By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Monday, 29 June 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Apakah Sistem Demokrasi dan Presidensial Menjadi Akar Masalah Indonesia?
Pemerintah

Apakah Sistem Demokrasi dan Presidensial Menjadi Akar Masalah Indonesia?

Diajeng Maharini
Last updated: June 26, 2026 10:21 am
By Diajeng Maharini
Share
4 Min Read
SHARE

beritax.id – Selama ini demokrasi di Indonesia dipahami hanya sebatas pemilu dan suara terbanyak. Siapa yang menang suara, dialah yang memegang kekuasaan. Padahal demokrasi Indonesia dalam Pancasila tidak dibangun hanya atas logika mayoritas, tetapi atas musyawarah dan hikmat kebijaksanaan.

Contents
MPR Seharusnya Menjadi Ruang Penyaringan NegaraSistem Presidensial Membuat Kekuasaan Terlalu TerpusatBeban Kebijakan Mulai Dirasakan RakyatNegara Kuat Ditentukan oleh Desainnya

Masalahnya, sistem hari ini membuat rakyat sebenarnya hanya memilih dari kandidat yang sudah disiapkan partai politik, pemilik modal, dan mesin pencitraan. Akibatnya, penentuan pemimpin lebih banyak dipengaruhi popularitas, logistik, dan citra dibanding kualitas kenegarawanan.

Biaya pemilu yang sangat mahal membuat banyak calon bergantung pada dukungan dana besar. Partai politik pun akhirnya lebih sibuk menjaga kekuatan dan jaringan dibanding menyiapkan negarawan. Rakyat tetap memilih, tetapi pilihan yang tersedia sering sudah dibentuk sejak awal oleh kepentingan elite.

Karena itu, demokrasi Indonesia perlahan kehilangan ruh musyawarahnya dan berubah menjadi sekadar kompetisi suara.

MPR Seharusnya Menjadi Ruang Penyaringan Negara

Dalam konsep Pancasila, seharusnya ada proses penjernihan sebelum rakyat memilih. Di sinilah fungsi MPR menjadi penting, bukan sekadar lembaga formal, tetapi ruang musyawarah untuk menyaring kualitas calon pemimpin.

Partai politik tetap dapat mengajukan calon, tetapi sebelum masuk pemilu mereka harus melewati proses evaluasi kenegarawanan. Yang dipisahkan bukan siapa yang populer, melainkan siapa yang benar-benar layak memimpin negara.

You Might Also Like

2 Eks Dirjen Migas Diperiksa Kejagung! Partai X: Bongkar Kasus, Lindungi Hak Rakyat atas Energi!
Mentan Usul Tambah Anggaran, Pemulihan Pertanian Harus Jadi Prioritas!
Prabowo Cabut Izin Tambang, Partai X: Tegas ke Bawah, Tapi Kapan Sentuh Pemilik Besarnya?
Menjadi Bangsa yang Menempatkan Rakyat sebagai Pemilik Kekuasaan

Dengan cara ini, rakyat tetap berdaulat melalui pemilu langsung, tetapi tidak dibiarkan memilih tanpa filter kualitas.

Agar tidak dikuasai kepentingan jangka pendek, MPR idealnya diisi unsur penjaga nilai bangsa seperti intelektual, rohaniawan, budayawan, serta TNI dan Polri. Mereka hadir untuk menjaga arah bangsa, moral, dan identitas negara.

Sistem Presidensial Membuat Kekuasaan Terlalu Terpusat

Masalah kedua ada pada sistem presidensial. Di Indonesia, Presiden memegang dua fungsi sekaligus, yaitu kepala negara dan kepala pemerintahan.

Akibatnya kekuasaan terlalu terpusat pada satu figur. Negara mudah diidentikkan dengan Presiden. Kritik terhadap kebijakan sering dianggap serangan terhadap negara, sementara loyalitas kepada penguasa sering disamakan dengan nasionalisme.

Padahal banyak negara maju justru memisahkan dua fungsi ini. Jerman, Prancis, Denmark, Swedia, Belanda, hingga Inggris memisahkan simbol negara dan pengelola pemerintahan agar ada keseimbangan dan negara tidak bergantung pada satu figur.

Indonesia justru menggabungkan demokrasi tanpa musyawarah dan presidensial tanpa pemisahan fungsi kekuasaan. Hasilnya, sistem terlihat berjalan tetapi menyimpan ketegangan besar di dalamnya.

Beban Kebijakan Mulai Dirasakan Rakyat

Situasi ini mulai terlihat dalam praktik pemerintahan Prabowo Subianto. Program besar seperti Makan Bergizi Gratis, hilirisasi, pembangunan strategis, dan peningkatan anggaran pertahanan membutuhkan dana negara yang sangat besar.

Sementara itu tekanan terhadap APBN terus meningkat. Reuters pada 2025 melaporkan defisit anggaran 2026 diperkirakan mendekati 2,68% PDB, mendekati batas disiplin fiskal nasional. Pemerintah juga mulai mendorong efisiensi anggaran di berbagai sektor.

Di masyarakat mulai muncul kekhawatiran terhadap tekanan ekonomi seperti kenaikan harga energi, pembatasan subsidi, meningkatnya pajak, dan melemahnya daya beli kelas menengah.

Dalam sistem yang terlalu terpusat, keputusan besar bisa diambil sangat cepat, tetapi dampaknya langsung ditanggung rakyat luas. Ketika kritik muncul, negara sering kesulitan membedakan kritik terhadap pemerintah dan kritik terhadap negara.

Negara Kuat Ditentukan oleh Desainnya

Masalah Indonesia sebenarnya bukan hanya soal siapa Presidennya. Masalah utamanya ada pada desain sistemnya.

Demokrasi kehilangan musyawarah. Kekuasaan terlalu terpusat. Negara menjadi sangat bergantung pada figur.

Padahal negara kuat bukan negara yang sesekali memiliki pemimpin hebat. Negara kuat adalah negara yang memiliki desain yang benar.

Karena itu, Indonesia perlu kembali pada ruh Pancasila, yaitu demokrasi yang bertumpu pada musyawarah dan hikmat kebijaksanaan, serta pembagian kekuasaan yang sehat agar negara berjalan sebagai sistem, bukan bergantung pada satu orang.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Saham Rakyat Jadi Saham Pemerintah, Kedaulatan Publik Menyusut
Next Article Biaya Rawat Gedung IKN Rp485 M, Ingatkan Jangan Lupa Prioritaskan Kesejahteraan Rakyat

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Berita TerkiniPemerintah

Pemerintah Indonesia Gagal Melahirkan Keadilan?

July 8, 2025
Pemerintah

Patronase yang Menjerat: Membongkar Jaringan yang Memperkuat Ketidakadilan dalam Pemerintahan

March 17, 2026
Pemerintah

Krisis Moral Aparatur Pajak: Tersangka Korupsi Pajak Menambah Daftar Hitam Pegawai Pajak!

February 6, 2026
Pemerintah

APBN Buat Jalan Tol & Wisata? Partai X: Rakyatnya Jalan Kaki, Turisnya Disambut Aspal Mewah!

April 15, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.