kemampuan mengorganisasi demonstrasi. Ia juga berasal dari legitimasi sosial yang dibangun melalui institusi keagamaan.
Masyarakat sudah memiliki hubungan emosional dengan ulama, masjid, madrasah dan tempat-tempat suci. Jaringan tersebut menjadi modal sosial.
Ketika sebuah pesan politik disampaikan melalui jaringan yang telah dipercaya masyarakat, pesan tersebut dapat bergerak jauh lebih cepat dibandingkan jika harus membangun organisasi dari nol.
Dalam konteks Iran, kompleks Sayyidah Ma’sumah dan lingkungan pendidikan Qom merupakan bagian dari ekosistem tersebut. Di sinilah spiritualitas memiliki dimensi politik yang sangat khas.
Bukan berarti setiap aktivitas keagamaan otomatis menjadi politik. Tetapi ketika institusi keagamaan memiliki hubungan yang kuat dengan masyarakat, ia dapat menjadi ruang tempat persoalan sosial dan politik dibicarakan dan dimobilisasi.
Dari revolusi menuju pendidikan
Ada satu dimensi lain yang menarik untuk diperhatikan: pendidikan.
Sebelum revolusi, madrasah-madrasah Qom merupakan pusat pendidikan ulama dan pelajar agama. Setelah revolusi, tradisi pendidikan keagamaan tersebut tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sosial Iran.
Bahkan sejumlah bangunan yang sebelumnya telah menjadi bagian dari jaringan pendidikan keagamaan kemudian memperoleh fungsi dalam sistem pendidikan pascarevolusi.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa revolusi tidak hanya mengubah pemerintahan. Ia juga berusaha membangun kembali institusi sosial berdasarkan visi baru tentang hubungan antara agama, masyarakat dan negara. Dalam konteks ini, madrasah memiliki arti strategis. Ia merupakan tempat kaderisasi, produksi pengetahuan, sekaligus transmisi nilai.
Karena itu, jika kompleks Sayyidah Ma’sumah dipahami hanya sebagai makam, maka sebagian besar sejarah sosialnya akan hilang. Makam adalah pusat spiritualnya. Madrasah adalah pusat intelektualnya. Masyarakat adalah kekuatan sosialnya. Dan ketiganya bertemu dalam sejarah revolusi.
Apa yang dapat dipelajari Sekolah Negarawan?
Kunjungan Sekolah Negarawan ke kompleks Sayyidah Ma’sumah bukan berarti harus melihat sejarah Iran sebagai model yang harus ditiru. Justru yang lebih penting adalah membaca mekanisme sejarahnya.
Bagaimana sebuah masyarakat membangun kepercayaan? Bagaimana institusi keagamaan membangun hubungan dengan masyarakat? Bagaimana pendidikan membentuk kepemimpinan? Dan bagaimana nilai-nilai spiritual dapat memperoleh relevansi dalam kehidupan publik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut relevan bagi pendidikan kepemimpinan di mana pun.
Seorang negarawan tidak hanya membutuhkan kemampuan membaca angka, kebijakan dan institusi negara. Ia juga harus mampu memahami sumber legitimasi sosial dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Qom memberikan contoh yang menarik.
Kekuatan sebuah kota tidak hanya berasal dari gedung pemerintahannya. Kekuatan itu dapat berasal dari lembaga pendidikan, tempat ibadah, tokoh masyarakat, tradisi dan jaringan sosial yang telah dibangun selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Memahami revolusi dari pusat spiritualnya
Kunjungan Tim Sekolah Negarawan ke kompleks Sayyidah Ma’sumah akhirnya menjadi perjalanan untuk memahami sejarah dari dekat.
Rombongan tidak hanya melihat sebuah tempat suci. Mereka memasuki salah satu ruang yang memiliki hubungan erat dengan sejarah keilmuan, sosial dan politik Iran.
Pertemuan dengan Kantor Urusan Internasional, ramah tamah, serta pertukaran pandangan mengenai kebudayaan Islam menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Dari Qom, terlihat bahwa revolusi bukan sekadar peristiwa politik yang terjadi pada 1979.
Ia merupakan hasil dari proses panjang. Ada ulama yang mengajar. Ada murid yang belajar. Ada masyarakat yang berkumpul. Ada tempat suci yang menjadi titik pertemuan. Ada gagasan yang berulang kali disampaikan. Dan ada jaringan sosial yang perlahan membentuk kesadaran bersama.
Pada akhirnya, kompleks makam Sayyidah Fatimah Ma’sumah menjadi salah satu simbol penting dari perjalanan tersebut. Ia mengingatkan bahwa dalam sejarah sebuah bangsa, pusat spiritual terkadang dapat menjadi pusat pembentukan kesadaran sosial. Dari kesadaran itulah perubahan politik dapat menemukan jalannya.
Bagi Sekolah Negarawan, perjalanan ke Qom bukan hanya perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan untuk memahami bagaimana spiritualitas, pendidikan, masyarakat dan kepemimpinan dapat bertemu dan membentuk sebuah babak besar dalam sejarah sebuah bangsa.



